Belajar Sanad Nilai Kemanusiaan kepada Pengemudi Bentor

Melalui obrolan santai bersama kawan tema kami tidak sengaja bergeser ke soal sanad. Ia bertanya, “Apa yang ente tulis selama ini sanadnya dari mana?” Nah, modarlah saya. Namun, demi menjaga persahabatan sekaligus menjernihkan tema, pertanyaan itu malah saya tegaskan lagi: “Dari mana atau dari siapa?”

Sepanjang perjalanan dari Jombang hingga Nganjuk saya mendengarkan pituturnya tanpa satu pun keluar dari mulut saya kalimat yang membantahnya.

Obrolan beberapa tahun lalu itu saya syukuri sebagai bentuk kemurahan Tuhan. Saya bisa sinau tentang formalisme agama. Bahkan pun ketika saking semangatnya sahabat saya memberi wejangan hingga keluar dari konteks, saya menyambutnya dengan rasa syukur yang berbunga-bunga.

Prinsipnya gampang: tidak ada yang buruk selama kita sanggup mengolahnya di ruang berpikir yang jernih. Kita akan baik-baik saja. Yang tidak baik-baik saja justru yang mengatasnamakan kebaikan lalu menyampaikannya secara tidak baik.

Juga perihal sanad. Kita perlu membaca dan menerapkannya sesuai konteks supaya tepat ordinat ruang dan waktunya. Dan karena hidup adalah pendidikan, belajar sepanjang usia, sinau selama hayat dikandung badan — kita pun bisa berguru kepada peristiwa-peristiwa. Salah satunya dari pengalaman berikut ini.

Dini hari pulang Maiyahan dari Surabaya saya dapat tunutan bareng Mas Pram. Rumah saya di Jagalan, Jombang kota. Kurang pantas kalau saya ngranoi minta diantar sampai ke rumah. Saya pun turun di sebelah flyover Peterongan, Mas Pram dan Mbak Yuli langsung tancap gas ke utara menuju Sumobito.

Jam tiga pagi jalanan di sekitar flyover lengang. Tilang tilung saya mencari becak. Saya menyalakan rokok sembari duduk di depan teras toko. Seorang bapak tua menghampiri, “Becak, Mas?”

Dini hari yang basah. Angin berhembus kencang. Dingin menggigit badan saat saya duduk di atas becak motor yang melaju dengan penerangan yang minimalis. Saya bersedekap karena tidak memakai jaket.

Di sekitar desa Sumber becak berhenti. Saya pikir mesinnya mogok. Bapak tua mendekati saya yang katisen menahan dingin. Ia lantas melepas jaketnya. “Pakai ini, Mas,” katanya. Awalnya saya menolak karena tidak tega badannya yang sudah tua terpapar angin. Ia meyakinkan saya bahwa angin pagi adalah sahabatnya. Saya pun memakai jaket yang terlalu tipis untuk disebut jaket. Becak motor kembali melaju.

Nah, kebaikan hati bapak tua itu sanadnya dari mana atau dari siapa? Kepada siapa ia menyanadkan perbuatan baiknya? Untuk mentadaburi “ayat jaket” tersebut di sisi manakah kita menemukan urgensi sanad?

Pertanyaan ini mungkin terlalu naif dan mengada-ada walaupun bisa ditemukan jawabannya. Sanad memang memiliki peran fundamental dalam kajian ilmu hadis, tafsir, thariqah hingga bacaan Al-Quran. Ulama Abdullah bin Mubarak menyebutkan, “Isnad adalah sebagian dari agama. Tanpa sanad siapa saja akan berbicara apa yang ia kehendaki.”

Kita pun memerlukan pemahaman terhadap konteks kapan dan di mana sistem sanad bekerja. Saat fitnatul kubro melanda umat Islam, sanad hadir dalam tradisi keilmuan Islam, demikian ungkap Kyai Muzamil dalam dialog Sanad Ilmu menurut Kyai dan “Penyanyi”.

