Bulan Juni yang Tak Biasa

Tahun ini adalah tahun anomali bagi teman-teman penggiat Kenduri Cinta. Sejak awal 2020 ini, forum Reboan sudah merancang beberapa agenda untuk merayakan 20 tahun Kenduri Cinta pada bulan Juni. Mulai dari Maiyah Talk, pameran foto, Jam Session Music, bazzar makanan, produksi merchandise hingga Maiyahan sebagai puncak acaranya.

Pada akhirnya, manusia hanya berencana, Allah jua lah yang lebih dahulu melaksanakan rencana-Nya. Apakah kemudian membuat kapok? Tentu saja tidak. Justru yang terpenting adalah bagaimana menjaga semangat untuk terus kreatif itu tetap tumbuh dan terawat dengan baik.

Selain rencana perayaan 20 tahun Kenduri Cinta, tahun ini Bu Via bersama sahabat-sahabatnya dulu merilis film Terima Kasih Emak Terima Kasih Abah. Teman-teman penggiat Kenduri Cinta dilibatkan dalam proses promosinya dengan perencanaan dan strategi yang disusun hingga hari pemutaran perdana film tersebut. Itu saja? Tidak.

Mbah Nun di awal tahun juga menulis naskah “Sunan Sableng dan Paduka Petruk, yang awalnya direncanakan akan dipentaskan di Yogyakarta dan Surabaya, kemudian teman-teman penggiat Kenduri Cinta menggagas rencana agar teater Sunan Sableng dan Paduka Petruk juga dipentaskan secara kolosal dengan konsep teater rakyat, di area terbuka Plaza Teater Besar Taman Ismail Marzuki.

Penggiat Kenduri Cinta berikhtiar bagaimana agenda-agenda yang sudah direncanakan itu dipersiapkan secara detail. Dengan konsep pementasan secara kolosal di area terbuka, dibutuhkan dana tidak sedikit. Tantangannya adalah bagaimana agar pementasan ini dapat terselenggara tanpa penjualan tiket. Sehingga, murni dihadirkan sebagai “hiburan” rakyat. Hal yang sudah lama hilang, dan ingin dihadirkan kembali di Kenduri Cinta.

Untuk menyiasatinya, penggiat Kenduri Cinta memproduksi merchandise khusus pementasan teater “Sunan Sableng dan Paduka Petruk” ini. Hasil penjualannya digunakan untuk membiayai pementasan tersebut. Namun, hingga hari ini, pementasaan teater tersebut tidak memungkinkan dipentaskan karena alasan yang sama-sama kita ketahui yaitu situasi pandemi Covid-19. Apakah penggiat Kenduri Cinta mandeg? Tidak. Masih banyak hal harus dikreatifi lagi.

Tidak mudah membuat semangat berkomunitas ini tetap terjaga dan terawat dengan baik. Salah satu caranya adalah dengan tetap kreatif, menyisir potensi yang ada, mengolah aset yang ada. Pada bulan April dan Mei, meskipun tidak dilaksanakan Maiyahan seperti biasanya, pada Jumat kedua tetap saja media sosial Kenduri Cinta ramai.

Trigger #JedaSejenak dan #KenduriCintaWithUS memantik jamaah berbagi kebahagiaan, berbagi cerita, berbagi momen berharga, dan berbagi nilai yang sudah mereka dapatkan di Kenduri Cinta selama ini. Ungkapan kerinduan untuk duduk bersama memang tak terelakan lagi, tetapi kita semua menyadari bahwa tidak semudah itu untuk kemudian kita saat ini berkumpul bersama, duduk melingkar, Maiyahan, dan Sinau Bareng seperti dulu. Ada banyak hal yang harus kita pertimbangkan bersama, benar-benar menimbang hingga presisi yang tepat, agar menjadi maslahat bagi semua dan tidak memunculkan mudhlarat.

Mensyukuri Kesederhanaan

Sabtu (27/6), setelah malam sebelumnya berkumpul di kediaman almarhum Syaikh Nursamad Kamba dalam acara 7 hari Yasinan dan Tahlilan, Mbah Nun bersama penggiat Kenduri Cinta berkumpul, dalam agenda yang sederhana, ngobrol ringan, cangkruk santai.

