Cak Nun-Sabrang: Ramuan Santri-Scholar untuk Sebuah Hibrida Timur-Barat Peradaban

Ponpes Tremas Pacitan, 12 Desember 2017. Foto: Adin (Dok Progress)

Amsterdam, Hari Santri Nasional 2020

Tanggal 22 Oktober ini kita kembali diajak memperingati Hari Santri Nasional. Terlepas dari kontroversi narasi realitas (meminjam istilahnya Mas Sabrang) yang melingkupinya, saya memilih memaknainya dari sisi positif sekaligus poin reflektif untuk terus dielaborasi. Sebagian orang bertanya, mengapa tidak sekalian ada Hari Kyai Nasional? Padahal, di spektrum sosial yang lain malah ada peringatan Hari Guru Nasional. Sementara Hari Siswa Nasional juga tidak dirayakan.

Ini kalau paradigma berpikir kita linear dan dikotomis. Dan sayangnya, basis dari peradaban modern, yang dibangun dengan sistem sekolah modern, yang pendekatannya adalah modernisasi, dan goal utamanya adalah modernitas, hidup ini lebih banyak dilihat dan diperlakukan dengan sangat dikotomis. Mulai dari Timur-Barat, maju-terbelakang, kaya-miskin, pandai-bodoh, baik-buruk, benar-salah, dan seterusnya. Pertimbangan relativitas sosial dan budaya atas dua kutub ini seringkali luput dari perhatian dan perbincangan.

Santri dalam hal ini tidak sepatutnya hanya dilihat secara dikotomis vis-a-vis Kyai. Tak layak pula sekedar dipandang sebagai identitas eksklusif, penanda peristiwa sejarah, simbol kelompok sosial tertentu, apalagi hanya sebuah kategori sosial ala antropolog Amerika Clifford Geertz terhadap masyarakat Jawa (Santri, Abangan, dan Priyayi). Santri sesungguhnya adalah sebuah etos peradaban bangsa yang dialektika sosial-budayanya sangat luas.

Jika demikian, bahkan tradisi nyantri atau nyantrik dipercaya sudah ada jauh sebelum Islam masuk ke wilayah Nusantara, maka khazanah pemaknaan santri harus lebih inklusif. Ketika ia ditetapkan sebagai etos berbangsa secara nasional, definisi santri menurut KBBI: (i) orang yang mendalami agama Islam, (ii) orang yang beribadah dengan sungguh-sungguh atau orang yang saleh, menjadi kurang relevan. Definisi pertama dan kedua seyogyanya bisa digabung dan disempurnakan menjadi ‘orang yang mendalami ilmu, ajaran, nilai, tarekat, atau apapun dengan sungguh-sungguh untuk tujuan menyelamatkan’.

Dari sini, kita menjadi lebih bisa melihat benang merah antara Hari Santri dengan peristiwa dan momentum Resolusi Jihad 22 Oktober 1945, karena etos paling fundamental dari keduanya adalah kesungguhan dan penyelamatan. Makna, aplikasi, dan aktualisasinya untuk membangun jati diri sebuah bangsa menjadi tidak hanya relevan, tetapi sangat penting. Dengan catatan, untuk nyantri, atau menjadikan diri kita bermental santri, kita mau atau tidak? Percaya diri atau malah minder? Serius atau main-main? Kalau lapangan jihadnya adalah dunia sekolah, apa kita malah masih lebih percaya diri menjadi, beridentitas, ber-etos, atau dipanggil siswa atau mahasiswa? Yang padanan katanya di Barat adalah student atau scholar. Atau malah terjebak dalam mental inlander, menjadi santri ogah, dan menjadi scholar juga awang-awangen?

Apa paralelnya dengan istilah peradaban, yang di Barat disebut dengan civilization? Meskipun mengacu pada makna yang sama, namun harus dipahami bahwa konteks budaya sangat mempengaruhi pergeseran makna sebuah kata (yang dalam ilmu bahasa ada istilah generalisasi, spesialisasi, ameliorasi, peyorasi, asosiasi, dan sinestesia). Mengapa bangsa Indonesia yang gemar mengadopsi, ketika dihadapkan pada konsep civilization bukan menjadi ‘sivilisasi’? Padahal banyak sekali pola kata serupa, misalnya transformation menjadi transformasi, distribution menjadi distribusi, dan semacamnya. Ini menarik untuk diteliti.

Saya yakin ini bukan persoalan teknis leksikon bahasa atau othak athik gathuk istilah, tetapi selalu ada semacam ‘collective mind’ yang mendasari pemakaian kata tertentu. Bukankah bahasa digunakan berdasarkan logika kolektif, tata nilai, rasa, dan kesepakatan pemakainya yang beragam? Meskipun merujuk pada hal yang sama atau serupa.

Di Indonesia, jika kita ambil definisi dari KBBI, peradaban diartikan sebagai ‘kemajuan (kecerdasan, kebudayaan) lahir batin’ atau ‘hal yang menyangkut sopan santun, budi bahasa, dan  juga kebudayaan suatu bangsa’. Almarhum Profesor Koentjaraningrat, perintis disiplin antropologi di Indonesia, misalnya, merujuk pada ‘bagian yang bersifat halus, indah, tinggi, sopan, dan luhur dalam kebudayaan tertentu’. Kata dasarnya adab. Jelas ini diadopsi dari bahasa Arab yang maknanya berkaitan dengan ‘kehalusan, kebaikan, budi pekerti, kesopanan, atau akhlak’. Meskipun secara nahwu shorof kita bisa bedah lebih jauh bersama Yai Muzammil, paling tidak ada peribahasa Arab untuk mengkonfirmasi, Al-adab huwa mir-atul haya-i, adab adalah cerminan kehidupan.

