Bertemu Dalam Satu Oase

Apa yang menggerakan banyak orang datang ke Maiyahan Mocopat Syafaat? Jawaban dari pertanyaan ini bisa beragam. Bisa karena kerinduan, bisa juga karena ingin mendapatkan pencerahan, atau karena rasa penasaran atas cerita teman, dan beragam kemungkinan lain. Hal yang pasti, acara yang digelar setiap tanggal 17 ini, selalu dinanti, dikangeni, dan oleh karenanya selalu dibanjiri jamaah.

Penting diketahui bahwa sejarah atau cikal bakal maiyah, tidak lain yaitu pengajian Padhangmbulan yang sudah berlangsung sejak 1993, di Desa menturo Sumobito Jombang Jawa Timur. Padhangmbulan sendiri bukan merupakan keinginan atau kemauan dari Cak Nun (Mbah Nun), melainkan atas banyak permintaan dari masyarakat yang ingin ketemu Mbah Nun, terutama yang berada di wilayah jawa timur dan sekitarnya. Maka dalam suatu rembug keluarga tahun 1992, diperoleh keputusan bahwa Mbah Nun dan keluarga bertemu sebulan sekali bertepatan pada bulan purnama. Maka menjelma, dan disebutlah pengajian Padhangmbulan.

Kini Maiyah sudah tersebar ke hampir seluruh nusantara bahkan luar negeri. Tetapi, dan ini yang menurut penulis sangat unik, membuat betah dan ngangeni, yaitu meski disebut pengajian, di Maiyah siapapun diterima dengan tangan terbuka untuk mengikuti kegiatan tersebut.

Siapapun Anda, penganut agama atau keyakinan tertentu, seorang mahasiswa/wi, pedagang, pengurus partai, abdi masyarakat, ketua atau anggota ormas agama dan parpol? Seorang gelandangan, berprofesi kuli bangunan atau pemilik perusahaan? itu semua bukan nomor satu di Maiyah, melainkan hanya sektor-sektor fungsional. Dan di tengah sektor-sektor fungsional itu, kita semua akan ditarik ke dalam fungsi universal, yaitu sebagai abddullah (hamba Tuhan); berposisi sama, saling mengisi, saling sinergi.

Maka, bagi Anda yang pertama kali datang ke acara Maiyah, mohon jangan kaget jika di dalamnya yang anda temukan bukan kumpulan manusia dengan asesoris pakaian simbol ketaqwaan seperti misal; berbaju koko lengkap dengan kopyah, sarung dan surban. Tidak juga seorang muslimah lengkap dengan jilbab dan gamisnya. Melainkan kumpulan manusia dengan otentisitas, kepribadian, dan kediriannya masing-masing.

Jamaah Maiyah yang sedemikian heterogen itu, bersama shalawat, dzikir, dan syair kehidupan yang indah serta lagu-lagu yang dibawakan oleh KiaiKanjeng, lebur membaur dan nyedulur menjadi satu. Tidak ada penceramah tunggal layaknya pengajian pada umumnya. Bebas untuk membicarakan apa saja. Mulai dari sinergi ekonomi,  berbagi informasi apa saja, diskusi dan perdebatan politik, agama, pertanian, jalan berlubang, pendidikan dan seabrek curhat keruwetan hidup lain sebagainya.

Kecuali itu, hal yang harus dipedomani yaitu, terhadap pendapat, argumen, dan lontaran yang Anda munculkan di forum maiyah itu, jangan sampai ada niatan tidak baik atau getaran kebencian walau secuil. Ini berlaku tidak hanya kepada personal, kepada pihak golongan atau siapa saja yang tidak sepaham, bahkan kepada pihak yang membenci sekalipun, jangan! Dalam kebersamaan, kebebasan berpendapat dan berekspresi di Maiyah, batasannya hanya kepekaan bersama terhadap kebaikan bersama, yang dalam bahasa al-Qur’an tawashau bil haq watawashau bis shabr yaitu saling mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran.

Waba’du

Tanggal 17, adalah hari yang dinanti-nanti bagi jamaah Maiyah, khususnya jamaah Mocopat Syafaat. Hari di mana kerinduan bertemu dengan sosok yang kita semua takdzimi, Mbah Nun dan para Marja’ Maiyah serta KiaiKanjeng, yang dengan cinta dan ketulusan setia menemani jamaah, tertunaikan. Hari di mana rasa kangen bertemu dengan teman dan sahabat dari berbagai daerah, lintas profesi, lintas agama dan organisasi, terbayar. Hari di mana akan kita saksikan para penggiat maiyah, para relawan yang dengan ikhlas serius menyiapkan forum sedemikian elok.

Lebih dari itu, pada forum pengajian Mocopat Syafaat, jamaah maiyah dipertemukan dalam satu oase, Sinau Bareng mendekonstruksi sikap hidup yang membatasi diri pada wawasan sempit, sikap hidup yang kaku, taklid buta, jumud, tidak kreatif. Ya, melalui Mocopat Syafaat, kita belajar bersama untuk selalu waspada, berendah hati, sadar diri bahwa kebenaran-kebenaran selalu saja bersifat relatif, sehingga jangan sampai kita terjebak pada kebenaran kelompok, kebenaran orang banyak dan apalagi pada kebenaran diri sendiri.

Wallahu a’lam.

Buku dan Merchandise