Maiyahan Cak Nun dan KiaiKanjeng ke-4146

Anugerahilah Kami Tetesan Kelembutan Muhammad

Sinau Bareng Mbah Nun dan KiaiKanjeng pada Festival Hadroh 2020 Kota Solo, Pendhapi Gede Balaikota Solo, Sabtu, 7 Maret 2020

Tidak banyak kota yang masih memiliki tradisi festival atau karnaval hadroh, dan kota Solo adalah salah satunya. Tahun ini sudah untuk kesebelas kalinya. Animo untuk mengikuti festival ini cukup tinggi yakni terdapat sekitar 50 kelompok hadroh yang tidak hanya berasal dari Solo Raya namun juga daerah lain seperti Klaten dan Wonogiri yang turut memeriahkan Festival Hadroh 2020 ini.

Seperti dikatakan Pak Kinkin Sultanul Hakim, Plt. Kepala Dinas Kebudayaan Kota Solo, meski hanya mendapatkan subsidi satu juta rupiah, para kelompok peserta ini tampil dengan sebaik-baiknya. Mobil-mobil yang mereka gunakan mereka hias seindah dan skreatif mungkin yang bisa dipastikan biayanya lebih dari satu juta. Pawai atau kirab itu dilangsungkan pada Jumat sore start dari Stadion Sriwedari dan finish di depan Balaikota Solo.

Untuk memperdalam masyarakat dalam menikmati Festival Hadroh 2020 ini, Pemkot Solo menggelar Sinau Bareng bersama Mbah Nun dan KiaiKanjeng pada Sabtu malam, 7 Maret 2020, bertempat di Pendhapi Gede Balaikota Solo. Ini untuk kedua kalinya Mbah Nun dan KiaiKanjeng diundang untuk kegiatan Festival Hadroh yang diselenggarakan Pemkot Solo. Tema yang diangkat tahun ini adalah “Gondelan Klambine Kanjeng Nabi”.

Mengapa Gondelan Klambine Kanjeng Nabi?

Ketika memulai awal Sinau Bareng ini, Mbah Nun langsung memberikan pengantar sekaligus respons atas tema yang diangkat. Menurut Mbah Nun, shalawat merupakan sarana. “Kita nggak punya deposit di depan Allah. Sebenarnya shalawat itu kan Allah mencintai kita, tapi kita tak punya kemampuan mencintai Allah sebanding dengan Allah mencintai kita, maka kita membutuhkan bantuan berupa shalawat kepada Kanjeng Nabi. Kanjeng Nabi punya hak syafaat. Maka kita perlu gondelan Beliau agar hidup kita baik dan lancar. Produk shalawat adalah syafaat dari Kanjeng Nabi,” urai Mbah Nun.

Kemudian diterangkan pula oleh Mbah Nun mengenai istilah hadroh. Istilah ini berasal dari bahasa Arab “hadhrotan” yang memiliki arti penjunjungan atau penghormatan kepada seseorang yang kita muliakan, dalam hal ini adalah menjunjung Nabi Muhammad Saw. Maka, hadroh adalah seni menghadirkan puja-puji kepada Rasulullah, dan seni ini sudah berkembang sejak lama.

Sebenarnya dengan Festival Hadroh yang telah ditradisikan rutin setiap tahun, pemkot Solo ingin menjadikan Solo sebagai Kota Shalawat, selain harapannya festival hadroh ini merupakan salah satu ajang dan sarana untuk menjadikan Solo sebagai kota Budaya yang Mandiri dan Sejahtera. Tentang hal ini, Mbah Nun malahan menyarankan agar kota Solo mewacanakan diri sebagai Serambi Madinah.

Ada banyak alasan mengapa lebih baik Serambi Madinah. Di antaranya karena watak masyarakat yang dibangun oleh Rasulullah di Madinah waktu itu bersifat ragam, mengedepankan partisipasi masyarakat, mengedepankan terbangunnya kesepakatan antar agama, kelompok, dan suku. Nabi juga memandu terciptanya Piagam Madinah yang merupakan konstitusi yang dibuat oleh rakyat atau anggota masyarakat dan piagam inilah yang menjadi acuan di dalam berinteraksi di antara mereka. Nabi Muhammad tidak membentuk pemerintahan atau berorientasi kepada kekuasaan.

Rasulullah menemani orang-orang dan masyarakat dengan, dalam bahasa khasanah wayang, prinsip Punokawan dan Ponokawan. Ketika memulai membangun masyarakat Madinah, jumlah umat Islam hanya 15 persen dari keseluruhan warga Madinah. Di situ, Nabi mempelopori semangat hidup bersama yang bertumpu pada silaturahmi, kerjasama, dan keaktifan dalam membangun kehidupan kolektif.

Walaupun barangkali tidak dikukuhkan secara resmi, Mbah Nun menyarankan agar Solo sebagai Serambi Madinah disosialisasikan sebagai jiwa orang Solo. Harapannya, Solo dapat menjadi percontohan kerukunan antar berbagai orang yang berlatar belakang ragam dalam hal agama, kelompok, dan kecenderungan pemikiran. Hal yang sesungguhnya juga menjadi tujuan Pemkot Solo dengan menyelenggarakan berbagai kegiatan kultural keagamaan seperti Festival Hadroh ini.

Tetesan Muhammad

Memahami dan menghayati posisi Kanjeng Nabi Muhammad bagi hidup kita terus merupakan bagian dari perjalanan ilmu dan laku Mbah Nun yang ditularkan kepada anak-cucu Jamaah Maiyah. Gondelan Klambine Kanjeng Nabi, yang meskipun menurut Mbah Nun itu gampang-gampang angel, adalah satu ekspresi penghayatan itu. Pada Sinau Bareng di Balaikota Solo itu, Mbah Nun memperkenalkan satu penghayatan dan pemahaman baru.

Mbah Nun merenungkan firman Allah yang mengatakan wa kaana ‘arsyuhu ‘alal ma’ (Dan singgasana Allah itu di atas air) dan membayangkan bahwa di bawah singgasana Allah itu adalah “kolam air raksasa” bernama Muhammad Saw. Andaikan kita mendapatkan satu tetes saja air dari Kanjeng Nabi Muhammad itu, maka akan sangat oke dan lancar hidup kita. Sedemikian rupa, sampai-sampai Mbah Nun berpesan, jika datang hujan janganlah kita tolak. Ambil setetes. Siapa tahu itu adalah tetesan dari Air Muhammad.

Buku Lockdown 309 Tahun Buku Lockdown 309 Tahun