Di Barat, istilah civilization, secara etimologis berasal dari bahasa Perancis civilisé (civilized) sekitar abad ke-16 dan bahasa Latin civilis (civil), yang memiliki kedekatan makna dengan civis (citizen), atau civitas (city). Seorang Sosiolog asal Jerman, Norbert Elias, pernah mendefinisikannya secara umum sebagai ‘a process involving changes in behavior and feeling extending over many generations’, yang sebenarnya tak terlampau jauh dari makna peradaban. Namun, jika subjek utamanya adalah manusia, titik tekan makna dasarnya jelas bukan pada adab, akhlak, atau budi pekerti, melainkan pada bagaimana warga membangun kemegahan kotanya termasuk code of conduct orang-orangnya.

Apakah berarti peradaban lebih baik daripada civilization? Apakah santri juga lebih mumpuni daripada scholar? Apapun jawabannya, jelas bukan di situ persoalannya.

Kalau kita cermati, khususnya karena dampak pandemi Covid-19, ini menjadi tema besar beberapa diskusi terakhir Cak Nun dengan Mas Sabrang yang sangat menarik kita resapi, maknai, dan elaborasi lebih jauh. Cak Nun yang memiliki kelebihan dalam ‘religious attitude’. Apapun yang beliau bahas, selalu ada nuansa ‘merohanikan materi’, ‘mencari yang sejati’, dan ‘ilmu tauhid’ yang mengemuka. Dengan idiom-idiom spiritual-estetis, mungkin beliau sering terkesan skeptis dengan rasionalitas Barat. Tapi jangan lupa, keseriusan, kedisiplinan, ketekunan, tarekat, dan etos kerja beliau mungkin akan mengagetkan seoarang fisikawan Barat yang seumur hidupnya habis di lab untuk meneliti. Positioning beliau yang memang mendampingi orang-orang dengan perasaan yang tertindas, mental yang minder, dan pikiran yang kalut, hal paling efektif yang bisa dilakukan adalah membesarkan hati dan menjernihakan cara berpikir. Ini pun setelah beliau juga merasakan bagaimana menjalani laku di dunia Barat. Dan inilah logika dasar beragama. Yang dibangun akhlak, kepada segala hal, dan sesuatu yang halus, yang persambungannya ke ruhani.    

Sementara Mas Sabrang, yang lebih condong mengedepankan ‘scientific attitude’, ide-ide dan pemikiran liarnya ditopang premis dan pendekatan saintifik. Kosakata-kosakata dan formula intelektual-akademis yang ia gali dari rasionalitas Barat dicari persambungan dan perjodohannya di dalam suasana alur pikir dan cuaca sosiologis society di Timur. Temuan-temuan pola algoritma matematis dan penjelasan hukum sebab-akibat secara fisika bisa diparalelkan dengan cara kerja psikologis sekaligus antropologis yang para sarjana di kampus malah enggan mendalaminya. Maka tidak mengherankan jika konsep besar aplikasi Symbolic yang ia bangun dinamakan Digital Ethnology.

Logikanya, dahulu orang-orang Eropa, ketika masih miskin, sebelum ada disiplin ilmu antropologi, mereka belajar ilmu astrologi (dan ini meniru tradisi orang Timur), astronomi, dan etnologi. Yang terakhir ini adalah ilmu tentang manusia yang menurut mereka ‘aneh’ dan uncivilized nun jauh dari tanah mereka berpijak. Karena mereka sangat serius, tekun, dan disiplin, singkat cerita mereka menemukan teknologi dan perangkat untuk mengarungi samudera ke berbagai penjuru bumi. Dari catatan-catatan mereka inilah kehidupan kelompok manusia di belahan bumi lain yang alamnya lebih indah dan kaya dipelajari. Ilmu etnologi berkembang, minat berlayar ke seberang meningkat. Yang awalnya kepincut hanya untuk barter dan berdagang, karena melihat orang-orang yang mereka temuai ternyata ‘uncivilized’, terjadilah sejarah panjang penjajahan di kemudian hari. Orang Timur juga menjelajah, tetapi mereka tak pernah menemukan dunia seindah kampung halaman mereka sendiri.

Dengan logika yang sama namun etos yang berbeda, Maiyah mungkin bisa menginisiasi, atau mungkin sedang, dan dalam beberapa aspek sudah, merintis apa yang saya sebut kesungguhan mempelajari etnologi dengan memadukan ke-Santri-an Cak Nun dan ke-Secholar-an Mas Sabrang. Dengan keterpaduan keduanya, dalam menekuni apapun, kita terus membangun yaqin yang ‘Ainun (ainul yaqin) dengan tanpa ragu menyeberangi (Sabrang) samudera yaqin yang berbasis ilmu dan rasionalitas (ilmul yaqin), untuk semoga diberi jatah nyicipi yang haqqul yaqin di ujung peradaban-civilization sorgawi masa depan.

Harus ada cincin yang selalu mengikat etos keduanya. Dan itu ada di dalam diri setiap kita. Kita jangan lagi salah menyangka bahwa matahari terbit di Timur dan tenggelam di Barat. Bumilah yang diwajibkan setia mengitari matahari. Timur-Barat itu tercipta bukan karena ada kutubnya masing-masing, tetapi karena setianya thowaf badan, pikiran, dan emosi kita mengitari sumber cahaya. Selamat Hari Santri.

Lainnya