Yaumul Hisab

Di yaumul hisab manusia ditanya atau diminta pertanggung jawaban tentang empat hal yang paling mendasar.

Pertama tentang umurnya dengan apa dia mengisinya, untuk sesuatu yang bermakna atau sesuatu yang sia-sia. Diisinya dengan amal baik atau amal buruk, dengan kegiatan yang membawa kemanfaatan kepada sesama manusia atau membawa kemadharatan.

Kedua, tentang jasadnya untuk apa dia gunakan. Ke mana kakinya melangkah, menuju sorga atau neraka. Tangannya digunakan untuk membangun atau merusak, matanya, telinganya dan semua anggota badannya, digunakan untuk kebaikan atau keburukan.

Ketiga, tentang ilmunya, apa yang dia lakukan dengannya. Untuk menerangi atau menggelapi, untuk mencerdaskan atau membodohi dan membodohkan. Untuk meluruskan yang bengkok atau membengkokkan yang lurus. Untuk membela kebenaran dan keadilan atau untuk mendukung kepalsuan dan kezaliman.

Keempat, tentang hartanya bagaimana dia memperolehnya dan untuk apa dia gunakan. Diperoleh dengan cara halal atau haram, digunakan untuk kemanfaatan atau kemadharatan. Termasuk dalam hal keempat ini adalah jabatan atau kekuasaan, bagaimana kamu memperolehnya, dengan cara yang haq, benar, sesuai dengan hukum dan akhlak yang mulia, atau dengan cara yang bathil, tidak sesuai dengan aturan dan akhlak yang tercela. Dan setelah jabatan atau kekuasaan itu digenggam, untuk apa kamu gunakan. Untuk membangun kejayaan umat dan bangsa atau untuk membangun kejayaan pribadi, keluarga, dan golongan.

Inilah empat hal yang perlu direnungkan oleh setiap manusia, karena tidak seorang pun yang bisa melepaskan diri dari pertanggungjawaban di hadapan Allah Subhanahu wata’ala.

Buku Cak Nun Majalah Sabana