Berkubang Kebencian di Rimba Medsos

Media sosial punya dua mata pisau. Di satu sisi berguna sebagai medium komunikasi, sedangkan sisi lain berpotensi membuat perpecahan. Medsos tak ubahnya seperti alat. Baik atau buruk tergantung penggunanya.

Apa saja kejahatan yang termediasi medsos? Mengapa pengguna melakoni perilaku tersebut? Identifikasi motif hingga respons mengenainya dibicarakan mendalam di forum Mocopat Syafaat, Rumah Maiyah, Kadipiro, malam ini (17/07).

Salah satunya potongan video dari akun Youtube CakNun.com yang dicuri, diedit serta dibubuhi judul bombastis sebelum diupload ulang. Selain oknum tersebut  melanggar hak cipta, hasil kompilasi miliknya berpretensi adu domba. Parahnya lagi tempelan itu tak menghiraukan konteks isi pembicaraan. Akibatnya isi pesan yang diterima audiens simpang-siur, bias. Bahkan banyak mengalami pemutarbalikkan fakta.

Jelas hal ini berbahaya. Mas Penyo, staff IT Progress, pernah melaporkan sebanyak 60-an lebih video dalam satu waktu karena terbukti mencuri dari akun Youtube CakNun.com. Juga pernah membuat sebuah channel dengan subscriber ratusan ribu ditutup permanen karena laporannya ke Youtube. “YouTube tidak kompromi dengan segala bentuk pelanggaran copyright karena jelas melanggar Community Guidelines Youtube sendiri,” jelasnya. Sejauh pengamatannya di rimba medsos, banyak juga akun yang mengatasnamakan Cak Nun. Bahkan beberapa mengklaim sebagai akun official.

Motif finansial merupakan alasan paling dominan. Mereka mengaku merampok konten karena urusan duit. Mas Penyo sempat mengirim pesan pribadi lintas medsos ke akun pencuri. Ia berharap ada pertemuan untuk sekedar silaturrahmi dan klarifikasi. Namun sampai saat ini, tak ada seorang pun yang datang. Minimal ada respon atau jawaban dari pihak bersangkutan, lanjutnya, itu sudah lumayan.

Cak Nun mengakui sebelum muncul medsos, pihaknya telah menerima fitnah serupa. Sejak era 70-an. “Salah paham seperti ini bukti ketidaklengkapan berpikir mereka. Akhirnya muncullah fitnah, rasan-rasan, bahkan sampai kebencian,” tuturnya.

Ia melihat ada yang belum selesai dari diri para pelaku itu. Bukti ketidakjujuran diri sendiri. Terlebih kebencian ini datang karena perbedaan (halauan) kepentingan politik. Tapi Cak Nun percaya sisi gelap kebencian adalah tertutupnya keterbukaan dan keengganan untuk bertabayun.

Kiai Muzammil melihat fenomena kebencian di medsos hendaknya perlu disikapi secara dewasa. “Justru kalau kita difitnah, maka oleh Tuhan orang yang difitnah itu terus mendapatkan pahala,” ungkapnya. Sebenang merah dengannya, Pak Tanto berpendapat bahwa selalu ada karma di balik itu.

“Saya percaya akan ada mekanisme Tuhan. Sesuatu akan dibalas dengan sesuatu,” tandasnya.

Buku dan Merchandise