Liputan Malam Yasinan dan Tahlilan 40 Hari Wafat Syaikh Nursamad Kamba

Anugerah Kepergian Syaikh Kamba yang Indah

Kamis malam (30/7), bertepatan dengan malam takbiran Idul Adha, peringatan 40 hari Syaikh Kamba wafat diselenggarakan di kediaman beliau di Kampung Dukuh. Acara yang dikemas dengan sederhana, bersifat internal dan terbatas, hanya dihadiri oleh beberapa saudara inti Syaikh Nursamad Kamba. Alhamdulillah, Mbah Nun dan Bu Via juga turut hadir bersama teman-teman penggiat Kenduri Cinta. Mas Sudjiwo Tedjo, yang juga merupakan salah satu sahabat Syaikh Kamba yang bersama-sama menulis beberapa buku juga hadir bersama Mbak Nunung, sang istri. Lantunan takbir mengawali acara. Ust. Abduh, salah satu saudara Syaikh Kamba memimpin Yasinan dan Tahlilan malam itu.

Irfan, putra tertua Syaikh Kamba menuturkan ternyata mengalami kehilangan seorang Ayah adalah periode perjalanan hidup yang cukup berat. Sebelumnya, ia hanya melihat bagaimana kawan-kawannya yang merasakan kehilangan Ayahnya, dan Irfan hanya mengucapkan ucapan duka cita. Kini, Irfan merasakannya sendiri, dan ternyata cukup berat. Mas Tedjo mengamini apa yang disampaikan Irfan bahwa ketika menyampaikan ucapan dukua cita kepada orang yang tidak begitu dekat dengan kita, terasa mudah dan enteng saja. Tetapi, ketika mengalami sendiri kehilangan salah satu orang terdekatnya, ternyata Mas Tedjo juga tidak cukup kuat. “Rosone kamitenggengen juga”, ungkap Mas Tedjo.

Syaikh Kamba tidak benar-benar “meninggal”

Malam itu, Mbak Fatin kembali menceritakan bahwa salah satu keinginan Syaikh Nursamad Kamba adalah menjadikan rumah beliau sebagai Rumah Tasawuf, yang bisa digunakan siapa saja yang ingin mempelajari Ilmu Tasawuf. Salah satu wasiat itu selalu diingat oleh Mbak Fatin. Dalam hari-hari terakhir sebelum wafat, Syaikh Kamba cukup intens ngobrol dengan Irfan. Mbak Fatin mengungkapkan bahwa di hari-hari terakhir itu, Syaikh Kamba sempat menyampaikan bahwa ingin ngobrol dengan beberapa sahabat, termasuk Mbah Nun dan Mas Tedjo.

“Teman-teman Maiyah harus bisa memastikan bahwa Syaikh Kamba tidak benar-benar ‘meninggal’”, Mbah Nun menyampaikan. Mbah Nun juga sampaikan bahwa terlampau banyak yang sudah diberikan Syaikh kamba kepada kita, dan sekarang setelah kepergian Syaikh Kamba tugas kita adalah menggali lebih dalam atas apa yang sudah ditinggalkan Syaikh Kamba, terutama di Maiyah.

Mbah Nun menyarankan, selanjutnya pihak keluarga untuk berkomunikasi dengan teman-teman penggiat Kenduri Cinta dan juga teman-teman alumni Jurusan Tasawuf Psikoterapi UIN Sunan Gunung Djati Bandung agar dapat merealisasikan salah satu wasiat Syaikh Nursamad Kamba tersebut.

Walaa tahsabanna-l-ladziina qutiluu fii sabiilillahi amwaataa bal ahyâ un ‘inda rabbihin yurzaquun. QS Ali Imron 169. Sebuah ayat yang disitir Mbah Nun sebagai landasan untuk menegaskan bahwa secara hakiki Syaikh Nursamad Kamba tidak benar-benar pergi meninggalkan kita semua. Sebagai khalifah, kita harus mampu melakukan switching, hidup dan mati hanya soal dimensi dan sudut pandang, karena kita semua juga akan mengalami kematian, maka kematian juga seyogyanya tidak kita maknai sebagai peristiwa yang menyeramkan.

