Cak Nun: Mas Iman Itu Pejuang Sejati

Salah seorang guru kita semua, penyair Iman Budhi Santosa, yang wafat hari ini dikebumikan di Makam Seniman Giri Sapto, Imogiri. Mendiang diberangkatkan dari tempat tinggalnya di kampung Dipowinatan menjelang ashar. Pada pukul 15.00 para pelayat mengerubungi pusaranya. Dari keluarga, jamaah Maiyah, seniman Yogya, hingga para anak muda yang pernah menimba ilmu kepada beliau.

Cak Nun memberikan kata penutup usai acara pemakaman. Mas Iman, begitu beliau menyebutnya, adalah seorang pejuang sejati. “Menurut Allah, tidak ada pejuang yang mati. Yang ada hanyalah orang yang di sisi Allah yang selalu dicintai-Nya,” ujarnya.

Di luar kotak identitas, baik sebagai seniman ataupun sastrawan, bagi Cak Nun almarhum merupakan seorang manusia yang hatinya mulia, pikirannya jujur, dan jiwanya dipenuhi oleh pertimbangan-pertimbangan berdasarkan kehendak Allah.

“Mas Iman tidak meninggal. Jadi ketika seseorang sudah kita bawa dari kehidupan ke kuburan, menurut Allah segala sesuatu terputus. Sudah tidak bisa makan lagi, tidak bisa menulis, dan lain-lain. Namun amal jariah masih mengalir,” imbuh Cak Nun.

Wafat atau hidupnya Romo Iman, demikian sapaan akrab beliau, tergantung orang yang masih hidup. Ia masih mengada di dalam karya-karyanya selama ini. Cak Nun berpesan agar khalayak hendaknya mulai meneladani nilai, ilmu, dan laku yang selama ini Romo Iman sampaikan. Di situlah bentuk penghidupan kembali gagasan-gagasan beliau untuk kemudian dipelajari oleh mereka yang masih hidup.

Sudah 51 tahun Cak Nun mengenal Romo Iman. Pertama kali berkenalan tahun 1969. Selama itu ia menyaksikan bahwa Iman Budhi Santoso, lanjutnya, sudah mencapai apa yang dirinya dan kebanyakan orang belum peroleh.

“Mas Iman sudah mengalami apa-apa yang kita sendiri belum alami. Mas Iman sudah melakukan apa-apa yang mungkin kita sendiri belum pernah lakukan. Intinya, Mas Iman itu teladan kita semua. Orang yang berhati mulia. Kesetiaan, kesungguhan, dan ketekunan beliau patut kita contoh,” tuturnya.

Di tempat peristirahatan abadi Romo Iman, ia bersama para sesepuh seniman lain yang terlebih dahulu menghadap Tuhan. Sejak tahun 1988, sudah 66 seniman dikuburkan di sini. Dari sastrawan Kirjomulyo, Nasjah Djamin, hingga pelukis Sudarso.

Mengiringi taburan bunga, seorang anak muda membacakan puisi Romo Iman tahun 1969. Puisi itu ditulisnya pada usia 21 tahun.

Penyair

Hai mati.
Waktu pun berdesak, pelan dan hati-hati.
Di luar, musim pun berangkat meninggi
diatas meja, hidup berkisar-kisar dalam puisi

Siapa yang bersuara dalam kata-kata?
Kawanku hanya bayangan yang tidur
Sejak hari pertama
tidak usah bercakap, katanya
tapi, senantiasa terdengar gema bersahut-sahuutan
dari hidup yang berakhir
dengan kematian
pertemuan-pertemuan yang membingungkan
dengan diri sendiri

Wahai, betapa rindu untuk bisa mengerti
wahai, betapa riuh perjamuan ini
perjamuan di batas tidur
dan jaga
dalam
sunyi

Lainnya