Azwaj

Kalau Maiyahan, sejak awalnya dulu hingga kini, tidak ada pemisahan tempat dan posisi antara laki-laki dengan perempuan. Tidak ada garis, kain, atau apapun yang memisahkan antara pria dengan wanita. Mereka bercampur aduk. Alasan teknisnya, kalau di Masjid, ruangan dalamnya bisa dikasih pembatas. Tapi kalau Maiyahan di lapangan, di kebun, atau tempat-tempat yang tata ruangnya tidak menentu — tidak mudah untuk dikasih garis pembatas, hampir mustahil dilaksanakan pemisahan gender.

Alasan lain, yang sebenarnya lebih mendasar, lebih dewasa dan mengutamakan kesadaran, tidak teknis sifatnya. Muncul dalam dialog-dialog di Maiyahan, misalnya “Di forum ini tidak ada laki-laki dan tidak ada perempuan. Yang ada adalah manusia. Tolong di-manage sendiri dan gunakan etika bersama kalau ternyata ada yang pria dan ada yang wanita. Sebab aslinya laki-laki dan perempuan itu adanya di dalam kamar masing-masing. Di Maiyahan ini yang hadir adalah manusia, yang bersama-sama meneguhkan cintanya kepada Allah, melantunkan cintanya kepada Kanjeng Nabi, serta mengukuhkan perjanjian sosialnya untuk saling sayang dan tolong-menolong satu sama lain”.

Ummat Maiyah sering mendapat pertanyaan dari yang di panggung: “Apakah di Maiyahan laki-laki dan perempuan saling terangsang satu sama lain?”

Selama ini mereka menjawab: “Tidak”.

“Apakah pernah ada masalah laki-laki dan perempuan tidak dipisahkan?”

“Tidak”

“Kok tidak?”

“Karena di Maiyahan tidak ada laki-laki dan perempuan. Yang hadir semua adalah manusia”.

Kalau kepada seorang perempuan secara khusus ditanyakan: “Lho kan Anda perempuan?”

Ia menjawab: “Saya tidak datang ke sini sebagai perempuan, tapi sebagai manusia, meskipun ada hal-hal yang saya perlukan dari Maiyah ini untuk keperempuanan saya, tetapi saya tidak membawa keperempuanan saya ke sini, apalagi dengan kesadaran yang mengutamakan penampilan fisik sebagai perempuan”.

Ketika bersekolah di awal SD di Lampung, Sabrang sering mengalami pemisahan antara laki-laki dan perempuan baik di Sekolah maupun di tempat lain. Sabrang bilang ke saya: “Itu yang malah menajamkan perbedaan antara laki-laki dengan perempuan. Saya masih kecil tapi selalu dipaksa-paksa oleh keadaan itu untuk melihat diri saya sebagai laki-laki”.

Nanti kalau kita Maiyahan lagi, akan kita tambah pertanyaan kepada Ummat Maiyah: “Jadi apakah Ummat Maiyah tidak setuju pada kesetaraan gender? Kok mencampur antara laki-laki dan perempuan, seperti tidak membedakan di antara mereka?”

Saya yakin Ummat Maiyah akan menjawab dengan tradisi kedewasaan mereka: “Yang lebih tinggi dari kelelakian dan keperempuanan adalah kemanusiaan. Laki-laki dan perempuan adalah sub-karakter. Tidak ada otak laki-laki dan otak perempuan. Tidak ada keterampilan, kefasihan, kepandaian atau kebodohan yang berciri gender. Tidak ada kesetaraan gender. Laki-laki dan perempuan berbeda sangat mencolok, secara fisik maupun psikologis. Yang ada adalah “human equality”, kesetaraan manusia, bukan “gender equality”, karena laki-laku dengan perempuan sama sekali tidak setara. Dan tidak setaranya laki-laki dengan perempuan sama sekali tidak berarti laki-laki lebih unggul dari perempuan. Sangat bisa sebaliknya. Justru karena itu mereka berjodoh. Mereka adalah “azwaj”. Kalau laki-laki dengan perempuan sama dan setara, mereka tidak bisa menempuh “azwaj”.

Ketidaktepatan melihat kehidupan, melahirkan ketidaktepatan kata dan bahasa. Dan ketidaktepatan pandangan hidup, kata dan bahasa, melahirkan ketidaktepatan ideologi, kemudian melahirkan peradaban yang tidak tepat dan mengancam kehidupan manusia itu sendiri. Sebagaimana manusia modern ngotot mengakomodasi homosexsualisme dan lesbianisme yang tidak ada prospek masa depannya, tidak berfungsi untuk pelestarian populasi manusia dengan peradabannya.

Buku dan Merchandise