Merespons apa yang disampaikan Irfan, Mbah Nun menceritakan bahwa sebelum Ayah Mbah Nun meninggal, terakhir bertemu adalah 3 bulan sebelum Ayahanda meninggal. Dan ketika meninggal bahkan baru diketahui oleh keluarga seminggu setelahnya karena kecelakaan di Sidoarjo. Saat itu bahkan Mbah Mif, salah satu kakak dari Mbah Nun, diperintah oleh Ibunda untuk menuju Sidoarjo, namun ketika Mbah Mif menuju Sidoarjo, jenazah Ayahanda sudah diberangkatkan menuju Menturo, sehingga Mbah Mif pun tidak sempat mengikuti prosesi pemakaman Ayahanda.

“Irfan, kamu mengalami momen kepergian Buya dengan keindahan yang luar biasa, pasti akan menimbulkan kekaguman-kekaguman yang luar biasa, pasti akan menumbuhkan kekuatan dan rasa syukur yang luar biasa terhadap takdir Allah terhadap adegan-adegan yang indah itu”, ungkap Mbah Nun.

“Setiap orang diberi fadhillahnya masing-masing, setiap orang diberi jenis kebahagiaan yang berbeda-beda, setiap orang diberi ujian yang tidak sama satu sama lain, maka Irfan harus bersyukur karena dilimpahi rasa sayang yang luar biasa dari Allah karena dianugerahi seorang Buya Nursamad Kamba”, lanjut Mbah Nun.

“Setiap orang mengambil kebijaksanaan dari setiap takdir Allah masing-masing”, Mbah Nun merespons pertanyaan yang dilontarkan oleh Mas Tedjo mengenai mana yang lebih bagus antara peristiwa yang ia alami dengan yang dialami oleh Irfan. Mas Tedjo berkisah, ketika Ayahnya wafat, ia harus mendalang di Jakarta. Jika ia memutuskan untuk pulang dan menghadiri pemakaman Ayahnya, ia tidak mendalang. Sementara mendalang itu sendiri adalah salah satu wasiat dari Ayahnya. Mbah Nun menegaskan bahwa baik atau buruk, indah atau tidak indah mengenai setiap keputusan yang diambil oleh setiap individu atas sebuah peristiwa tidak bisa dirumuskan secara mainstream.

Mbak Fatin kemudian menceritakan, bahwa seminggu sebelum Syaikh Kamba wafat, Ibunda Mbak Fatin meninggal dunia. Bagi Mbak Fatin, kehilangan Ibudanya lebih berat daripada kehilangan Syaikh Kamba sebagai pasangan hidupnya. Sebenarnya memang tidak bisa dibandingkan, karena sudah pasti sama-sama berat untuk dialami. Apa yang dialami oleh Irfan sangat dimaklumi oleh Mbak Fatin, bagaimana seorang anak kehilangan Ayahandanya. Begitu juga dengan kisah yang diceritakan Mbah Nun dan Mas Tedjo mengenai peristiwa wafatnya Ayahanda beliau-beliau.

Mbah Nun menyampaikan bahwa dilema di antara dua pilihan yang sulit, kemudian memilih salah satu pilihan atas dasar kebijaksanaan adalah sebuah kemuliaan. Mas Tedjo lebih memilih untuk tetap mendalang daripada menghadiri pemakaman Ayahandanya dan Mbak Fatin memilih menemani suaminya yang sedang sakit daripada menghadiri pemakaman Ibundanya yang meninggal adalah pilihan yang tidak mudah, tetapi itu adalah kemuliaan. Sesama manusia tidak bisa menilai mana yang lebih baik, karena sudah pasti Allah sangat mengetahui apa yang dirasakan Mas Tedjo dan Mbak Fatin.

Mbah Nun kemudian menambahkan sebuah kisah, ada seorang muslim yang bertahun-tahun menabung uangnya untuk biaya naik haji, dan ketika sudah terkumpul sejumlah uang yang senilai ongkos naik haji, rumah tetangganya terbakar, kemudian ia berniat menyumbangkan uang hasil tabungannya untuk naik haji itu agar digunakan tetangganya untuk membangun rumahnya kembali. Ternyata tetangganya itu juga berniat baik dengan menolak uang tersebut karena ia mengetahui bahwa tetangganya menabung uang sedemikian lama untuk membiayai naik haji. Siapa yang benar dan yang mulia diantara keduanya? Kita sebagai manusia tidak bisa menghakiminya.