Pertemuan ini memang terbatas, karena kita semua belum bisa berkumpul Maiyahan seperti biasanya. Mungkin bisa agak dipaksakan untuk berkumpul dengan jumlah massa yang tidak terlalu banyak, tetapi kita juga harus mempertimbangkan tetangga kanan-kiri kita, karena ada banyak hal yang mana kita harus menyadari bahwa ada orang lain yang juga berhak atas keamanan, kenyamanan, dan kesehatan.

Bulan Juni ini seharusnya adalah momen perayaan 20 tahun Kenduri Cinta. Karena beberapa hal, pada akhirnya hanya bisa disyukuri dengan cara sederhana dan prihatin. Momen yang harusnya menjadi tonggak mensyukuri perjalanan berubah diliputi kesedihan mendalam. Bukan hanya karena kita sudah 3 bulan tidak bisa Maiyahan seperti biasanya, tetapi juga kita kehilangan salah satu Marja’ Maiyah; Syaikh Nursamad Kamba.

Tahun 2019 lalu, di bulan Juni pada momen mensyukuri 19 tahun Kenduri Cinta, Syaikh Nursamad Kamba turut hadir bersama Pakde Mus. Selain mensyukuri ulang tahun Kenduri Cinta, momen tersebut juga sebagai penanda berpindahnya ‘rumah baru’ Kenduri Cinta, yang sebelumnya di Plaza Taman Ismail Marzuki di area depan kemudian bergeser ke Plaza Teater Besar Taman Ismail Marzuki.

Seperti malam sebelumnya, yang ditekankan Mbah Nun dengan berpulangnya Syaikh Nursamad Kamba adalah Jamaah Maiyah, khususnya teman-teman di Kenduri Cinta memiliki tugas menggali lebih dalam dari khasanah ilmu yang sudah disampaikan oleh Syaikh Nursamad Kamba selama bersentuhan di Maiyah. Keseluruhan ilmu yang disampaikan oleh Syeikh Nursamad Kamba masih gelondongan, masih perlu diiris lagi. Tentu menjadi tugas bersama, bukan hanya 1-2 orang saja. Pencapaian-pencapaian revolusioner Syaikh Kamba yang disampaikan di Maiyah adalah kumpulan Mutiara ilmu yang sangat berharga.

“Jangan sampai kalian mengalami momen dahsyat beberapa bulan terakhir tanpa mendapatkan apa-apa. Sekarang tugas Anda adalah menyiapkan wadah Iman dan tawakkal yang sebesar-besarnya supaya yang dikasih oleh Allah untuk Anda itu sepadan dengan wadah yang disiapkan”, Mbah Nun berpesan.

Begitu dinamisnya hidup, dalam kerangka skenario besar yang dirancang Allah, manusia mau tidak mau harus kreatif. Pandemi Covid-19 adalah bukti nyata bahwa manusia hidup dalam keghaiban dan kegelapan. Mungkin kita mengalami jatuh terperosok ke dalam sebuah lubang pada bulan-bulan terakhir, pilihannya adalah terpuruk atau bangkit lagi dan waspada agar tidak terperosok lagi ke lubang yang lebih dalam.

Kita sudah belajar di Maiyah bahwa ada wahyu, karomah, ilham, ma’unah, fadhillah, dan seterusnya. Yang dimaksud Mbah Nun mengenai wadah tadi adalah bahwa setiap orang selalu diberi hidayah oleh Allah Swt setiap waktu. Persoalannya adalah apakah wadahnya itu mampu menampungnya atau tidak. Jika saat ini wadahnya masih hanya sebesar gelas, maka yang harus kita lakukan adalah memperbesar wadahnya menjadi sebesar mangkuk, poci, bahkan mungkin sampai sebesar ember, yang kemudian semakin memperbesar peluang bagi kita untuk menambah jumlah hidayah yang kita dapatkan. Tidak usah pusing membedakan wahyu, karomah atau ilham. Semuanya ada peruntukkannya masing-masing. Karena yang utama adalah wadahnya itu tadi.

Pada pertemuan itu, Mbah Nun menyampaikan bahwa mental manusia Indonesia ini adalah mental manusia desa. “Negara Indonesia ini seharusnya menyebut dirinya sebagai Negara Desa”, ungkap Mbah Nun.

