Bukan Mindset Apa-Apa Tuku

Liputan singkat Majelis Ilmu Juguran Syafaat Purwokerto, Sabtu 12 September 2020

Satu persen populasi Indonesia menguasai 48% ekonomi nasional. Tiga persen manusia Indonesia menguasai 60%, dan 10% manusia Indonesia menguasai 70% ekonomi nasional. Berbagai program pemberdayaan UMKM sudah dilaksanakan begitu masif. Ada seminar, workshop, buku, coaching, mentoring, dan lain-lain, tetapi pada kenyataannya angka-angka di atas belum pernah berubah sejak 20 tahun terakhir. Jangan-jangan, segala upaya pemberdayaan UMKM yang kita lakukan selama ini doesn’t work. Demikian paparan dari seorang pengamat ekonomi.

Di antara sejumlah topik yang menjadi bahasan pada rutinan Juguran Syafaat kali ini salah satunya adalah mengenai fenomena tersebut di atas, yakni tidak efektifnya kegiatan pemberdayaan UMKM. Ini adalah tema yang cukup dekat, mengingat mayoritas yang ada pada social cyrcle adalah kalangan usahawan kecil dan menengah, sedikit yang pegawai negeri, dan lebih sedikit lagi yang konglomerat.

Moderator menyampaikan, “Sekarang banyak sekali dibentuk grup jual-beli, tetapi yang terjadi kemudian adalah forum jual-jual, karena member-nya penjual semua”. Dari fenomena sederhana yang diungkap oleh moderator tersebut, Pak Toto Raharjo yang bergabung melalui video conference menarik garis hingga pada peta globalisasi yang mengepung kita hari ini.

Menurut Pak Toto, “Selain pandemi Covid-19, jangan lupa kita juga menghadapi pandemi yang sebetulnya lebih besar lagi, yakni pandemi globalisasi”. Dari silang sengkarut ketiadaan kesatuan alam berpikir dan pilihan bertindak di kala pandemi ini, jamaah diajak untuk tidak hanya memperhatikan taktis ekonomi tetapi menarik hingga jauh ke belakang akar persoalan yang dihadapi hari ini, yakni mendunianya protokol dan gaya hidup globalisasi.

Globalisasi membuat kita sebagai komunitas masyarakat termarjinalkan. Dan pandemi Covid-19 ini adalah momentum di mana watak globalisasi mengalami pelemahanan di banyak sendi-sendinya. Maka berpikir tentang komunitas atau klaster mesti harus dikerjakan dengan sungguh-sungguh. Termasuk perihal introspeksi dari pemberdayaan UMKM. Pembenahan paradigma harus dikerjakan, yakni bukan berorientasi menjual, tetapi memenuhi kebutuhan sendiri dahulu. Maka kita bisa mengerem uang keluar. Imbas berikutnya, komunitas menjadi bisa lebih kuat.

Paradigma ini jelas bertolak belakang dengan pemberdayaan UMKM pada umumnya, yang bernuansa penyeragaman dan terpaku pada program kerja lembaga. Terkesan, komunitas hanya menjadi objek.

Masing-masing dari kita bisa mulai mencatat pengeluaran harian keluarga, sehingga sebulan ke depan bisa diteliti porsi pengeluarannya. Akan terbaca mana saja yang bisa direduksi dan peluang apa saja yang bisa dikerjakan. “Dadi siki sing penting kepriwe carane awake dhewek kuwe: ora apa-apa tuku”, pesan dari Bapak Pergerakan Sosial asli Banjarnegara tersebut dengan dialek Banyumasannya.

Buku dan Merchandise