Jawaban Syaikh Kamba untuk dunia modern

Gagasan melahirkan jurusan Tasawuf Psikoterapi menurut Mbah Nun adalah jawaban atas problem yang dihadapi oleh orang modern. Bagi Mbah Nun, hal yang terpenting dari kehidupan manusia saat ini adalah bagaimana ia mengenal jiwanya. Dan Jurusan Tasawuf Psikoterapi adalah jawaban yang dimunculkan Syaikh Nursamad Kamba agar manusia lebih mengenal jiwanya.

Covid-19 yang sedang kita hadapi bersama ini menurut Mbah Nun telah memberikan sebuah cermin besar kepada kita semua tentang siapa diri kita sebenarnya. Covid-19 ini bermutasi begitu cepat, tidak terduga, dia mengenai siapa saja, kapanpun ia bisa reaktif, kapan saja ia akan menghilang. Kita sebagai manusia begitu bodohnya sehingga tidak mampu mendeteksi Covid-19 ada di dalam tubuh kita atau tidak saat ini. Perilaku Covid-19 ini mencerminkan perilaku manusia modern hari ini yang begitu rakus terhadap materi dan keduniaan, dengan sangat berani mengorbankan apapun saja demi terpuaskan hawa nafsunya.

Kembali kepada berpulangnya Syaikh Nursamad Kamba, Mbah Nun mengibaratkan bahwa Syaikh Nursamad Kamba adalah sebuah sungai yang mengalir, dan kita sebagai Jamaah Maiyah sesekali menikmati kesegaran air dari aliran sungai tersebut. Lazimnya sebuah sungai, sudah pasti ada hulunya. Tetapi yang sekarang menjadi tantangan kita adalah bersama-sama memperjuangkan supaya aliran sungai Syaikh Nursamad Kamba tetap ada, sehingga dialiri air Ilmu Tasawuf yang menyegarkan bagi kita. Mbah Nun menyampaikan kembali, bahwa untuk mewujudkan wasiat Syaikh Nursamad Kamba menjadikan kediamannya sebagai Rumah Tasawuf adalah salah satu ijtihad untuk mempertahankan aliran sungai Syaikh Nursamad Kamba itu tadi.

Mbah Nun mengingat salah satu filosofi Syaikh Nursamad Kamba mengenai Iqomati-sh-sholat. Bagi Syaikh Nursamad Kamba mendirikan shalat itu bukan sekadar melaksanakan shalat. Secara harfiah maknanya memang demikian, tetapi secara hakiki mendirikan shalat menurut Syaikh Nursamad Kamba adalah men-diri-kan shalat, menjadikan diri kita shalat. Shalat dijadikan elemen penting dalam diri kita. Pada akhirnya, ketika kita mampu men-diri-kan shalat, maka tujuan dari shalat itu sebagai tanha ‘ani-l-fakhsya`i wa-l-munkar akan terwujud.

Surat Yasin mengajarkan regenerasi ilmu dan hikmah

Kenapa harus ada acara Yasinan pada setiap peringatan orang meninggal? Mbah Nun mentadabburi Surat Yasin pada ayat ke-6, bahwa pembacaan surat Yasin kepada orang yang meninggal bisa kita maknai sebagai peringatan kepada kita semua, seluruh manusia, karena kita telah lalai terhadap peringatan yang sudah diberikan oleh Allah Swt kepada kita.

Bagi Mbah Nun, ayat-ayat awal di surat Yasin adalah ayat-ayat yang memberi pengetahuan kepada kita bahwa terdapat konsep regenerasi hikmah dan ilmu. Dengan kita membaca surat Yasin untuk Syaikh Nursamad Kamba boleh kita maknai sebagai salah satu upaya kita untuk melakukan regenrasi dari semua ilmu dan hikmah yang sudah disampaikan oleh Syaikh Nursamad Kamba kepada kita sepanjang hidup beliau ketika bersentuhan dengan Maiyah. “Kita masing-masing punya konteks kehilangan masing-masing terhadap Syaikh Nursamad Kamba”, Mbah Nun menambahkan. Setiap kita, mulai dari keluarga, hingga semua yang pernah bersentuhan dengan Syaikh Nursamad Kamba memiliki dimensi kehilangannya masing-masing.

