Antara Maut, Ajal, dan SARS-Cov-2

Melalui perbincangan singkat bersama Mas Helmi, saya jadi teringat istilah “ajal”. Awalnya, saya diminta melakukan review tulisan yang gagasan utamanya tentang virus yang merenggut nyawa ribuan manusia.

Pikiran saya melayang-layang lalu hinggap di Maiyahan beberapa waktu lalu. Apa pasal? Selama ini ajal sering diartikan sebagai kematian. Sebagaimana innaalillaahi wa innaa ilaihi roji’un dibaca saat mendengar berita kematian.

Begitu sempitnya pemaknaan terhadap ajal dan kalimat tarji’ sehingga keduanya tidak menyuguhkan hikmah yang lebih dalam selain kematian itu sendiri. Sedangkan di Maiyahan kita memahami bahwa ajal adalah momentum. Sedangkan kalimat tarji’ adalah kesadaran terhadap sangkan paraning dumadi.

Katakanlah: ‘Aku tidak berkuasa mendatangkan kemudharatan dan tidak (pula) kemanfaatan kepada diriku, melainkan apa yang dikehendaki Allah’. Tiap-tiap umat mempunyai ajal. Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak (pula) mendahulukan(nya).” (Q.S. Yunus: 49).

Kematian akan selalu terkait dengan ajal. Di sana ada momentum takdir yang bekerja. Pertanyaannya, apakah ajal bekerja hanya pada momentum kematian? Adakah momentum di luar kematian yang manusia sanggup menunda atau mempercepatnya?

Kelahiran, perjodohan suami istri, pemberian rezeki, kematian adalah wilayah di mana ajal juga bekerja. Adegan yang terjadi pada sejumlah wilayah kehidupan itu, baik skala mikro hingga makro, lokal maupun global, patuh pada rumus falaa yasta’khiruuna sa’atan wa laa yastaqdimuun. Bahkan, dalam ruang yang lebih luas, kebudayaan, kekuasaan, peradaban juga memiliki ajal-nya masing-masing.

Pada Pengajian Padhangmbulan Mbah Nun pernah menyampaikan ajal adalah momentum. “Kekuatan bisa dikalahkan dengan kecepatan. Kecepatan akan takluk pada momentum,” demikian kira-kira ilustrasi peneguhan yang disampaikan Mbah Nun.

Corona dan Penyebab Kematian

Akhir-akhir ini beredar semacam “keyakinan” bahwa kita hanya takut pada Allah. Ini kebenaran yang bersifat normatif. Kebenaran tekstual, kata anak sekolah. Ungkapan itu serupa dengan pernyataan: “Mengerjakan shalat Shubuh itu hukumnya wajib”. Tidak seorang pun memiliki inisiatif untuk mengecek kapan dan di mana pernyataan itu disampaikan? Bagaimana pula menerapkannya?

Sebagaimana orang juga menyimpulkan secara sembrono bahwa virus SARS-Cov-2 adalah penyebab kematian. “Mengapa ia mati?” Pertanyaan ini langsung dijawab, “Ia mati karena SARS-Cov-2.”

Terjadi dialektika sebab dan akibat. Terjangkiti SARS-Cov-2 adalah sebab. Mati adalah akibat. SARS-Cov-2 menyebabkan kematian. Benarkah? Mari kita periksa. Apabila SARS-Cov-2 adalah penyebab kematian, setiap yang terjangkit akan mengalami kematian. Namun, faktanya, ada pasien yang sembuh setelah ia terjangkiti SARS-Cov-2.

Relativisme semacam itu kerap luput dari kewaspadaan kita. Nisbiyah, menurut Mbah Nun, harus tetap diletakkan pada maqam-nya. Yang nisbiyah jangan dimutlak-mutlakkan. Sebaliknya, yang mutlak jangan dinisbi-nisbikan.

Jadi, SARS-Cov-2, darah tinggi, diabetes, stroke, atau sejumlah penyakit yang “berat-berat” lainnya, atau mungkin penyakit yang “ringan-ringan” bukanlah penyebab kematian. Sebab kematian itu satu, yakni datangnya maut.

Di mana saja kamu berada, kematian (al-maut) akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh. Dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan: ‘Ini adalah dari sisi Allah’, dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan: ‘Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)’. Katakanlah: ‘Semuanya (datang) dari sisi Allah’. Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikit pun?” (Q.S. An Nisa’:78).

Pada saat maut datang, ia menjadi momentum atau ajal. Siapa pun manusianya tidak akan sanggup menunda atau mempercepatnya.

Adapun penyakit atau peristiwa yang dianggap sebagai penyebab kematian merupakan kondisi atau keadaan ketika seseorang dijemput maut. Orang itu meninggal dunia dalam keadaan sakit. Maut menjemputnya dalam keadaan setelah ia mengalami kecelakaan.

Rahasia tentang bagaimana keadaan seseorang akan meninggal dunia, serta kapan ajal atau momentum maut datang, tidak bisa dijangkau oleh akal, pengetahuan, ilmu dan teknologi. Untuk itu diperlukan iman. Yang tak terjangkau oleh ilmu, gunakan iman. Tawakkal kepada Allah.

Jagalan, 30 Maret 2020

Buku Lockdown 309 Tahun