Apabila kita mencermati hal itu, sebagaimana Mbah Nun meresponsnya, fitnatul kubro tengah berlangsung hingga kini. Bahkan, jangan-jangan, lebih besar, lebih hebat, lebih nggegirisi.

Pelembagaan agama menjadi salah satu pemicunya. Sampai di sini saya teringat Syaikhuna Nursamad Kamba (Al-Fatihah untuk Beliau). “Sesekali, kita perlu keluar dari arus utama atau mainstream, agar dapat menangkap esensi agama dengan jernih sebagai kebangkitan nurani dan kebijaksanaan diri menjalankan nilai-nilai kemanusiaan,” ungkap Syaikh Qaryatul Ilmi dalam Agama Berorientasi Perilaku.

Perilaku bapak tua yang meminjamkan jaketnya adalah perilaku agama yang menjalankan nilai-nilai kemanusiaan. Namun siapa peduli ketika hegemoni sistem sanad terjebak pada fakta, meminjam ungkapan Syaikh Kamba: “Lembaga-lembaga keagamaan dan otoritasnya justru melakukan indoktrinasi eksklusif untuk menanamkan klaim kebenaran hanya ada di pihaknya saja.”

Gamblangnya, bukan sistem sanad yang hendak kita tuding, meskipun “sanad oriented” jadi bumerang yang melahirkan klaim dan sekat, misalnya ada ustadz sunnah dan ustadz bid’ah.

“Yang paling utama melanggar Agama adalah orang yang memasang agama sebagai lembaga, identitas, branding dan komoditas dan memasarkannya untuk keuntungan dunia,” ungkap Mbah Nun dalam Lembaga Agama.

Persoalan kita, pada akhirnya dan ternyata, lebih mendasar dari sistem sanad yang menjadi syarat “ilmiah” mempelajari agama. Tersisa ruang esensi beragama yang kita belum memasukinya secara sungguh-sungguh, total dan gembira. Kita belum nyilem ke dalam silmi.

Umat menyangga perilaku beragama dengan perasaan berat dan mbentoyong, tegang dan mata melotot. Beberapa hari rajin baca Yasin di kuburan dituding sesat. Sregep shalawatan dituduh bid’ah. Salaman selesai sembahyang diklaim bukan sunnah Nabi. Simbokne

Soal sanad hadis dan tafsir kita memiliki sejumlah pakar yang bisa diandalkan. Kalau mau serius dan total tugas kita adalah mempelajari prinsip dasar sanad, isnad, musnid, musnad. Dapatkah kita melacak akurasi berita menggunakan metodologi sanad, isnad, musnid dan musnad, misalnya untuk memverifikasi jumlah orang yang terinfeksi Covid di kota kita aslinya berapa?

Bukankah metodologi sanad, isnad, musnid dan musnad cukup efektif untuk mendeteksi “hoaks” hadis palsu, bacaan Al-Qur’an yang salah versi, atau jalur thariqah yang tidak mu’tabar?

Kalau Sofyan Ats-Tsaury menyatakan, “Sanad adalah senjatanya orang-orang beriman. Kalau bukan dengan senjata itu, lalu dengan apa mereka berperang?” — bukankah kita juga berperang melawan desas-desus, berita, kabar, hoaks yang waswasa yuwaswisu?”

Kita bukan hendak menurunkan kualitas metodologi periwayatan yang melibatkan manusia-manusia suci penjaga agama untuk urusan “di luar” agama. Kita perlu belajar melakukan transformasi sistem berpikir “sanady” supaya tidak diapusi “hadis” palsu tentang siapa pemimpin, pemerintah dan penguasa.

Kalau itu masih terlalu rumit, mari belajar menjadi manusia kepada bapak tua pengemudi bentor di pertigaan flyover Peterongan.

Jagalan, 1 Desember 2020

Lainnya