Defrag Ulang

Mukadimah Batam Maiyah Juli 2020

Dunia dijejali berbagai macam informasi dan kejadian akhir-akhir ini. Okelah tidak perlu terlalu besar kita membahas Dunia, Batam yang “hanya” seluas 1595 Km2 tidak luput dari hujaman massive-nya informasi dan kejadian, baik itu informasi yang lagi trending berkisar pandemi, new normal, Protokol kesehatan Covid-19, maupun informasi tentang kapal-kapal dagang (container, red) yang mulai bersandar lagi di pelabuhan Batu Ampar, maupun informasi tentang Singapore yang belum juga membuka Negara mereka, baik itu untuk didatangi ataupun mengizinkan warganya keluar negara. Khususnya dari dan ke  Batam (Indonesia, red). Sudah menjadi sebuah keniscayaan bahwa segala sebuah informasi akan melahirkan pemahaman (persepsi) dan kemudian pemahaman ini akan melahirkan sikap (aksi) dan kemudian sikap (aksi) ini akan melahirkan reaksi. Dan tentunya 1 informasi yang diterima oleh 20 kepala akan dipahami dengan 20 pemahaman yang berbeda, lalu kemudian akan melahirkan 20 pengambilan sikap (aksi) yang berbeda, dan akhirnya akan mendapatkan reaksi yang pastinya lebih dari 20 jenis reaksi . Lalu coba kalikan 1 informasi tersebut dengan puluhan, ratusan atau bahkan ribuan informasi, ini akan mengakibatkan ragam reaksi yang pastinya jumlah reaksi ini akan bertambah secara eksponensial, “To many information to process” singkat katanya “Pecas Ndahe! Eh Pecah ndase”.

Ragamnya reaksi ini juga sempat dirasakan dan dialami oleh para penggiat Batam Maiyah di awal-awal pandemi berlangsung. Informasi yang berupa himbauan Simpul pusat untuk menghentikan kegiatan melingkar offline melahirkan perbedaan persepsi dan akhirnya tentu saja berujung pada berbedanya aksi. Itu hanya sebagian kecil contoh sederhana berbedanya sebuah aksi hanya karena 1 informasi. Coba kita lihat sekitar, berapa banyak informasi yang bersliweran, maka tidaklah heran jika akhir-akhir ini ada banyak ragam kejadian-kejadian yang aneh-aneh, tak langsung masuk di nalar. Ditambah lagi jika informasi yang dihembuskan adalah informasi yang memang dengan sengaja diprogram sang pembuat informasi untuk mengacaubalaukan pemahaman dan akhirnya memecah belah pihak. Informasi ini bisa berupa apa saja baik informasi keduniaan maupun informasi yang bersifat ruhaniyah, ketidaktenangan jiwa karena dicecar informasi duniawi akan mempengaruhi kemampuan hati untuk mencerna informasi rohani.

Alhamdulillah 2 saudara tua Simpul maiyah yakni Mocopat Syafaat dan Gambang Syafaat sudah menunaikan salah satu tugas sebagai “kakak”, yakni “mbabat alas” untuk mencoba di era new normal mengadakan Maiyahan offline, 2 tema dipelajari di sana, yakni Restart dan Spirit Istiqomah. Secara otomatis hasil babatan ini membentuk jalan setapak yang bisa di lalui adik-adik simpulnya di belakang. Dan kami si kecil Batammaiyah sedikit “ndusel-ndusel” diantara sang kakak, untuk menawarkan 1 langkah diantara restart dan istiqomah ini, yakni Defrag Ulang.  Defrag atau defragmentasi seperti yang kita ketahui bersama adalah proses merapikan file-file yang tidak disimpan secara urut, rapi dan saling berdekatan (terfragmentasi) . Kalau kita menggunakan analogi Komputer dengan system penyimpanan hardisk, Restart tanpa di ikuti oleh Defrag dikawatirkan tidak bisa membantu peningkatan performa komputer tersebut, hal ini bisa disebabkan karena banyaknya bad sector pada hard disc. Sama halnya dengan manusia, Restart yang tidak diikuti oleh Defrag ulang informasi yang diterima oleh segala macam reseptor tubuh, dikhawatirkan akan sedikit mengganggu proses mencerna informasi yang berdampak pemilihan jalan hidup (pemahaman, aksi, reaksi) ujungnya kembali dikeadaan yang kami sebutkan diparagrap awal. Pun demikian kita tidak bisa bergantung sepenuhnya dengan melakukan Defrag ulang segalanya akan berjalan lancar, baik-baik saja dan sesuai keinginan kita. Ini hanyalah usaha merayu-rayu ke pemilik Server alam semesta, sang pemegang Database Lauhulmahfuz, Allah ‘Azza Wajalla.

“Innallāha lā yugayyiru mā biqaumin ḥattā yugayyirụ mā bi`anfusihim, wa iżā arādallāhu biqaumin sū`an fa lā maradda lah, wa mā lahum min dụnihī miw wāl”.

Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum (bangsa), SEKALIPUN kaum (bangsa) itu ingin merubahnya.

Wassalam

BataMMaiyah, Juli 2020

Buku dan Merchandise