Dari Membaca ke Menulis, Menangkap Jejaring Tanda?

Pada akhir tayangan Mbah Nun Menjawab Episode I, kalimat penutup “Anda membaca itu menjadi subjek atau objek dari bacaan” menyergap perhatian saya. Kalimat tanya ini memungkasi wawancara Mas Helmi kepada Cak Nun, yang bagian pertama mengambil tema Ya Shalat, Ya Maksiat? berdurasikan hampir setengah jam itu.

Sekian pertanyaan jamaah dibacakan Mas Helmi, sejumlah jawaban diwedarkan Cak Nun. Saya tertarik untuk memperbincangkan salah satu respons Cak Nun mengenai proses kreatif beliau selama membaca buku.

“Saya itu baca kalimat lalu muncul banyak kalimat di pikiran saya. Kalau saya baca satu alinea, maka di kepala muncul satu halaman. Jika baca satu halaman di otak muncul satu buku. Saya tidak pernah jenak membaca buku karena di sini muncul macam-macam,” jawabnya.

Jawaban itu didahului oleh keterangan lima buku yang pernah ia baca: Angling Darma, Nagasasra Sabuk Inten, Api di Bukit Menoreh, Durratun Nashihin, serta karya-karya Kho Ping Hoo. Semua itu merupakan cerita silat kecuali Durratun Nashihin yang berisi mutiara nasihat dalam Islam.

Cak Nun mengenal buku-buku berlatar belakang Jawa itu sejak kecil di Jombang. Sementara buku bernapaskan Islam ia dapatkan semasa mondok di Pesantren Gontor. Selain kelima buku itu, hal lain yang mesti dicatat, banyak pula bacaan — entah berbentuk buku ataupun artikel lepas — yang Cak Nun gumuli selama periode Kadipaten, Malioboro, Patangpuluhan, dan seterusnya.

Daftar ini bisa diperpanjang bila menengok rekam jejak proses menggelandang di Belanda maupun Jerman tahun 1980-an. Namun, mengapa ia begitu produktif menulis, bahkan sampai sekarang bukunya yang terbit berjumlah delapan puluhan buah, sedangkan Cak Nun sendiri mengatakan hanya membaca lima buku?

Menjawab pertanyaan tersebut kita perlu memperdalam definisi membaca kita selama ini, yang bukan sekadar membaca dalam pengertian tertulis, melainkan juga membaca “jejaring tanda” yang terhampar di sekitar kita. Kategori tanda ini bermacam-macam: gerak, visual, oral, tulisan, tubuh, perabaan, emosional, rasio, rasa, spiritual, dan lain sebagainya.

Kemampuan orang membaca tanda, lalu mengaitkan tiap tanda menjadi makna, maka menurut Piliang (2008) orang itu mempunyai kecerdasan semiotik atau kecerdasan membaca tanda. Hal ini berangkat dari anggapan bahwa kehidupan ini berada dalam budaya, yang tiap budaya merupakan jejaring tanda.

Manusia terbedakan dengan makhluk lain karena keberadaan akal. Maka sepanjang ia bersemuka dengan komunitas sosial lain, manusia saling berinteraksi dalam kesepakatan sistem tanda. Kita menyebut ini sebagai bahasa.

Kemampuan memahami dan mengolah tanda inilah yang disebut kecerdasan, yang tentu saja tiap individu mempunyai perbedaan satu sama lain. Sampai titik ini kita semakin memahami di mana letak kreativitas manusia itu muncul, bagaimana ia sangat penting dalam sebuah tulisan.

Cemerlangnya ide yang menubuh dalam tulisan Cak Nun, baik dari tema sehari-hari maupun sampai wacana langit, sesungguhnya menunjukkan begitu peka, luas, dan mendalamnya ia dalam melakukan pembacaan semiotik. Ia menafsir dan mengolah tanda, sehingga makna-makna baru muncul. Ketika Cak Nun memberi makna, sebetulnya ia menjelajahi segala kemungkinan.

Ilustrasi menarik sering kali dikemukakan Cak Nun. Manakala seseorang menyebut Tuhan dan berusaha mengonsepkan kehadiran-Nya di pikiran, bukan berarti Tuhan benar-benar seperti yang dipikirkan orang tersebut. Ada jarak antara konsep dalam pikiran “di sini” dan realitas “di sana” — keberjarakan itu dijembatani oleh tanda, yang tiap tanda selalu berada di dalam bahasa.

Sudah barang tentu kita tak dapat keluar dari bahasa. Namun, dari, dalam, dan melalui bahasa, kita bisa mencari kemungkinan-kemungkinan.

Cak Nun mengeksplorasi kemungkinan-kemungkinan itu lewat tulisan. Memang kecerdasan semiotik harus dibarengi dengan disiplin menulis yang ketat. Di sinilah titik temu “produktif” itu. Periode Malioboro, dengan demikian, sangat penting dipelajari karena ia merupakan aras awal Cak Nun bersinggungan dengan Umbu Landu Paranggi.

Presiden Malioboro itu selalu mendorong Cak Nun untuk mencatat segala hal. “Em, tulislahlah,” mungkin begitu kata Umbu kepada Emha muda.

Semakin sering ia diminta menulis semakin produktiflah Cak Nun. Belum menginjak usia kepala tiga, ia sudah menjadi kolumnis hebat di Tempo dan beberapa surat kabar di Jawa. Tulisannya kritis, satire, dan jenaka.

Ide-idenya “selalu ada saja” dan tak pernah kering-kerontang. Membaca tulisan-tulisannya, ia seperti ngerti sakdurunge winarah. Hal ini dimungkinkan karena ia jeli membaca jejaring tanda.

Selain periode Malioboro, bukankah pada era Patangpuluhan rumah kontrakannya menjadi tempat pertemuan banyak orang? Bukankah ia biasa berbincang kepada orang lain seraya menghadap mesin tik?

Boleh jadi apa yang didiskusikan malam itu akan muncul di dalam kolomnya keesokan hari. Seperti kata Cak Nun, sumber informasi itu dari apa saja dan mana saja. Hal terpenting kemudian kita memungut, mengolah, dan menuliskannya.

Buku dan Merchandise