Ketangguhan manusia Indonesia terbangun karena mereka dididik dengan pendidikan desa. Kita melihat di Jakarta misalnya, ada orang yang di pinggir jalan tanpa memiliki bengkel workshop tetapi berani menawarkan jasa untuk memperbaiki bodi mobil yang penyok, bahkan memoles warna cat mobil persis seperti mobil baru. Di sekitaran Kalibata, ada orang-orang yang hanya membawa cangkul, menawarkan jasanya, tanpa bantuan teknologi aplikasi. Mereka mempertaruhkan ngebul-nya dapur mereka di jalanan dengan kemampuan yang mereka miliki. “Tidak mungkin orang-orang seperti itu tumbuh dewasa oleh peradaban Kota”, ungkap Mbah Nun.

“Jadi misalnya dengan perginya Syaikh Kamba, kalian harus bisa mendaftari kehilangan apa saja dari kepergian beliau”, Mbah Nun melanjutkan. Seperti sedang menyusun kepingan puzzle yang berantakan, tugas kita saat ini pelan-pelan menyusun kepingan-kepingan tersebut, karena bisa jadi ketika kepingan-kepingan itu tersusun, justru membuka pintu untuk menyusun puzzle-puzzle yang lain.

Berposisi stand by ditakdirkan Allah menjadi apapun saja

“Maiyah itu bukan sesuatu yang saya minta kepada Allah”, Mbah Nun menambahkan. Perjalanan Mbah Nun sejak kecil di Menturo, sampai ke Gontor, Malioboro, kemudian dengan Karawitan Dinasti, hingga KiaiKanjeng dan Maiyah adalah proses panjang yang masing-masing ada jenjangnya. “Yang saya maksudkan adalah, Allah sedang menyampaikan; ‘Kamu mau minta apalagi, wong Aku sudah ngasih terus’?”, lanjut Mbah Nun.

Mbah Nun menyampaikan agar kita melihat di sekeliling kita, di sekitar kita, dalam hidup kita. Minimal didaftari, mana sesuatu yang kita minta dan mana yang kita tidak minta kepada Allah. Maka kita akan mendapati justru lebih banyak hal yang kita tidak meminta kepada Allah tetapi Allah memberinya kepada kita. “Saya mengalami dikasih segitu banyak oleh Allah, mosok sekarang saya malah mau minta lagi?”, lanjut Mbah Nun.

“Saya berposisi untuk tidak minta apa-apa kepada Allah. Bahkan kepada orang yang sudah menganiaya saya, saya juga tidak minta untuk diapa-apakan oleh Allah. Wong semua itu akan beres dengan satu hal yang di dalam Al Qur`an disebut oleh Allah sebagai Shoihatan wahidatan”, Mbah Nun menegaskan.

Mbah Nun kemudian menjelaskan wirid Ya Hafidh Ihafadhna, Ya Hadi Ihdinaa, Ya Qodir Qoddirna. Dijelaskan, setiap kita melantunkan satu kata untuk diwiridkan maka yakinlah bahwa satu kata itu mengandung kata yang lain. Tidak mungkin Allah membimbing kita tanpa melindungi kita. Tidak mungkin Allah memberi kita petunjuk tanpa memberi fasilitas kepada kita untuk menempuhnya. Maka kalimat pamungkasnya adalah Ya Qodir Qoddirna, kita ngikut dengan maunya Allah, stand by dengan apa yang ditakdirkan Allah kepada kita.

Dengan semua yang sudah diberikan Allah Swt kepada kita, posisi kita saat ini adalah stand by terhadap apa yang akan ditakdirkan oleh Allah kepada kita. Apalagi di masa-masa pandemi Covid-19 ini, dimana kita mengalami banyak hal dahsyat yang sebelumnya tidak kita duga sama sekali. Banyak hal sebelumnya normal dan wajar-wajar saja, sekarang menjadi tidak normal. Pada titik inilah apa yang dimaksudkan Mbah Nun dengan melantukan wirid Ya Qodir Qoddirna menjadi relevan. Kita merasa tidak pantas meminta lagi kepada Allah, justru yang terbaik dari apa yang kita alami saat ini adalah stand by terhadap ketetapan Allah atas diri kita.

