Azas Manfaat dan Kemampuan Menikmati Kehidupan

Bangbang Wetan Edisi Januari 2020

Kita mengawali rutinan Majelis Masyarakat Maiyah Bangbang Wetan yang bertempat di Lapangan UNESA (Universitas Negeri Surabaya) Kampus Ketintang. Jl. Ketintang, Kel. Ketintang, Kec. Gayungan, Surabaya, dengan lebih bersemangat untuk terus belajar, menemukan pertanyaan-pertanyaan dalam hidup untuk untuk mengaktivasi alat pembelajaran di otak dan hati kita. Sebagaimana pesan Mbah Nun di Padhangmbulan kemarin, “Anda harus rajin bergaul dengan pertanyaan, supaya Anda lebih kreatif menentukan kebijakan dalam diri Anda.”

Berangkat dari tema “Mengapa Harus Mahal?” Ini kami Sinau Bareng tentang pendidikan, melanjutkan pembahasan di Padhangmbulan yang temanya juga pendidikan.

Majelis rutinan kita awali dengan membaca surat Yasin dan Al-Hasr dan dilanjutkan mewiridkan wirid Maiyah dan bershalawat sebagai setoran katresnan kita kepada Allah dan Nabi Muhammad agar selalu menemani niat baik dan langkah kita menyambut getaran hidayah menjadi bagian dari kaum baru yang mencintai Allah dan Allah mencintanya.

Alam langsung menjawab niat baik kita dengan menurunkan air hujan yang menyegarkan suasana Sinau Bareng kita semalam. Jamaah yang hadir ada yang ngiyup juga ada yang tetap duduk di tempatnya semula untuk menikmati hujan yang merasuk ke pori-pori menjadi wasilah Allah untuk menurunkan hidayah bagi kita semua.

Grup musik reggae Tiga Warna Musik Surabaya urun kesegaran dengan membawakan nomor-nomor musik reggae-nya yang santai, namun bermakna. Salah satunya nomor Man dengan lirik Suroboyoan yang menceritakan kisah kehidupan seorang Man dalam keluarganya.

Menggembirakan suasana jamaah yang hadir dengan tertawa bersama menambah hawa kehangatan jamaah dalam persaudaraan.

Dek Prabu Alif “Sang Drummer Kid” yang masih bersekolah SD mempersembahkan keahliannya dalam membaca puisi dan memainkan drum set dengan hentakan-hentakan semangat sebagai ciri khas getaran energi perubahan pemuda. Sebagai wujud muroja’ah kami kepada apa yang ada pada diri Dek Prabu Alif.

Mas Jufri dan Mbak Marhamah hadir untuk sharing pengalamannya tentang pilihan mengambil sikap pendidikan home schooling untuk anak-anaknya. Dek Damar, anaknya Mas Jufri, juga mempersembahkan bakatnya memainkan biola, dengan nada lagu Gambang Suling.

Kita bermuroja’ah kepada siapapun dan apapun saja, agar mengerti azas manfaat pada diri masing-masing Jamaah. Terbukti hadirnya Grup Musik Reggae Tiga Warna Musik, Mbak Yuli, Dek Prabu Alif, dan Dek Damar mampu menyumbang kegembiraan dan kehangatan kita semalam.

Mas Seno sebagai pemuda pergerakan SMA di Surabaya menyampaikan pandangannya tentang pendidikan. Menurutnya, pendidikan yang sebenarnya ada di Maiyah. Di Maiyah kita baru belajar sesuatu yang tidak dibelajari orang lain. Karena di Maiyah ongkosnya bukan uang melainkan cinta.

Selanjutnya Tiga Warna Musik featuring Mbak Yuli membawakan nomor Kangen dari Dewa. Menyambut kehadiran Mbah Nun yang kita rindukan hadir dan cintanya untuk membersamai dalam Sinau Bareng malam ini. Setelah nomor lagu selesai dibawakan, Mbah Nun hadir membersamai kita dengan ditemani Pak Suko Widodo, Pak Zainal, dan disusul Kyai Muzammil.

Mas Amin nglemeki diskusi malam ini bahwa, Bangbang Wetan ini forum egaliter, forum kita bersama. Dipersilakan untuk teman-teman jamaah yang ingin menampilkan bakat anaknya di Forum Bangbang Wetan yang akan datang.

