Belajar Mendidik dari Sang Pendidik

“Orang itu kan ya macam-macam. Ada yang segala sesuatunya direncanakan sedemikian rupa. Ada juga yang ya sudah pokoknya mengalir saja. Nah, saya ini termasuk orang-orang yang mengalir.” Kurang lebih begitulah yang disampaikan Mbah Guru Fuad waktu itu.

Belum Pernah Tidak Serius

Di lain sisi, saya melihat Mbah Fuad adalah sosok yang sangat detail. Untuk mengisi kajian-kajian pun, beliau mempersiapkan kurikulum dengan sangat rapi. Beliau kurang berkenan jika mengisi kajian yang bukan rutinan. Hanya sekali dua kali ‘tatap muka’ saja. Menurut beliau, materi yang akan disampaikan menjadi kurang maksimal jika tidak dilakukan secara ajeg dan berkelanjutan.

Ramadlan lalu, saya berkesempatan turut menyimak Sinau Bahasa Arab Qur’ani (SIBAQ). Suatu program belajar Bahasa Arab yang ditujukan untuk memahami ayat-ayat suci Al-Qur’an. Program ini diinisiasi dan difasilitasi oleh Mbah Fuad bersama keluarga. Bu Ud-istri Mbah Fuad, Mas Ai, dan Mbak Illah-putra-putri Mbah Fuad juga turut berperan sebagai fasilitator di kelas online ini.

Meskipun kelas ini diadakan secara online tapi tidak mengurangi kekhidmatan para peserta menyimak Mbah Fuad bersama Ustadz Muhaiban dalam menyajikan bahasan. Materi disajikan melalui video dan divisualisasikan secara jelas. Mbah Fuad dan Ustadz Muhaiban secara bergantian menyampaikan topik yang dibahas. Setelah materi disajikan, peserta SIBAQ yang cukup heterogen itu dipersilakan untuk berdiskusi jika masih ada yang belum dipahami sampai batas waktu yang telah disepakati bersama.

Sebagai evaluasi proses pembelajaran, peserta dipersilakan mengerjakan tugas yang berkaitan dengan materi sebelumnya. Tugas yang sudah selesai dikerjakan bisa di-share di grup WhatsApp untuk mendapatkan feedback dari para penyaji dan tim fasilitator. Meskipun peserta SIBAQ berasal dari berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa, pekerja swasta, dokter, dosen, sampai pensiunan dosen, namun ketelatenan para tim penyaji dan fasilitator ini sangat membantu memudahkan transfer ilmu dan pengetahuan selama proses pembelajaran.

Dalam mendidik, beliau juga tak hanya melakukan transfer pengetahuan saja. Tak jarang, beliau memberikan kepercayaan langsung kepada ‘murid’ untuk mempraktikkan apa yang telah didapatkannya.

Memberikan Kepercayaan

Pertengahan Januari lalu, Mbah Fuad menjadi salah satu panitia reuni Abu Sittin, reuni alumni Pesantren Gontor tahun ’60-an yang bertempat di Kota Batu, Malang. Dalam acara ini, beliau sengaja melibatkan Mbak Illah dan beberapa Jamaah Maiyah Relegi putri untuk mempersiapkan acara ini, terutama untuk urusan katering. “Biar belajar mengurus katering,” kurang lebih begitulah Himma menirukan Mbah Fuad.

Tidakkah pengetahuan akan lebih menancap ketika bisa langsung diaplikasikan? Seperti ungkapan Jawa, bahwa ilmu kelakone kanthi laku. Sekalipun itu hanya sekadar mempersiapkan sajian makanan, dengan langsung terjun di lapangan, kita bisa menjadi lebih paham bagaimana cara menyajikan suguhan yang baik.

Dengan belajar terjun langsung di ‘lapangan’, kita menjadi lebih tahu, sajian apa yang pantas dan pas berdasarkan usia orang-orang yang akan menikmati sajian itu. Termasuk, mana yang sebaiknya disajikan untuk makan siang. Begitu pula di malam hari, apa yang sebaiknya kita suguhkan. Dengan jumlah peserta sekian, seberapa kira-kira suguhan yang perlu kita persiapkan. Jika peserta datang ke lokasi jam sekian, kapan sebaiknya kita mulai mempersilakan para tamu undangan untuk menuju meja makan. Bukan hanya itu saja, rasa, kandungan gizi, tampilan, kepraktisan tata letak sajian, semua harus dipastikan ‘layak’ dan benar-benar pas. Kemudian bagaimana kita berkoordinasi dengan tim-tim lainnya juga perlu diperhatikan.

Sekilas memang tampak sederhana. ‘Hanya’ mempersiapkan sajian makanan. Tapi, ketika sudah dirinci satu persatu, ternyata tidak sesederhana yang ada di bayangan.

Mempercayakan sesuatu kepada orang yang belum berpengalaman, apalagi di event besar, tentu bukanlah tanpa risiko. Namun, Simbah Guru Fuad berani dan sabar melakukan itu.

Sebagai perbandingan, coba kita bayangkan, bagaimana sikap kita saat kita mempercayakan sesuatu yang cukup penting pada seseorang yang kita sendiri belum pernah melihat orang itu berpengalaman terjun langsung di dunia tersebut. Saya pribadi, terkadang masih suka was-was, dan kadang juga kelepasan tidak sabar turut mengintervensi ataupun campur tangan saat orang yang kita amanahi tersebut melakukan kewajibannya. Artinya, memberikan kepercayaan pada orang lain itu pun ternyata juga tak semua orang mampu melakukannya.

Dan jika dilihat, dampaknya pun memang berbeda juga. Bagaimana kinerja kita saat kita benar-benar diberikan kepercayaan, dengan ketika kita diminta melakukan sesuatu, tapi selalu dicurigai. Melakukan ini sedikit langsung diprotes, diminta ke sana. Setelah ke sana, diminta putar balik. Padahal, akad awalnya adalah bagaimana dari A agar bisa sampai ke Z, misalnya. Dan dari A ke Z ini banyak sekali jalannya. Bisa jadi, jalan yang ada di bayangan kita tidak selalu sama dengan yang ada di bayangan yang memberikan amanah kepada kita. Tapi, saat kita melakukan sesuatu yang berbeda sedikit sudah diprotes, padahal tujuannya juga sama-sama untuk sampai ke Z. Tentu rasanya juga akan sangat berbeda dengan ketika kita diberikan kepercayaan penuh. Psikologis kita pun jadi lebih tenang, dan hasrat untuk ingin memberikan yang terbaik juga semakin besar.

Kalau dilihat dari sini, apa yang dilakukan Mbah Fuad, bagaimana beliau mendidik ini bisa dibilang sangatlah rapi. Diperhitungkan dengan amat matang. Tapi, kenapa beliau sempat menyinggung kalau beliau termasuk orang-orang yang mengalir? Bukan termasuk orang-orang yang direncanakan segala sesuatunya? Lantas, yang dimaksud direncanakan di sini itu imbalannya, ataukah cara menjalaninya, atau apanya? Tidak merencanakan ke mana, tapi bersungguh-sungguh menjalani yang ada, ataukah bagaimana?

Ah, Mbah Fuad, semoga panjenengan disehatkan selalu, dikuatkan selalu. Semoga, kami masih diberikan kesempatan untuk ‘menjahit’ sampel-sampel uswah yang panjenengan teladankan, dan kami persembahkan sebagai bagian kecil dari ‘perhiasan’ atas apa yang sudah panjenengan bekalkan kepada kami dengan penuh kasih sayang.

Buku dan Merchandise