Berbagi Cerita Bagaimana Tetap Survive dan Kreatif

Jum’at malam (28/8) diselenggarakan Kenduri Cinta di Rooftop Hotel yang sepi dan tidak mudah dijangkau. Akses pun sangat ketat, sehingga siapapun yang datang mudah dikontrol dan termonitor dengan baik.

Ini dilakukan semata-mata karena situasi saat ini belum memungkinkan diselenggarakan Maiyahan seperti sebelum datang pandemi Covid-19. Terakhir Kenduri Cinta berlangsung normal tatap muka adalah edisi bulan Maret 2020 lalu di area Plaza Teater Besar Taman Ismail Marzuki.

Pertemuan sederhana pun di Rooftop Hotel itu dikonsep sedemikian rupa. Memang tidak seideal Maiyahan seperti biasanya. Dalam 2 bulan terakhir penggiat Kenduri Cinta berembug mencari konsep Maiyahan yang efektif dan efisien, mengutamakan keselamatan bersama, tidak menimbulkan kekhawatiran, dan aman bagi semuanya, dan pilihan jatuh pada Rooftop Hotel.

Meskipun dilakukan secara sederhana, karena memang hanya dihadiri sekitar 50-an orang Jamaah Maiyah Kenduri Cinta, pertemuan itu tak berkurang makna muwajjahahnya terlebih setelah 5 bulan tidak terlaksana Maiyahan seperti biasanya di Jakarta. Semua yang datang patuh dengan protokol kesehatan. Memakai masker, mencuci tangan, dan duduk secara berjarak satu sama lain.

Waktu beberapa bulan terakhir secara psikologis tidak ringan kita jalani bersama. Beberapa sahabat harus mendahului menghadap Sang Khaliq. Seperti Almarhum Adi Kurdi, pemeran Abah dalam Film Terima Kasih Emak Terima Kasih Abah. Dan yang membuat kita semua sebagai Jamaah Maiyah cukup ambruk adalah berpulangnya Syaikh Nursamad Kamba. Momen malam itu pun terpanjatkan Al Fatihah untuk Syaikh Nursamad Kamba.

Pertemuan ini layaknya restart, memulai kembali. Suasana yang terbangun lebih intim, seperti rembug keluarga. Saling bercerita mengenai apa yang dilakukan selama 5 bulan terakhir dengan situasi yang dialami saat ini. Perjumpaan malam itu juga tak ubahnya ajang melepas kangen sesama jamaah dan juga penggiat Kenduri Cinta.

Dari cerita yang muncul malam itu, terasa bahwa Jamaah Maiyah sangat mampu untuk survive dalam kondisi seperti ini. Bedur dan Krist misalnya, dua musisi yang sering tampil di Kenduri Cinta mengisahkan bahwa sebagai musisi tetap harus produktif, meskipun hanya latihan mengasah kemampuan dalam bermusik, mengulik beberapa lagu, bahkan sampai menulis dan mengaransemen lagu-lagu baru.

Ada hal-hal “konyol” yang di satu sisi bisa ditangisi namun sekaligus juga bisa ditertawakan bersama. Misalnya, karena memasuki masa-masa lockdown, pendapatan menurun, bahkan mungkin sudah harus meminjam tetangga kanan-kiri, dan ketika sudah kepepet, beberapa aset yang ada dijual demi menyambung napas. Bisa jadi, lima bulan yang lalu, di rumah kita masih ada beberapa barang yang menjadi hiasan di dalam rumah, kemudian hari ini ternyata sudah tidak ada karena harus dijual. Tetapi kita tentu tidak lantas ambruk begitu saja. Awalnya menyedihkan, tetapi tidak membuat kita berlarut dalam kesedihan. Justru kita kemudian berani menertawakan betapa konyol hidup kita dalam menjalani siklus lima ulan terakhir ini. Toh pada akhirnya kita semua bersyukur karena masih survive hingga hari ini.

Lain lagi dengan kisah Ali, pemuda asli Ambon yang saat ini tinggal di Condet. Sebelum ditetapkan situasi Pandemi bahkan, ia menginisiasi membangun lumbung beras di kampungnya di Condet. Dengan semangat gotong royong, lumbung tersebut mampu mencukupi kebutuhan beras di kampungnya. Setelah lumbung beras ini berjalan stabil, Ali menggerakkan ibu-ibu di kampung memanfaatkan lahan yang ada di sekitar rumah untuk menanam sayuran seperti kangkung, terong, tomat, cabai dll. Bulan ini, beberapa ibu-ibu sudah merasakan panen hasil tanaman sayurannya.