Pak Suko Widodo dosen Unair menyampaikan bahwa kunci pendidikan sebenarnya adalah srawung. Negara butuh pemuda untuk mengadakan revolusi pendidikan di desa. Ada yang salah ketika melakukan sekolah dan kuliah dengan bertujuan mencari kerja. Pak zainal dari PENS turut berpendapat bahwa yang terpenting adalah proses pendidikannya. Yang terpenting di dalam hidup kita adalah punya sikap dalam mengambil keputusan.

Kyai Muzammil punya perspektif berbeda. Menurutnya, di dalam pendidikan: ada model pendidikan kulliyah, dan ada model Juz’iyah. Kalau kullyah adalah model pendidikan yang bersifat universal, sedangkan juz’iyah bersifat fakultatif.

“Bangsa Indonesia selama ini menjalani sejarah adopsi bukan kontinuasi. Gunanya manusia adalah mampu menentukan dan memilah mana yang kita kontinuasi, dan mana yang kita adopsi,” pemantik Mbah Nun mengawali diskusi. Beliau mengingatkan kita tentang perlunya meneliti kembali apa saja yang ditentukan Tuhan atas diri kita.

“Kita banyak melakukan salah-salah dalam hidup ini, maka kita terus-menerus berusaha melakukan muroja’ah, muhasabah, dan  mujahadah. Salah satu aktivasi muroja’ah adalah menghitung dan memahami kembali apa yang kita lakukan selama ini. Pokoknya segala sesuatu harus sampai pada ibunya. Ibu adalah pangkal seluruh muatan ilmu. Maka, Al-fatihah disebut sebagai Ibu Al-qur’an, yaitu pangkal dari seluruh muatan ilmu dari Al-Qur’an,” Mbah Nun meneruskan.

Azas Manfaat dan Asal-Usul Penciptaan

Mbah Nun menekankan kepada semua Jamaah yang hadir bahwa sebelum melakukan segala sesuatu dalam diri kita, harus kita ukur azas manfaatnya bagi sekitar. Karena menurut Mbah Nun identitas diri itu tidak penting. Entah bernama jin atau menusia. Yang penting itu kita bisa melakukan apa, dan atas pertimbangan manfaat bagi sekitar.

Mbah Nun melengkapi pemahaman kita terhadap kehidupan dengan mengajak kita memahami asal-usul penciptaan. Allah pertama kali menciptakan Cahaya Muhammad. Dari cahaya itu, Allah menciptakan malaikat. Dari endapan api, Allah menciptakan jin. Sebelum penciptaan jin, ada banujan. Malaikat azas hidupnya adalah kepatuhan. Sedangkan jin azasnya terbalik yaitu kebebasan. Kemudian manusia diciptakan sebagai penyeimbang antara kebebasan dan kepatuhan. Sehingga ketika kita salah manajemen akan merusak dunia.

Eksplorasi Tujuan Hidup

Tentang hidup ini, Mbah Nun mengajak kita berpikir kembali. “Hidup itu ternyata arah. Sekarang goal mu itu apa dalam kehidupan ini? Tujuan hidup Anda yang menentukan adalah Allah. Karena Allah yang menciptakan Anda. Sekarang tujuan Anda akhirat atau dunia? Perjalanan kita sebenarnya menuju akhirat, tetapi yang menjadi fokus tujuan bangsa kita ini mencari dunia. Bahkan Setiap hari yang dikeluhkan mengenai dunia. Yang penting kita hidup tetap berada pada ruang fal ya’budu rabba hadzal bait. Kedepannya menjadi apa saja terserah Allah, asal selalu bermanfaat.”

Terakhir Mbah Nun meneguhkan hati kita agar siap menjalani proses kehidupan. Menurutnya, “Yang kita ajarkan di Maiyah adalah kemampuan menikmati kehidupan. Sehingga output-nya bersyukur kepada Allah. Tidak masalah Maiyah tidak ada gunanya bagi Indonesia, maka kita memohon kepada Allah agar bermanfaat bagi lingkungan sekitar kita.”

Kurang lebih pukul 03.00 WIB menjelang Subuh, Sinau bareng kita pungkasi dengan bershalawat kepada Kanjeng Nabi Muhammad Saw yang dipimpin oleh Cak Lutfi dan doa oleh Kyai Muzammil supaya Beliau berkenan mensyafaati apa yang menjadi niat baik kita, untuk menjadi kebaikan dan manfaat bagi sekitar kita. (Redaksi BBW)

Surabaya, 11 Januari 2020

Buku dan Merchandise