Dakwah Penggalan

(Dari Buku Anggukan Ritmis Kaki Pak Kiai)

BERATUS KALI saya mendengarkan pengajian dan beratus kali saya melihat mubalig atau mubaligah menabligkan nilai-nilai Islam secara sepenggal-sepenggal, mewawasi persoalan-persoalan kehidupan secara sepenggal-sepenggal, dan akhirnya menuturkan ayat-ayat juga sebagai penggalan-penggalan.

Kalau ia menganjurkan “taat kepada guru, kepada orangtua, kepada suami, kepada pimpinan”, ia kurang mengajak orang untuk memahami bahwa hal “taat” barulah satu aspek. Rahmat perbedaan pendapat antara anak dan bapak adalah juga satu aspek. Latar belakang orangtua, setting hidup suami, adalah juga satu aspek. Dan, kemungkinan ada sisi-sisi khusus dari suatu hubungan manusia adalah juga aspek.

Kita sudah tak mungkin melihat hidup ini secara “monodimensional”. Kalau kita hendak menghentikan moral buruk sopir bus yang ngebut, kita mesti ngomong soal ekonomi makro negara. Kalau mau memberantas habis para pelacur, jangan sodorkan ayat-ayat tenteng haram zina, sebab yang mendekatkan para pezina itu kepada perilaku zina pada mulanya bukan persoalan mereka tak paham esensi ayat zina yang ada dalam diri dia, melainkan sesuatu  yang  datang dari luar dirinya yang tak bisa dielakkannya. Kalau dalam lakon drama “Dakwah” tokoh Fulan yang “jahiliah” mendadak insyaf sesudah di petuahi Ustaz Karim dengan beberapa ayat dan hadis, itu berarti sutradaranya tak memahami sifat gerak psikologi manusia, tak menguasai ilmu perubahan hidup, dan kurang mengamati “dialektika” batin mental seseorang dengan lingkungan yang memberinya pengalaman-pengalaman.

Seorang mubaligah terkenal dari Jakarta tempo hari menentang program Keluarga Berencana (KB) — untuk kasus tertentu — di Yogya. Ia bilang kalau Anda punya kedudukan tinggi, punya duit banyak, punya jaminan masa depan, maka jangan beranak sedikit, nanti umat terugikan. Sebab Anda mampu mendidik anak Anda, memasukkan ia ke sekolah Islam, dan menyediakan fasilitas untuk kepentingan hari depan umat.

Tidak ia jelaskan apakah dengan cara berpikir kuantitatif seperti itu maka kalau Anda tak punya kedudukan, tak cukup punya duit, sebaiknya tak usah punya anak sebab bisa “direbut kaum Nasrani” dan umat dirugikan? Islam butuh anggota banyak dan sebaiknya itu berasal dari keluarga berkedudukan dan kaya?

Konteksnya menjadi ruwet dan naif, kecuali ia dipenggal menjadi satu trik pikiran kecil yang setengah iseng dan menghibur orang banyak. Saya berpikir, daripada hiburan “absurd” begitu, lebih baik digunakan untuk memancing meluaskan pemikiran dan akal sehat umat: kebutuhan Islam yang amat mendesak dewasa ini.

Mubaligah ini mengisahkan juga “fabel” yang di antara beberapa binatang lainnya, babi termasuk terburuk dan terlaknat. “Tetapi enggak apa-apa,” kata sang babi, “saya masih mending dibanding orang yang tak sembahyang lima waktu. Mereka masuk neraka dan saya tidak.” Orang tepuk tangan dan mubaligah kita puas.

Semestinya ia tinggal meneruskan: shalat itu tiang agama dan tiang kita sudah demikian berdiri megah, cuma dalamnya keropos, penuh rayap-rayap busuk; tiang kita tidak menghunjam ke fundamen, tidak mengakar, tanpa jiwa, tanpa darah batin; tiang kita baru kulit rapuh, belum “Kasya- jarotin ihoyyibatin atsluha tsabitwafur’u ha fis-sama” … Pertumbuhan kehidupan yang kita alami ini belum menunjukkan bahwa kebudayaan dan kemanusiaan kita benar-benar telah bersembahyang. Kalau bilang sama Tuhan “ihdinasshirotolmustaqim” itu basa-basi saja, kalau bilang “innasholati wanusuki wamahyaya wamamati lilahi robbil’alamin” itu cuma “sumpah jabatan” yang hampa belaka.

Umat kita yang sarat formalisme, butuh mengimbanginya dengan esensialisme — betapapun alotnya. Salah satu yang harus ditempuh adalah selalu mengajak umat untuk berpikir lebih mendasar, memahami konteks masalah berlandas setting-nya, membutuhkan perspektif, membiasakan mereka untuk “betah” berurusan dengan kompleksitas problem-problem.

Seringkali para mubalig, untuk bisa “membumi” ke bahasa atau ide audiences-nya, ia berkompromi. Ini suatu teknik, dan tak apa-apa, sepanjang substansi yang ingin disampaikannya tak terkubur. Ini romantika dakwah yang terjadi secara terus-menerus. Saya melihat sering mubalig kita lantas “mengalah”; membaur ia dalam kejumudan bersama, memelihara anutan-anutan harga mati, mempertahankan paternalisme beku. Mudah-mudahan bukan karena ia kecut kehilangan massa.

Akan tetapi, memang saya melihat, dengan tipe mubalig semacam itu, umat tidak makin terdewasakan. Tidak mungkin mampu mengembangkan kesiapan untuk mempersepsikan masalah-masalah yang mengurung mereka. Dengan begitu, kita memang belum siap untuk “menang”.

Kita mengurung agama dalam kotak moralitas, dalam kurung akhlak, menatap semua gejala hanya dari sudut itu — setidaknya demikian yang saya jumpai di banyak “lapangan”. Banyak mubalig kita masih berpikir bahwa yang memiliki “akhlak” itu hanya manusia: tidak mengingatkan orang banyak bahwa kita sedang berada di dalam suatu sistem nilai dan mekanisme hidup yang akhlaknya rendah dan mendorong kita semua untuk juga berakhlak rendah. Jadi, yang diobati bukan hanya kita, orang per orang, melainkan juga suatu keadaan makro yang merangsang dan mendorong kerendahan akhlak kita itu.

Tentu saja ini tantangan yang mahadahsyat: bisa sampai ke Coca-Cola, Rudah MX, atau pola pendidikan Islam jangka panjang. Namun, setidaknya para mubalig itu bisa mulai membiasakan umat untuk berpikir bahwa perbuatan seseorang, kini, tidak lagi “steril”. Tidak terpenggal. Tidak sepenuhnya bersumber dan menjadi tanggung jawab seseorang itu belaka, tetapi merupakan bagian dari suatu yang lebih besar, yang mengurung, menggiring, menggerakkan, dan mencampakkan kita ke dalam pusaran dunia yang tidak islami — sementara kita tetap ucapkan syahadat, dengan makna yang rapuh dan picisan.

Ada baiknya umat dibikin kaget bahwa kita ternyata tidak cukup Islam dalam berbagai hal. Kalau seumpamanya kali diomongkan belum kaget juga, perlu seratus kali. Karena itu saya kaget sendiri menyaksikan seorang tokoh dari Jakarta, pusat segala kemajuan itu, di Yogya justru memompakan sikap kuantitatif di dalam ber-Islam.

Buku dan Merchandise