Mukadimah SabaMaiya April 2020 — Edisi Milad Ke 4

Butuh Betah

Setiap peristiwa alam akan memunculkan implikasi bagi penghuninya, baik secara personal maupun komunal, sehingga bermacam penafsiran pun terjadi dan berubah dengan apa yang disebut ILMU. Sebagaimana peristwa yang dialami Mbah Abu, lelaki berwajah tirus, hidung mancung, serta rambut yang didominasi warna senja, mengabdikan dirinya sebagai tukang batu dan sebagai “WIRID” kehidupannya.

Dengan posisi kepala menunduk, menunggu giliran waktu menyampaikan uneg-unegnya, “kek…! Sudah hampir empat tahun berjalan proses pembangunan rumah kami, dengan kalkulasi standart umum seharusnya sudah rampung. Namun pada kenyataannya masih sebatas tembok keliling setengah badan, dengan pergantian tukang serta kuli batu entah berapa kali…” ungkap Mbah Abu pada kakek setelah menunggu lama sejak kedatangannya dan hanya menyisakan dua orang tamu saja.

Njih BUTUH BETAH Mbah…!” jawab kakek singkat, betah sekarang sudah seharusnya menjadi kebutuhan yang pokok, di masa-masa yang mana kita sudah digiring untuk selalu berorientasi pada kuantitas sebagai tolok ukur, kecepatan proses dan “nyenengke” mata pula hingga menafikkan yang hakiki.

BUTUH BETAH” merupakan idiom alternatif yang bersifat kultural ditengah derasnya arus ungkapan latah “sing SABAR” dari penceramah maupun pemegang kebijakan yang lebih pandai berungkapan bijak yang sering juga mengalami kebuntuan karena belum atau tidak menemukansolusi yang solutif dalam menjawab kompleksitas masalah yang ada serta bersifat massif.

“BETAH” tidak muncul dari teori maupun ilmu, melainkan dari “NGELMU” yang muncul dari laku atau proses dalam memahami lelaku hingga menjadi perilaku yang tak butuh paparan teoritis kritis dalam menghadapi segala peristiwa kehidupan. “BUTUH BETAH” merupakan laku sunyi yang melampaui bumbungan mimpi tentang peristiwa yang terjadi dan harapan cepat saji.

Hanya rasa percaya yang penuh, serta yakin dalam hati yang akan mampu mengubah pribadi dalam diri sebagai puncak kesadaran pribadi tanpa harus menunggu kejadian yang pasti terjadi. Dalam hening Mbah Abu mencoba “ngudari” dawuh “BUTUH BETAH” dari kakek. Sayup-sayup terdengar syair ketika kecil ngaji di langgar yang dibaca sebelum proses pembelajaran dimulai.

Fashohhihin niyat qoblal amali # wa’ ti biha maqrunatan bil awwali”.

Wa in tadum hatta balaghta akhiroh # huzta at-tsawaba kaamilan fil akhiroh”.

“Lha, selama ini kan sudah berusaha saya jalani dan niteni, mengapa masih saya tanyakan!!??!!” Kecamuk dalam pikiran dan hati Mbah Abu, “njih sampun nek mekaten” ungkap mbah Abu sekaligus pamitan pulang. (GJ)


Saba Maiya edisi kali ini tidak seperti edisi-edisi sebelumnya, Jamaah hanya bisa mengikuti secara virtual melalui Live Streaming Instagram @SabaMaiya. Jamaah bisa berinteraksi dengan mengirim pertanyaan atau merespon pembahasan di ruang komentar atau DM.

Lainnya

Alat Bantu Menemukan Peran

Era Minimalis

The Fastabiqur Riya`

Bakti = Bukti

Buku dan Merchandise