Dia Yang Menemani Para Pejalan Sunyi

Antri salaman di atas tanah lumpur. Foto: Hariadi.

Jauh sebelum Descartes menyampaikan diktumnya, Cogito ergo sum, yang menjadi salah satu roh renaissance masyarakat Barat hingga akhirnya mampu mendominasi wajah dunia saat ini, seseorang dari jazirah yang tandus, Muhammad Saw, menyampaikan “diktum langit” tentang pentingnya berpikir.

Iqro’! Bacalah! Renungilah! Analisislah! merupakan rangkaian kerja berpikir yang terbukti membawa pelaku dan pengikut ajarannya menata peradaban dunia. Namun, itu semua menjadi nostalgia karena saat ini kita yang mengaku pengikutnya malas meneladani laku iqra’ hingga akhirnya terjebak ke dalam kejumudan atau kebekuan berpikir.

Oleh karena itu, bisa dipahami sikap Mbah Nun yang mengajak kita agar menggunakan akal yang dikaruniakan Allah. Melalui berbagai forum Mbah Nun mendorong kita melakukan iqra’. Kemampuan memilah dan memilih mana primer, sekunder, dan tersier bukan hal sulit karena kita terbiasa mendayagunakan akal.

Bukan hanya itu, kerja berpikir ini mengatarkan kita lebih waspada mana yang tepat mana yang tidak, mana yang indah mana yang tidak.

Ketika materialisme menyingkirkan Tuhan dari gelanggang kehidupan manusia, Mbah Nun menghadirkan kesadaran akan keterlibatan Tuhan dalam setiap peristiwa.

Gaween utekmu iku loh rek, demikian anjuran Beliau. Tentu saja bukan otak dalam bingkai materialisme, melainkan berpikir dalam kerangka Bi-ismi-robbika-alladzii-kholaq. Dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakan.

Iqra’ adalah membaca, menganalisis, menelaah fakta, peristiwa, ayat yang terhampar dalam semesta, baik mikrokosmos maupun makrokosmos, yang semua itu merupakan gelaran pertunjukan dari Sang Maestro Agung, Tuhan Semesta Alam.

Belajar dari segala sesuatu memang akan merepotkan. Tapi itu dibutuhkan untuk mencapai perbuatan yang presisi dan akurat. Tentu setiap orang memiliki kadar kemampuan yang berbeda.

Sayangnya, kesadaran ini tidak dimiliki oleh sebagian besar manusia yang mengaku dirinya modern. Aktivitas dikerjakan secara mekanis seperti robot, tanpa berpikir apalagi memaknai.

Apakah ini diperintahkan, diizinkan, dilarang atau dibiarkan oleh Allah? Ataukah ia sebentuk istidroj?

Itu adalah koridor berpikir sederhana yang Mbah Nun sampaikan kepada lingkarannya sebagai panduan untuk memilah dan memilih serta mengeksekusi setiap tindakan. Tapi tentu saja koridor ini tidak mainstream, karena materialisme, sekali lagi, sadar atau tidak sadar, telah mencengkeram nalar berpikir sebagian besar kita.

Ukuran kebenarannya pun amat dipengaruhi perhitungan untung rugi secara materi. Maka ketika kita mencoba memakai koridor-koridor tersebut, bersiaplah untuk menempuh kesunyian sepanjang jalan dan menjadi terasing.

Ketika manusia kebanyakan berpikir jangka pendek, berpikir selangkah dua langkah, koridor berpikir tersebut adalah antitesisnya karena menjangkau alam akhirat. Tidak terbatas kepada kehidupan duniawi belaka.

Tentu saja Mbah Nun tidak pernah mengajak siapa pun untuk menempuh kesunyian jalan seperti yang dilakoninya. Tetapi, selayaknya kita meneladaninya sesuai kadar kemampuan masing-masing.

Lingkaran Maiyah adalah satuan budaya yang memang didesain dan dikondisikan untuk “tidak hidup bersama” dengan dunia umat manusia yang sedang berlangsung saat ini. Nilai-nilai yang dibangun serta tujuan sangkan paran-nya pun berlawanan secara ekstrem. Demikian papar Mbah Nun dalam salah satu tulisannya baru baru ini. Maka kesunyian sepanjang jalan menjadi sebuah keniscayaan bagi pelaku suluk Maiyah.

Namun, “Walaupun menempuh jalan sunyi, bukan berarti ia anti dunia dan karenanya menjadi sosok yang fatalistik dan tidak produktif,” tulis Franciscus Welirang dalam pengantarnya untuk buku Ian L. Betts tentang Jalan Sunyi yang ditempuh Mbah Nun.

“Mungkin tidak terutama bahwa ia menempuh jalan spiritual, tetapi amat manusiawi dan rasional, karena ia adalah sama sekali orang biasa, bukan nabi, yang bukan siapa siapa,” lanjut Franciscus Welirang. Hal ini sekaligus menjadi tantangan buat kita pelaku suluk Maiyah, apakah kita mampu untuk tetap produktif atau tidak? Apakah kita menafsirkan kesunyian sebagai tanpa produktivitas?

Meski menjadi teladan, panutan, dalam lingkarannya, Mbah Nun tidak pernah menganggap dirinya sebagai satu-satunya sumber mata air ilmu. Ia meng-encourage lingkaran di sekitarnya untuk mengambil apapun yang terserak di alam raya sebagai sumber pengetahuan yang mendekatkan diri kepada sangkan paran sejati.

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (Q.S Ali Imran: 190-191).

“Dia sekaligus siapa saja dan bukan siapa-siapa. Jalan yang ditempunya adalah jalan kesunyian, namun dia berbicara banyak. Dia merupakan paradoks. Dia merupakan esensi esoterisme, tetapi dia sebening kristal,” tulis Ian L. Bets dalam pengantar bukunya.

Sugeng ambal warso, Mbah. Terima kasih mengizinkan kami menikmati “pantulan cahaya”mu untuk menerangi jalan-jalan sunyi kami.

Buku dan Merchandise