Kebon (4 dari 241)

Aktivis MLM dan Kampung Santri

Kampung Dipowinatan. Foto: Adin (Dok. Progress).

Dari sudut beragam-ragamnya jenis dan karakter manusia, kampung Dipowinatan adalah miniatur dunia. Juga anak-anak muda yang berinteraksi dengan saya melalui Kelompok Teater (dan Musik) Dinasti, yang kemudian bermetamorfosis menjadi KiaiKanjeng.

Penduduk Dipowinatan maupun anak-anak muda itu agamanya bermacam-macam. Latar belakang ekonomi keluarganya berlevel-level. Tingkat pendidikannya beragam. Perilaku budayanya juga merupakan mozaik kultural yang luar biasa. Salah satu sebabnya adalah karena kampung ini bersisihan langsung dengan Taman Hiburan Rakyat, yang pada era 1970-80an menjadi salah satu pusat perjudian dan maksiat lainnya.

Di antara kaum muda Dipowinatan yang hidupnya agak cenderung seperti santri adalah Nevi Budianto, yang justru merupakan lokomotif Kelompok Musik-Puisi Dinasti. Ibundanya Nevi adalah Ketua Ranting Aisyiah Muhammadiyah. Nevi sendiri sekolahnya sejak SD di sekolahan Muhammadiyah.

Tetapi Nevi ajur-ajer dan bercampur-bebrayan dengan semuanya yang sangat berbeda itu tanpa pernah menonjolkan keberbedaan. Berbeda itu penting, tetapi yang lebih penting adalah penyatuan bebrayan di antara yang berbeda-beda itu. Nasi beda sama sayur dan sambal, maka ketiganya legawa untuk dipersatukan menjadi satu suguhan menu.

Nevi pemuda yang “alim” berperilaku saleh tetapi tidak merendahkan siapapun di komunitasnya. Nevi tidak merasa bersih dan menuding kotor kepada kiri-kanannya. Pun Nevi tidak mendakwahi teman-temannya, tidak berusaha mengubah mereka “minadh-dhulumat ilan-nur”, dari kegelapan ke cahaya. Apalagi berkeinginan untuk mengislamkan mereka. Aktualisasi keislaman dan kesantrian Nevi tidak pada pamrih-pamrihnya, melainkan pada sikap guyub kebersamaannya, kejujuran sikapnya, kesantuan sosialnya, serta keikhlasannya dalam menjalankan apa saja bersama teman-temannya itu.

Padahal di antara teman-teman itu Nevi tahu persis ada sebagian yang merupakan Aktivis Ma-Lima (MLM). Ada yang rutin ikut berjudi di THR, kalau larut malam masuk kuburan Cina dll yang di dalam makamnya ada harta benda yang dibawa oleh jenazah: kalung emas, cincin, perhiasan-perhiasan lain, termasuk sisa-sisa pakaian, atau bahkan ada sejumlah alat-alat kedokteran di makam orang yang ketika hidup dia adalah seorang Dokter.

Ada juga yang kalau malam larut mereka bergerak mencari gelandangan perempuan. Kemudian dibawa ke sungai, kemudian ditiduri bergiliran, di tempat yang sudah disiapkan dan ada penjaganya. Atau kalau pas punya uang, mereka memasuki kamar-kamar pelacur di THR. Ada yang meniduri pelacur, kemudian ketika perempuan itu ke kamar mandi, dia geledahi pakaiannya dan ia curi uangnya. Lantas uang curian itu digunakan untuk membayar biaya melacurnya.

Ada berbagai jenis kenakalan dan kerusakan remaja yang berlangsung di era itu. Bahkan masih terus terjadi ketika kemudian saya bergabung ke komunitas kaum muda Dipowinatan ini. Tolong jangan saya ditagih: “Kenapa kok tidak berusaha menyembuhkan mereka dari ma-lima? Kenapa tidak menjalankan kewajiban “da’wah bil-khair, ya’muruna bil-ma’ruf wa yanhauna ’anil-munkar”?

Harap diketahui, meskipun sebelum ke Yogya saya hidup di Pondok Gontor, tetapi kadar dan kualitas kesantrian saya kalah dibanding Nevi Budianto. Dia lebih rajin shalat dibanding saya. Saya tidak berani melakukan apapun lebih dari mempraktekkan silaturahmi yang baik, bebrayan yang indah dan pergaulan yang sehat di antara kami — apapun perbedaan di antara kami semua. Islam saya hanya terbatas pada kelakuan baik, kepribadian yang santun dan saling memberi rasa nyaman, serta membangun kecerdasan berpikir dan memacu kreativitas.

Allah menganugerahkan petunjuk: Innaka la tahdi man ahbabta walakinnallaha yahdi man yasya’. Engkau tidak bisa memberi petunjuk kepada siapapun yang kau cintai, Allah yang memurahinya hidayah kepada yang Ia kehendaki. Jadi kontribusi yang pasti dari saya ke Dipowinatan ketika itu hanyalah kepercayaan di dalam batin, harapan dan doa-doa di dalam jiwa saya agar Allah memberi mereka petunjuk.

Kemudian tahun-tahun berlalu, teater dan musik-puisi sudah kami jalani sampai keliling Pulau Jawa, kemudian ada sela-sela di mana kami saling sibuk dengan kegiatan kehidupan masing-masing. Sampai akhirnya saya mendengar, kemudian menyaksikan, bahwa anak-anak muda itu bukanlah mereka yang dulu saya kenal. Dipowinatan menjadi kampung Santri. Sudah dibangun Masjid dan Mushalla-mushalla. Kalau maghrib terdengar adzan kemudian suara Imam memimpin shalat jamaah. Anak-anak dikumpulan di TK Al-Qur`an. Sejumlah tokoh muda sudah berekspresi Ustadz. Dipowinatan sudah bukan yang dulu saya kenal.

Jumlah “Nevi” semakin banyak. Dan itu tidak membuat mereka menjadi jauh dari musik, gamelan, gitar, puisi, teater dan kebudayaan secara keseluruhan. Sentuhan terakhir yang saya alami adalah saya diundang hadir di seminggu Festival Dipowinatan yang saya kebagian jatah 16 Desember 2020 akhir tahun ini.

Lainnya