Mbah Nun menjelaskan bahwa yang sangat dirasakan atas perginya Syaikh Nursamad Kamba adalah kehilangan sosok yang mampu merumuskan sosok Mbah Nun. Bagi Mbah Nun, Syaikh Nursamad Kamba tidak sekadar Marja’, tetapi juga yang paling mampu menempatkan pada letak yang tepat di mana seharusnya Mbah Nun berada. Salah satu yang paling dikenang oleh Mbah Nun adalah ketika meminta konfirmasi lirik lagu Shohibu Baity, bagi Syaikh Nursamad Kamba lirik lagu tersebut tidak melanggar kaidah bahasa Arab, karena memang bagi Syaikh Nursamad Kamba begitulah adanya Mbah Nun diberikan ilham berupa lirik lagu tersebut dari Allah, tidak perlu ada pembetulan melalui kaidah bahasa arab.

Bukan tanpa alasan legitimasi Syaikh Nursamad Kamba tersebut. Bagi Syaikh Nursamad Kamba, lirik Shohibu Baity adalah salah satu proses shalat, men-diri-kan Allah sebagai tuan rumah di dalam diri kita, bukan hanya sekadar berharap, tetapi secara jantan kita memberanikan diri untuk menyatakan bahwa Allah adalah tuan rumah diri kita. Bagi Syaikh Kamba, begitulah hidayah dari Allah yang diberikan kepada Mbah Nun melalui lirik lagu tersebut.

Berbicara mengenai hidayah, Mbah Nun menambahkan bahwa salah satu pandangan revolusioner yang pernah disampaikan oleh Syaikh Nursamad Kamba adalah bahwa bisa jadi Allah tidak memberikan perintah kepada manusia. Hal ini merupakan tadabbur Syaikh Kamba dari surat Al Baqoroh; dzalika-l-kitaabu laa roiba fiihi hudan li-l-muttaqiin. Dalam ayat tersebut disebutkan hudan bukan amrun. Hidayah, bukan perintah.

Sudah sering disampaikan dan dibahas di Maiyah bahwa sejatinya manusia tidak memerlukan undang-undang agar tidak menyakiti orang lain, tidak mencuri, tidak korupsi, tidak merendahkan martabat orang lain. Manusia juga tidak membutuhkan perintah untuk kawin, mandi, makan dan lain sebagainya. Pada titik inilah hidayah dari Allah benar-benar nyata fungsinya. Karena hidayah Allah kita akan mampu menjadi manusia yang sebenar-benarnya manusia.

Merespons paparan Mbah Nun, Mbak Fatin teringat penjelasan mengenai kata ‘saleh’ menurut Syaikh Nursamad Kamba. Dijelaskan oleh Mbak Fatin, bagi Syaikh Kamba kata sholeh itu bukan berarti bahwa seorang manusia tidak memiliki kesalahan sama sekali, justru saleh adalah sebuah peristiwa bagaimana manusia memperbaiki dirinya karena melakukan sebuah kesalahan. Maka kita mengenal kata Islah, yang berakar dari kata yang sama dengan sholeh. Ketika kita mendoakan seorang anak agar menjadi anak yang sholeh bukan berarti kita mengharap anak tersebut menjadi anak yang lurus, tidak melakukan kesalahan sedikit pun. Justru kita mendoakan agar anak tersebut menjadi anak yang sholeh adalah agar ia memahami bahwa ketika berbuat salah ia segera memperbaiki diri agar tidak melakukan kesalahan yang sama.

Malam itu, Mbah Nun menyampaikan buku yang diterbitkan secara terbatas oleh caknun.com berjudul Yang Terhormat Syaikh Nursamad Kamba, yang merupakan kumpulan tulisan mengenai Syaikh Nursamad Kamba yang ditulis oleh Mbah Nun dan sejumlah penulis lain. Yang dituliskan adalah pendalaman kembali dari ilmu dan hikmah yang sudah disampaikan oleh Syaikh Nursamad Kamba. Tentu apa yang ditulis itu hanya sedikit dari yang sudah disampaikan Syaikh Nursamad Kamba di Maiyah, maka selanjutnya diharapkan kita lebih dalam lagi menggali warisan ilmu yang sudah disampaikan oleh Syaikh Kamba kepada kita.

Selain itu, momen 40 hari wafatnya Syaikh Nursamad Kamba juga merupakan momen dirilisnya buku terakhir yang ditulis oleh Syaikh Nursamad Kamba yang berjudul Mencintai Allah Secara Merdeka. Sebuah bekal terakhir yang disiapkan Syaikh Kamba untuk kita semua sebelum beliau wafat.

Lewat pukul sepuluh malam, acara peringatan 40 hari meninggalnya Syaikh Nursamad Kamba dipuncaki dengan doa bersama yang dipimpin oleh Ust. Abduh.

Buku dan Merchandise