54 Gelombang Maiyah

Gambang Syafaat Semarang

Banyak kemungkinan bisa saja terjadi di muka bumi terkait nasib, rezeki, jodoh, dan lebih banyak lagi variabel yang tentunya ada kemungkinan-kemungkinan yang terjadi bergantung karepe (Jawa; Sesuka) Allah. Orang Jawa biasa menyebut dengan kersane Gusti.

Setiap individu di muka bumi memiliki kedaulatan mengenai takdir yang menimpa dirinya masing-masing, meskipun dengan prosentase yang tidak besar; dengan ikhtiar, wirid, hizib, atau dengan cara bercengkerama seolah-olah tawar-menawar dengan sang Khaliq yang tentunya mengharap belas kasih Rahman-Rahim-Nya.

Berangkat dari beberapa hal diatas, mari kita belajar memaknai di tengah wabah Covid-19 yang merepotkan berjuta manusia dalam dua bulan terakhir ini, khususnya di Indonesia yang dampaknya dirasakan hingga di kampung-kampung. Sekali lagi Ikhtiar adalah salah satu cara untuk meminimalisasi kemungkinan terburuk yang akan terjadi, meski tawakkal adalah benteng terakhir dalam menghadapi pandemi ini.

Tidak berkerumun, isolasi mandiri, cuci tangan, karantina wilayah, semprot disinfektan, semprot antiseptik, menggunakan masker adalah beberapa keyword yang familiar diucapkan mulai dari praktisi kesehatan hingga aparatur desa untuk mencegah dan memutus penyebaran virus Covid-19, hingga banyak pemaknaan atau Ijtihad yang dilakukan oleh masing-masing warga untuk membuat pagar pertahanan agar semakin kokoh tidak terserang virus tersebut, salah satunya adalah lockdown desa, lockdown kampung, posko didirikan, relawan satgas bergerak, yang tentunya pro kontra selalu mengiringi.

Contoh di sebuah kampung kecil, ketika Bupati mengumumkan ada pasien positif Covid-19, dengan sigap salah satu pemdes menerapkan sistem lockdown, membuat posko keluar masuk kampung, memfilter tamu warga, membuat satgas mendata warga yang harus isolasi, seperti yang dilakukan Yai Tohar di kampungnya di Banjarnegara, meski Yai Tohar tidak harus menunggu wilayah kabupatenya ada yang positif dulu.

Di sebuah kampung tersebut, pastinya bukan di kampung Yai Tohar, ada salah satu warga yang kurang setuju mengenai pemberlakuan lockdown, takut rezeki hilang, omset penjualan turun, hingga mengumpat takut tidak bisa makan. Mengingat usaha yang digeluti adalah jual-beli dan service alat olahraga yang pelanggannya lintas desa hingga lintas kabupaten. Workshopnya berada di tengah kampung, menjadi titik keramaian, berkerumun. Udad-udud sembari njagong customer satu dengan customer lainya, yang tentunya menjadi keresahan warga sekitar mengenai aktivitas tersebut, mengingat tamunya hingga lintas kabupaten.

Saya tidak menyalahkan siapapun dalam konteks ini. Merujuk tulisan Simbah tempo hari, mengenai pandemi ini kita mesti tawakkal namun jangan mendekati “Sembrono” dalam pengambilan keputusan, atau dalam aktivitas sehari-hari. Mungkin warga sekitar yang resah adalah bentuk salah satu sikap kehati-hatian, ikhtiar, dan keinginan untuk meminimalisasi kerumunan yang takutnya berpotensi menciptakan habitat yang lezat untuk Covid-19 ini.

Semua warga di Indonesia tinggal menungu waktu, siap tidak siap harus siap mengenai impact yang akan dirasakaan akibat pandemi ini, yang sangat sensitif pastinya dampak ekonominya.

Mengenai berbagai cara yang kerap disarankan oleh para praktisi kesehatan yaitu dianjurkan tidak berkerumun dan sebaiknya menggunakan masker dan lain-lain adalah beberapa bentuk ikhtiar untuk membangun pagar kokoh agar tidak terjajah Covid-19, meski dengan cara-cara tsb tidak terjamin 100 % kita pasti aman dari virus ini. Termasuk di sebuah kampung yang memberlakukan lockdown tersebut. Aman tidak aman dari virus adalah kehendak Allah.

Jika kita sudah biasa memaknai hidup dengan sudut pandang terbuka yang selalu siap menjalani kehidupan di dalam ketidakpastian, maka kita punya banyak simulasi. Maiyah adalah tempat terbaik untuk menumbuhkan pola pikir yang tidak linier, terbuka, jangkep, mudah memahami perasaan orang banyak, ngemong, bebrayan yang apik. 54 tulisan Simbah mengenai Corona bukan hanya siratan ilmu, namun kucuran ilmu seperti kran air mengalir yang sangat kaya untuk dipahami. Tulisan-tulisan Simbah tersebut bisa membantu kita punya pertimbangan dalam menentukan sikap dalam kondisi seperti ini.

Di sisi lain, pemakanaan Maiyah dalam konteks bebarengan tidak terhambat, karena tulisan-tulisan Simbah tidak berkurang kualitasnya. Kita belajar kepada Simbah dari sisi manapun. 54 seri Corona sudah berhasil mengantarkan saya dan mungkin jamaah Maiyah lainya untuk tetap dalam gelombang “bebarengan”, untuk tetap belajar meski tidak dengan cara melingkar setiap malam.

Tak lupa saya mendoakan penjual alat olahraga yang saya ceritaka di atas. Semoga semakin laris jualan alat olahraganya via online. Semoga kita semua bisa melewati wabah ini bersama-sama.

Grobogan 13 April 2020

Buku Lockdown 309 Tahun