Ziarah di Makam Syaikhona Kholil

Sebelum acara Sinau Bareng di Pondok Pesantren Ibnu Kholil di Bangkalan Madura malam ini (Minggu, 31 Maret 2019) dalam rangka memeringati haul KH. Cholil AG, Mbah Nun berziarah di Makam Syaikhona Kholil Bangkalan serta makam cucunda Ra Lilur yang makamnya bersanding dengan makam KH. Cholil AG.

Tentu saja ziarah Mbah Nun ini layak kita beri perhatian dalam perspektif sejarah. Perspektif itu dapat kita mulai dengan menyadari, dan kiranya semua kita sudah, bahwa Syaikhona Kholil memiliki posisi dan peran cukup sentral dalam sejarah Islam di Indonesia pada abad ke-19 yang hingga saat ini tetap terasa atsar-nya. Sebut saja misalnya, berdirinya NU sangat terkait erat dengan legitimasi yang diberikan oleh Syaikhona Kholil kepada KH Hasyim Asy’ari dan para pendiri NU lainnya berkaitan dengan pendirian Jam’iyah ini.

Dalam konteks transfer ilmu dan kaderisasi ulama, Syaikhona Kholil memiliki banyak santri yang kemudian menjadi kyai dan ulama besar pada masa-masa berikutnya. Di sini, perlu kita letakkan apa yang pernah Mbah Nun pernah ceritakan. Ada empat santri yang secara khusus mendapatkan warisan-amanah dari Syaikhona Kholil, yaitu KH Hasyim Asy’ari (Jombang), KH Ahmad Dahlan (Yogyakarta), KH Romly Tamim (Jombang), dan KH Imam Zahid (Jombang). Dua kyai yang pertama mendapatkan warisan berupa kitab. Sedang kyai yang ketiga mendapatkan pisang. Adapun kyai yang terakhir mendapatkan warisan berupa cincin.

Jika kita bisa mengasumsikan bahwa keempat jenis warisan itu menggambarkan proyeksi komposisi dan kelengkapan historis Islam di Indonesia pada masa selanjutnya atau pada masa modern, maka selayaknya elaborasi penelitian sejarah bisa diarahkan lebih lengkap pula. Setidaknya kita tahu riset sejarah yang memfokuskan perhatian kepada penerima warisan cincin belum terlalu ada. Sejarah mainstream yang ada, sebut misalnya buku Mengislamkan Indonesia: Sejarah Peradaban Islam di Nusantara (2017) karya Carool Kersten belum menyinggung nama penerima yang keempat warisan itu.

Cerita Mbah Nun tentang empat warisan Syaikhona Kholil kiranya dapat menjadi percik kecil yang dapat mengilhami para peneliti sejarah, juga para jurnalis mungkin, untuk menggali lebih lengkap tokoh-tokoh dalam sejarah Islam pada masa sejak abad ke-19 hingga kini. Terlebih, barangkali bisa dikatakan dalam dua puluh tahun terakhir, penulisan-penulisan sejarah di Indonesia makin ragam subjeknya di antaranya dengan banyaknya sejarah-sejarah lokal ditulis dengan perspektif yang juga kian beragam.

Pada masa di mana para netizen sering tampak memiliki kepekaan sejarah yang penuh semangat, mengapa tidak ziarah Mbah Nun–yang tak lain adalah cucu penerima warisan cincin itu–di makam Syaikhona Kholil malam ini dilihat memiliki bobot sejarah yaitu mengingatkan akan satu celah dalam penulisan sejarah Islam di Indonesia yang perlu diisi dan dikerjakan?

Sudah, sudah, Mbah Nun sudah berada di Pondok Ibnu Kholil. Sinau Bareng juga sudah dimulai. Mari kita Sinau Bareng.

Buku Cak Nun