Berjumpa dengan Kanjeng Nabi

Saya sangat kagum dan merasa cemburu kepada siapa saja yang pernah bertemu Rasulullah Muhammad Saw di dalam mimpinya. Lebih tidak terukur lagi kekaguman dan kadar cemburu saya kepada para Kiai, Ustadz, Habaib dan siapa saja yang sering dijumpai oleh Rasulullah Saw. Bahkan ada Habib yang hampir setiap malam berjumpa dengan Rasulullah Muhammad Saw. Betapa mulia akhlaq beliau, tak terkirakan tenteramnya jiwa beliau, alangkah bahagia hati beliau.

Tidak mungkin siapapun bisa berjumpa dengan Rasulullah Saw kalau beliau Rasulullah Saw sendiri tidak berkenan untuk menjumpainya. Kalau pakai idiom bahasa Jawa, kita semua bergairah untuk sowan menghadap Kanjeng Nabi, tetapi pertemuan itu bisa terjadi bukan karena sowan kita, melainkan semata-mata karena Kanjeng Nabi bermurah hati dan berkenan menemui kita.

Saya merasa cemburu dan hati saya menderita, karena ribuan kali saya berdoa, berniat sungguh-sungguh untuk sowan mendambakan pertemuan dengan beliau, tetapi belum satu kali pun Kanjeng Nabi berkenan menemui saya. Saya cemburu, bukan iri, dengki, hasad atau hasud. Iri dan dengki berasal dari kepentingan. Sedangkan rasa cemburu insyallah bersumber dari rasa cinta saya kepada beliau.

Orang yang Kanjeng Nabi berkenan menemui, mestinya ada sejumlah kriteria. Misalnya, pertama, ibadahnya khusyu’. Kedua, hatinya lembut penuh kasih sayang. Ketiga, pergaulannya penuh kesantunan dan kebijaksanaan.

Pasti saya belum memenuhi ketiga syarat rohaniah itu. Pertama, ibadah saya seperti orang lumpuh. Kedua, dalam hati saya masih ada kandungan sifat ketidakikhlasan, mungkin juga dendam, kekerasan dan kekejaman. Ketiga, dalam pergaulan atau silaturahmi, saya belum membuktikan karakter yang penuh kesantunan dan kebijaksanaan.

Pengakuan bahwa saya belum pernah bertemu dengan Rasulullah Saw dalam mimpi, tidak mungkin bohong. Sebab seseorang yang ditemui oleh Rasulullah Saw namun orang itu tidak mengakuinya, berarti ia menyakiti hati Rasulullah Saw. Tapi kalau orang belum pernah berjumpa Rasulullah mengaku berjumpa, apalagi sering dan bahkan hampir tiap malam, insyaallah Rasulullah Saw mengapresiasi dan memahaminya sebagai ekspresi cinta dan kerinduan.

Maka saya sangat kagum dan merasa cemburu kepada siapa saja yang pernah bertemu Rasulullah Muhammad Saw di dalam mimpinya. Saya merasa pencapaian hidup saya selama 67 tahun ini masih jauh dari memadai untuk memiliki satu serbuk kehormatan yang membuat Rasulullah Saw mungkin berkenan menemui saya. Rasanya saya masih sekadar seorang preman di pinggiran jalan kehidupan. Saya masih beralamat di dalam kegelapan, dengan kehidupan yang bergelimang kehinaan dan kerendahan.

La ilaha illa Anta, subhanaka inni kuntu minad-dhalimin. Rabbana dhalamna anfusana wa in lam taghfirlana wa tarhamna lanakunanna minal khasirin.

Buku dan Merchandise