Bencana Yang Sesungguhnya

Corona, 13

Coronavirus lebih populer dari apa pun dan siapa pun saja hari-hari ini di seluruh dunia. Sebabnya adalah karena membuat semua ummat manusia menderita. Andaikan Coronavirus itu membahagiakan dan menggembirakan, ia tak sepopuler sekarang. Andaikan Coronavirus adalah nutrisi unggul, gizi tertinggi, zat utama kesehatan, atau ia rahmat, berkah dan hikmah langsung bagi kehidupan manusia, ia tidak seterkenal sekarang.

Penderitaan lebih berbobot dibanding kebahagiaan. Rasa sakit lebih dirasakan oleh manusia dibanding rasa sehat. Rahmat Allah kalah daya tekannya atas kehidupan manusia dibanding adzab. Disiksa lebih merupakan peristiwa psikologis dibanding dimanja. Kebangkrutan lebih parah diratapi dibanding disyukurinya kesuksesan pada kehidupan manusia. Mungkin kalau diperluas atau diperpanjang, ngeri kepada neraka lebih merupakan atmosfer kejiwaan manusia dibanding kerinduannya kepada nikmatnya sorga.

Tidak bisa disimpulkan apakah memang demikian Tuhan menciptakan jenis formula kejiwaan manusia. Ataukah manusia kurang membangun keseimbangan nilai-nilai dengan akalnya. Atau ada semacam mekanisme di mana kalau dikasih minum pahit orang langsung tersedak dan cenderung memuntahkannya, sementara kalau dikasih minuman manis ia tidak serta merta menghayati kenikmatannya, karena tidak ada mekanisme komparasi otomatik pada alam pikiran manusia untuk membandingkan pahit dengan manis.

Kalau manusia disakiti atau disiksa, ia langsung menghayatinya. Tapi kalau dikasih kenikmatan, ia memerlukan dua tahap untuk sampai pada substansinya. Yakni tahap penghayatan, pembandingan atau komparasi. Perlu rentang waktu untuk melakukan intelektualisasi atas apa yang ia alami.

Firman Allah di dalam surat Al-An’am 44: “Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa”.

Manusia selalu “telmi” atau telat mikir. Sesungguhnya antara kegembiraan dan siksaan adalah dua kemungkinan yang seimbang. Ketika manusia sakit, ia selalu siap untuk sehat. Dan tatkala ia sehat, juga senantiasa siap untuk sakit. Tetapi tidak demikian manusia. Kalau sedih, bergembiralah karena digelombangkan oleh Tuhan kesedihan dengan kegembiraan. Demikian juga tatkala bergembira, berprihatinlah karena bisa jadi kemudian kegembiraanmu dipangkas dan digantikan oleh kesedihan.

Pada saatnya nanti Coronavirus akan reda. Dan kata Tuhan: “Dan jika Kami rasakan kepadanya kebahagiaan sesudah bencana yang menimpanya, niscaya dia akan berkata: ‘Telah hilang bencana-bencana itu daripadaku’. Sesungguhnya dia sangat gembira lagi bangga”. “Kecuali orang-orang yang sabar (terhadap bencana), dan mengerjakan amal-amal saleh; mereka itu beroleh ampunan dan pahala yang besar”.

Perhatikan pernyataan Allah itu: kecuali orang-orang yang sadar terhadap bencana dan mengerjakan amal saleh, mereka itu beroleh ampunan dan pahala yang besar. Tidak ada informasi tentang kesembuhan, hanya “ampunan dan pahala”. Jadi jangan hardik siapa pun yang tidak sembuh dari Corona, bahkan diambil nyawanya oleh Allah. Jangan pula bangga sembuh dari Corona. Karena menurut Allah bencana yang sejati bukanlah sakit dan mati, melainkan tidak mendapatkan ampunan dan pahala.

Konsep atau pemahaman atau logika tentang bencana seperti yang Tuhan tuturkan itu hampir tidak terdapat pada narasi apa pun dan mana pun tentang Corona. Tidak seorang pun menyebut probabilitas misalnya bahwa Corona ini hanyalah satu output sangat kecil dari keadaan di mana ummat manusia punya masalah serius dengan Tuhan. Peradaban kita ini peradaban konflik dengan Tuhan.

Pemahaman semacam itu sama sekali tidak populer. Tidak mungkin menjadi mainstream berpikir global, nasional, bahkan pun mungkin lokal. Ummat manusia di muka bumi, Negara-negara, para pemimpin nasional dan dunia, tidak merasa ada masalah dengan Tuhan. Allah menginformasikan: “Apa saja nikmat yang kamu peroleh, itu adalah dari Allah; dan apa saja bencana yang menimpamu, maka itu bersumber dari kesalahan dirimu sendiri”.

Presiden mana, macam-macam pemimpin mana, universitas dan sekolah apa, doktor profesor mana, yang menyetujui paparan Allah swt itu? Tidak ada narasi, perilaku, keputusan, langkah-langkah atau strategi-strategi apa pun di Negara mana pun yang mencerminkan bahwa mereka sependapat dengan Allah. ***

Buku Cak Nun Majalah Sabana