Corona Tanpa Tuhan

Corona, 18

Semua tulisan saya di caknun.com tentang segala sesuatu yang terkait Coronavirus, memakai pola pandangan dan pemetaan yang mengungkapkan keterkaitan antara virus dengan kesehatan jasad, struktur kejiwaan, kekuasaan Tuhan, metode taqwa dan tawakkal, iman, doa, wirid, dzikir, hizib dan seluruh famili konteksnya menurut pola pandang yang saya pakai.

Mestinya ada, atau malah mungkin banyak di antara para pembaca yang tidak sependapat, yang bagi mereka Corona ya Corona, Tuhan ya Tuhan. Tidak ada korelasi sebab-akibat di antara keduanya. Tidak melihat hubungan antara wabah sedunia dengan dosa manusia, dengan akidah, silaturahmi vertikal dengan fokus Tuhan itu sendiri. Coronavirus semata-mata urusan medis, konteksnya ya kondisi badan manusia dengan bermacam-macam kemungkinan alam. Dengan kata lain, suatu cara pandang sekularistik di mana orang sakit ya hubungannya karena dia terkena penyakit, bahwa biji tumbuh karena proses biologis belaka, bahwa pohon berbuah tidak ada kaitannya dengan iradat dan rahmat Tuhan.

Tentu saja pola pengetahuan dan ilmu seperti itu sangat bertentangan dengan yang saya anut dan pakai, tetapi saya tidak menentang siapapun dan apapun yang bertentangan dengan saya. Bagi saya itu kekufuran, tetapi saya tidak membutuhkan kepuasan untuk mengkafirkan mereka. Sedahsyat apapun pertentangan pendapat saya dengan siapapun, mereka tetap saudara saya sesama manusia, sesama makhluk Allah, rekan bebrayan dan sahabat silaturahmi untuk membangun keselamatan hidup bersama.

Sedangkan Tuhan sendiri mengambil sikap seperti ini: “Dan katakanlah: Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka Barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir”.

Bahkan saya tidak menggunakan kosakata “kafir”. Biarkan Tuhan sendiri yang memakai kata itu, sebab faktanya yang mereka kufuri bukan saya, melainkan Tuhan. Dan biarkan juga Allah sendiri saja yang melanjutkan ayat dari Al-Kahfi 19 itu, karena toh pemfirmannya bukan saya, melainkan Allah: “Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang-orang dhalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek”.

17 tulisan saya bertema Coronavirus itu, juga semua tulisan atau tuturan lisan saya tentang kesehatan — juga maksud hati saya peruntukkan bagi anak cucu saya Jamaah Maiyah. Kalau kebetulan ada orang Indonesia atau penduduk dunia tak sengaja membacanya, terserah dia juga “fa man sya`a falyu`min waman sya`a falyakfur”.

Saya tidak pernah berpendapat, apalagi berambisi atau berharap, bahwa apa yang saya ucapkan dan tuliskan akan ada pengaruhnya pada manusia. Sebab 100% itu kemungkinan penghidayahan seperti itu berada di luar kuasa dan kemampuan saya. “Innaka la tahdi man ahbabta walakinnallaha yahdi man yasya`”. Allah sudah terang benderang menyatakan bahwa “engkau tidak bisa memberi petunjuk kepada siapapun yang kau cintai, Allahlah yang melimpahkan hidayah kepada siapapun saja yang Ia kehendaki”.

Saya menulis tidak untuk menginvestasikan apapun untuk keduniaan saya. Tidak mengharapkan pengaruh, dipercaya, populer, disukai, viral, dikagumi atau juga monggo-monggo saja kepada yang sebalik-baliknya — tanpa pernah saya menjawab satu huruf pun atas bula-buli orang ke saya. Saya menulis karena saya wajib mewujudkan rasa syukur saya kepada anugerah berlimpah-limpah dari Allah swt atas hidup saya. Di tengah-tengah menulis ini bahkan ada teman kirim link youtube yang saya kasih 11 tips kesehatan. Dan itu mencemaskan saya, karena jangan-jangan saya sudah lupa dan tidak melaksanakan sendiri apa yang pernah saya ungkapkan. Tapi alhamdulillah kok inti-intinya sama dengan 17 tulisan Corona saya di web Maiyah ini.

Terakhir, bahkan kalau umpama semua orang tidak seprinsip, seilmu dan sepandangan dengan tulisan-tulisan ini, saya berusaha keras untuk menggembirakan semua saudara-saudara saya itu. Dan Allah menolong saya. Ia berfirman di Asy-Syura 30: “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)”.

Wa ya’fu ‘an katsirin”. Itu bisa bermakna memaafkan sebagian besar dari kesalahan-kesalahan manusia. Atau bisa juga memaafkan sebagian besar manusia. Maka saya juga wajib siap memaafkan kebanyakan manusia atau kebanyakan dari kesalahan-kesalahan global ummat manusia, asalkan saya mohon dengan segala kerendahan hati jangan sakiti dan jangan celakakan saya, keluarga dan Kanjeng Nabi saya. ***

Lainnya

The Old Normal

Ada Atau Tak Ada Corona

Tetap Terkoneksi dengan Tuhan

Saling Mengamankan

Buku dan Merchandise