Mungkin, di bulan pertama masa-masa lockdown, kita sempat ambruk, khawatir, takut, bahkan mungkin sampai phobia. Tidak berani keluar rumah, kalau terpaksa keluar rumah, ketika kembali ke rumah harus membersihkan diri terlebih dahulu sebelum berkumpul dengan keluarga. Kemesraan yang awalnya biasa dilakukan tanpa prosedur yang njlimet, kini terasa sedikit berbeda karena harus ada serangkaian prosedur kesehatan yang mesti dilakukan ketika kembali ke rumah.

Akhirnya, setelah menjalani bulan-bulan awal yang mengkhawatirkan, kini kita semua sudah terbiasa dengan situasi yang ada. Hal-hal yang awalnya aneh dilakukan, kini menjadi hal yang wajar-wajar saja. Yang dulunya wajar, kini menjadi hal yang tidak bisa kita lakukan dengan bebas. Untuk sekadar cangkruk dan ngopi bareng saja, kita harus jaga jarak dan tidak sebebas dulu.

Malam itu, Mas Beben dan Ustadz Norshofa Thohir juga bergabung melangkapi kegembiraan bersama. Mas Beben menceritakan bahwa tidak mudah menjalani masa-masa pandemi ini pada awalnya. Ia merasakan seperti halnya teman-teman lainnya merasakannya. Menurunnya pendapatan sementara kebutuhan setiap bulan tetap harus dipenuhi. Yang membahagiakan bagi Mas Beben, sekarang ia membuka kelas musik online yang ternyata menjangkau masyarakat yang lebih luas. Mas Beben sedikit menyesal kenapa baru sekarang ia membuka kelas online belajar musik. Tetapi, bukankah memang kita terbiasa kreatif saat kepepet?

Ustadz Noorshofa lantas menyampaikan satu hikmah yang diambil dari pertemuan Nabi Musa As dengan Nabi Khidlir As. Menurut Ustadz Noorshofa, satu ilmu yang paling penting dari pertemuan dua Nabiyullah itu adalah ilmu kesabaran. Kita semua mengetahui bahwa Nabi Musa As adalah Nabi yang paling cerdas. Tetapi ketika Nabi Musa As bertemu dengan Nabi Khidlir As, ia tidak memiliki kesabaran. Padahal saat itu Nabi Musa As diperintah oleh Allah Swt untuk belajar kepada Nabi Khidlir As.

Kesabaran. Inilah yang juga sedang kita butuhkan saat ini. Kesabaran dalam menjalani ujian Allah, kesabaran dalam memahami situasi, sehingga selalu mempertimbangkan segala hal sebelum melakukan sesuatu. Kesabaran dalam disiplin mematuhi protokol kesehatan, menggunakan masker, selalu cuci tangan dan jaga jarak. Kesabaran dalam menyadari bahwa kita harus saling mengamankan satu sama lain. Yang utama saat ini bukan diri kita yang aman, melainkan memastikan apakah kita aman bagi orang lain atau tidak.

Sudah pasti kita semua rindu dan kangen untuk Maiyahan lagi seperti biasanya. Namun, sutuasi dan kondisi saat ini belum memungkinkan sehingga Maiyahan baru bisa diselenggarakan secara terbatas. Tidak mungkin langsung kembali seperti sedia kala. Harus dimulai secara perlahan. Teman-teman penggiat Kenduri Cinta pun masih terus merumuskan beberapa hal teknis terkait penyelenggaraan Kenduri Cinta selanjutnya.

Tentu dukungan teman-teman Jamaah Maiyah Kenduri Cinta sangat terbuka, jika ada yang merekomendasikan tempat yang lebih lega dan menampung lebih banyak orang, dan dengan tetap memberlakukan protokol kesehatan. Jika ada yang memiliki tempat untuk direkomendasikan sebagai tempat penyelenggaraan Maiyahan Kenduri Cinta bisa menghubungi Contact Person penggiat Kenduri Cinta: Heri Prasetyo (082245987859) atau Teguh (087782223025) untuk kemudian dirembug bersama-sama.

Tidak sampai larut malam, pertemuan sederhana Kenduri Cinta malam itu dipungkasi tepat pukul 23.00 WIB. Doa bersama dipanjatkan dengan dipimpin oleh Ustad Noorshofa, mendoakan kesehatan dan keselamatan bagi Mbah Nun, seluruh Jamaah Maiyah dan juga mengirimkan Al Fatihah untuk Almarhum Syaikh Nursamad Kamba. Shalawat Asyghil memuncaki perjumpaan malam itu.

Buku dan Merchandise