#67TahunCakNun Viral, Doa Anak Cucu Tersiar

Perayaan hari lahir ke-67 Cak Nun 27 Mei kemarin viral di media sosial. Berisi cuitan sapaan, doa, rasa kangen, dan harapan warganet kepada Muhammad Ainun Nadjib. Kebanyakan ekspresi rindu karena lama jumpa di forum Maiyahan. Kendati dorongan kangen itu sedikit terobati dengan tayangan Cak Nun via digital, tentu saja antara bertatap fisik dan berjumpa virtual selalu menyisakan kesan kerinduan yang berlainan.

Tercatat ribuan postingan warganet memenuhi dinding media sosial. Kebanyakan di dua medsos: Twitter dan Instagram. Dua medsos yang paling banyak menyiarkan tagar #67TahunCakNun dan #67TahunMbahNun itu menarik ditilik kembali. Setidaknya untuk menengok bagaimana perayaan ulang tahun Cak Nun diselebrasikan warganet. Bahkan sehari setelah 27 Mei, banyak postingan masih muncul.

Danang Prihadi (@Singkeee)
telat ucapin selamat ulang tahun buat cak nun, sugeng riyadi cak…oase pikiran saya terhadap agama dan kehidupan #67TahunCakNun

Mbah Nang (@siembahkakung)
Menginjak tahun ke #67TahunCakNun ini semoga kita simpul Maiyah, terutama saya selalu istiqomah bersama Mbah Nun, dan selalu menimba ilmu dari beliau, semoga Nur Allah yang terus mengalir melalui pompa beliau untuk disalurkan kepada kita. Amiiiiiin….

Fàhruddin Djibriél (@DJIBRIELDAY)
Pola pikir saya banyak berubah Salah satunya karena nasehat – nasehat Cak Nun. #67TahunCakNun

f-retless (@bary_viola)
februari kemarin terakhir saya merasakan langsung nikmat kemesraan cinta beliau bersama maiyah @BangbangWetan Surabaya. Selamat milad mbah Nun, terimakasih telah mengajarkan kami tentang kehidupan yg baik dan mengenalkan madura akan kebaikan dan kejenakaannya RoseRed heart #67TahunCakNun

Koperasi Malai Padi (@malai_padi)
#67TahunCakNun Selamat ulang tahun ke-66 buat Cak Nun, trmksh tlh byk memberi kami semangat utk trs membangun ketahanan pangan… Semoga sehat selalu mbah, Amin

tri.m (@trim0624)
Thanks a lot #caknun, because of you I know what I should do #67TahunCakNun

Seno Bagaskoro (@senobagaskoro1)
Sugeng ambal warsa, Mbah Nun. Dari panjenengan, saya belajar bahwa saya tidak tahu banyak tentang banyak hal. Selamanya saya jadi pembelajar yang melingkar di alam cinta kasih Universitas Maiyah. #67TahunCakNun

yang tersakiti (@danselaludiam)
Saengil chuka hamnida Sugeng tanggap warsa nggih Cak #67TahunCakNun

mochamad machroji (@oji_nevermind)
Khususon ila ruuhi wa jasadi syaikhina wa mursyidina Maulana Muhammad Ainun Nadjib wa zaujatihi, wa ahli baitihi, li sihhati wal afiiyati, wa li jami’il jami’atil maiyyati, syaiun lillahi lahumul faatihah … Sugeng Ambal Warso Abah Nun.. #67TahunCakNun

Cak Kadul (@ahmadmhfd)
Sanah helwah, sugeng ambal warsa Mbah Nun, rahayu, pamugi berkah~

Ahmad Dhani Prasetyo (@ahmaddhaniofficial)
Happy Milad Cak Nun

Sehat Jasmani Rohani (@hw_naya)
“Kelak engkau akan sadar bahwa, bagian terberat dari mencintai adalah sabar.” (Mbah nun) #67TahunCakNun

Anis Sholeh Ba’asyin (@AnisSholehB)
Sejak mengenalnya di tahun 1980 sampai sekarang, 40 tahun kemudian; saya melihat kombinasi kecintaan pada Allah dan RasulNya, sikap zuhud dengan kesetia-kawanan dan empatinya yang tinggi pada rakyat kecil; tak berubah. Selamat memasuki usia ke 67 Cak. #67TahunCakNun

JANSEN SITINDAON (@jansen_jsp)
“Jika ada orang kadang baru tiba jelang dinihari tapi masih terus dinanti, kaulah orangnya Cak. Jika ada orang beratus jam pun bicara kita tak pernah bosan mendengar malah ingin terus tambah, kau jugalah orangnya Cak”. Selamat #67TahunCakNun. Dari jamaahmu di KC TIM sejak 2005.

***

Seraya membaca cuitan-cuitan kekinian itu saya kembali membuka puisi beliau. Saya temukan sebiji puisi bertarikh 1977. Berikut isinya.

Dari Bukit Kotamu

sekali waktu ingin kuajak engkau kemari, kasihku
untuk melihat lampu-lampu kotamu yang berdebu
berdiri di sini bagai berada di luar kehidupan
jika kita bergoyang-goyang ditimang tangan Tuhan
apa salahnya beberapa saat kita istirah
pasrah diri kepada kelam yang jauh
apa salahnya sejenak alpa pada luka yang dalam
dan hati yang robek di dalam pergulatan
sekali waktu ingin kuajak kau bersandar di pohon ini, kasihku
untuk menghela napas panjang, melepas keletihan
meredakan segenap dendam, meniti masa silam
dan bersiap, melayani hari-hari esok yang panjang

Bandung, 1977

Buku dan Merchandise