Mengenai wirid tersebut, Mbah Nun menjelaskan tahapan-tahapannya. Dengan duduk tahiyat, kemudian diawali dengan membaca Al Fatihah 7 kali, kemudian bersujud dan membaca Kalimah Thoyyibah 5 kali. Kemudian, kembali duduk tahiyat, melantunkan wirid 3 kalimat tersebut dengan hitungan durasi 5 menit, 10 menit, 15 menit atau sekuatnya. Boleh dikerjakan sendiri-sendiri atau secara berjamaah.

Pertemuan sore itu tidak melulu membahas hal-hal yang berat dan serius. Mbah Nun sesekali bercerita kenangan di Kadipaten, Malioboro hingga Patangpuluhan, bersentuhan dengan banyak orang, menceritakan kisah romantisme di era-era itu. Suasana yang sangat santai. Ustadz Noorshofa pun sore itu turut bergabung. Sembari menikmati kopi, teh dan jajanan pasar. Namanya juga berkumpul sore-sore, tak lengkap jika tidak makan berat, maka bakmi godhok japemethe adalah menu yang kemudian disiapkan untuk disantap bersama sore itu.

“Kalau kita belajar Al Qur`an, cara berfikir Al-Qur`an itu tidak sama seperti intelektual akademis modern. Anda mempelajari Nabi Ibrahim jangan terus hanya mempelajarai surat Ibrahim, Anda mempelajari sapi jangan hanya di surat Al-Baqarah. Kalau mau pakai metode supra-liberal, Anda ngomong apa saja bisa ditemukan di ayat apa saja,” kata Mbah Nun. Disampaikan pula, yang kita gunakan di Maiyah adalah cara berpikir Qur`aniyah, karena kita bisa menemukan hikmah sebuah ilmu dari ayat Al Qur`an yang manapun saja. Kita bisa menemukan sambungan segala ilmu dari amsal apapun saja di Maiyah. Mbah Nun menjelaskan bahwa Covid-19 ini adalah hal yang ghaib, maka di Al Qur`an, kita memasuki ayat yang manapun saja akan menemukan dimensinya.

“Sekarang ini Allah memberi kita sesuatu yang tidak bisa kita lihat. Ghaib itu adalah sesuatu yang tidak bisa kita temukan dan tidak bisa kita lihat secara kasat mata, tetapi kenyataannya dia ada dan kita ketakutan terhadap sesuatu yang ghaib yang jelas-jelas nyata adanya”, Mbah Nun melanjutkan.

Mbah Nun berpesan yang harus dilakukan oleh kita semua adalah seperti yang termaktub dalam Al Qur`an surat Al Baqarah di beberapa ayat awal, bahwa kita berpedoman kepada Al Qur`an, karena Al Qur`an adalah kitab yang tidak ada keraguan di dalamnya, sebagai petunjuk orang-orang yang bertakwa. Dan kemudian dijelaskan dalam ayat selanjutnya mengenai orang-orang yang bertakwa itu, yaitu orang-orang yang beriman kepada sesuatu yang ghaib, yang mendirikan shalat dan menginfakkan rezeki yang sudah diberikan Allah Swt. “Sekarang ini adalah saat yang paling krusial dari peristiwa berbagi rezeki, saling berbagi kenikmatan satu sama lain, saling tolong-menolong”, lanjut Mbah Nun.

“Secara khusus saya berpesan, kalau bisa setiap malam perbanyak shalat malam. Kalian ini kan tidak bisa tidur sebelum jam 12 malam, shalatlah. Kalau setelah itu masih mengerjakan sesuatu, sebelum tidur, shalatlah. Kalau bangun Subuh sebelum adzan, shalatlah. Pokoknya bilang sama Allah; pun monggo kulo ditakdirkan nopo mawon, monggo”, Mbah Nun memungkasi.

Tidak berlebihan kiranya ketika Mbah Nun berpesan demikian, karena momen bulan Juni di tahun 2020 ini benar-benar sarat makna bagi kita semua, terkhusus bagi teman-teman di Kenduri Cinta. Ada banyak rencana yang sudah dirancang yang kemudian tak jadi terlaksana, dan salah satu Marja’ Maiyah, Syaikh Nursamad Kamba berpulang di bulan ini. Bulan yang setiap tahunnya Kenduri Cinta menyelenggarakan momen bahagia, kali ini justru ditandai dengan momen kehilangan salah satu sosok orang tua. (Red/Kenduri Cinta)

Buku dan Merchandise