Diego Maradewa, June-Mop dan Universalisme

Bola-Bola Kultural, Prima Pustaka, 1993

Babak pertama Piala Dunia tahun 1990 dipenuhi oleh ironi, sementara babak kedua terasa kejam dan bak bumerang. Kenapa, misalnya, Brazil mesti berhadapan dengan Argentina? Kenapa terjadi tarung antartetangga antara Jerbar-Belanda? Kenapa N’Kono dan Hueguita tidak kita ‘kirim’ ke dua medan perang yang berbeda agar mereka masing-masing mewakili kepahlawanan Dunia Ketiga. Kenapa mereka harus duel face to face sehingga menyulitkan romantisme ‘kelas negara berkembang’ kita? Kenapa?

Karena, meskipun sepakbola adalah ‘suatu pertunjukan kesenian’, ia tetap merupakan pentas olahraga. Seorang sutradara teater bisa menentukan jalannya pentas dari A sampai Z dan merancang segala sesuatunya secara rinci, tapi tidak jelas siapa sutradara pertandingan sepakbola dan apa maunya. Kita bisa memasang pelatih untuk turut serta dalam proses penyutradaraan dengan FIFA sebagai impresariat, dan para wasit sebagai penata panggung, tetapi sekian faktor dalam pentas sepakbola kita pasrahkan kepada ‘sutradara’ entah siapa. Kehendak penyutradaraan si ‘sutradara’ ini pun terkadang baru jelas pada menit terakhir sebuah pertandingan.

Sebagai penonton kita tinggal manut dan penasaran. Kita menyaksikan ‘perang saudara’ Kolombia–Kamerun kalau kita pakai ‘sentimen kelas’; atau perang saudara Brazil–Argentina seandainya kita terapkan primordialisme benua, atau romantisme Utara-Selatan.

Ikut nelangsa menyaksikan Belanda lara lapa dengan Ruud Gullit yang kamitenggengen serta keseluruhan timnya yang susah untuk menemukan bentuk serta akurasinya. Beruntung Belanda lolos ke perdelapan final, tetapi harus bertemu dengan semacam trauma-Nazi dan mengharapkan suatu ‘June-Mop’.

Di masa Perang Dunia II, begitu para walondo itu terbebas dari cengkeraman Deutsche Uber Alles, pada 1 April 1990, mereka pun meledakkan kegembiraan dengan pesta dan ‘kebohongan’. Anda tentu ingat sampai pertengahan 70-an tradisi April-Mop itu kita pakai juga secara a-historis di Indonesia.

Kemudian, pasukan Beenhaker harus bertabrakan dengan kekokohan pasukan Jerbar yang disenopatii oleh Sang Kaisar berkepala dingin. Padahal di Piala Dunia 90 inilah pasukan Uber Alles mencapai titik kekuatan puncaknya. Bisakah Gullit memperoleh suatu June-Mop untuk suatu pesta dan ‘kebohongan’ baru?

Dan, apakah kesebelasan Argentina justru akan memperoleh motivasi berkat persaingan antartetangga? Sementara Brazil seolah-olah berdasarkan hukum jatah alam kini ‘berhak menagih’ untuk menjadi juara. Argentina jangan ‘latah’ untuk menjadi juara lagi. Maradona sudah menjadi ‘sangat juara’ selama ini. Si Bos itu sudah merupakan Diego Armando Maradewa. Dan ia tampaknya sedang ‘menjalani tugas’ tersendiri untuk kembali memanusiakan dirinya kembali, dan untuk itu diperlukan ‘fungsi tak menjadi juara’. Maradewa bintang di Napoli, justru pada konteks di mana ia mengangkat gengsi kelas masyarakat miskin di Italia Selatan. Ia mengangkat Argentina ke puncak pada 1986, justru dengan ‘tangan Tuhan’. Seperti ketika ia menyelamatkan timnya dengan ‘tangan setan’ ke gawang Soviet. Ia juga yang paling vokal menentang Havelange si bos FIFA. Pada Maradona, selalu bersamaan faktor kebintangan dengan ‘kerakyatan’, faktor kegemilangan dengan faktor kecurangan, serta faktor kedewaan dengan faktor kemanusiawian. Maka marilah kita beri kesempatan kepadanya pada Piala Dunia tahun 1990 ini untuk tidak menjadi sang Mahadewa, melainkan sekedar Maradona manusia biasa, yang memerlukan juga pengalaman kalah.

Pada akhirnya, dari riuh rendah persepakbolaan, yang paling abadi untuk dibela bukanlah tim ini atau tim itu, primordialisme ini atau itu, nasionalisme ini atau itu melainkan nilai universal. Yang selalu ditunggu adalah ‘bintang’, nuur, dan bukan Roberto Baggio, bukan Bebeto, Maradona atau Scifo.


(Dokumentasi Progress. Tulisan tergabung dalam buku Bola-Bola Kultural, Prima Pustaka, Yogyakarta, 1993, halaman 3-5)

Lainnya

Buku dan Merchandise