Yatim Sejarah

Mukadimah Jamparing Asih Januari 2019

Manusia tidak bisa menentukan ayah dan ibu biologisnya saat hendak dilahirkan, hal itu seolah telah menjadi ketetapan Tuhan yang tidak bisa diganggu-gugat atau ditawar. Namun, hal itu tidak membuat Tuhan terlihat menjadi otoriter, sebab Ia memberi kesempatan bagi manusia untuk memilih ayah dan ibu atau leluhur “spiritualnya” sendiri. Diberi kesempatan untuk memilih orang tua “spiritual” dalam hal ini berar menjadikan kita merdeka dalam memilih sejarah yang kita yakini untuk mengelus masa depan.

Akan tetapi, apakah saat ini kita sudah benar-benar mengengam atau meyakini sejarah kita sendiri hingga bisa mengelus masa depan? Atau jangan-jangan kita sedang di-”genggami” sebuah sejarah oleh sesosok makhluk (entah itu orang, kelompok, atau sistem kubudayaan) dan dipaksa meyakininya sambil disemprot ‘parfum wewangian’ masa depan di depan batang hidung kita yang terbuat dari bahan imajinasi kepentingan?

Sedari duduk di bangku sekolah dasar kita telah diajari sejarah bangsa ini dan tokoh-tokohnya, tak jarang bahkan kita diminta untuk membeli poster dari tokoh-tokoh pahlawan masa lalu untuk kemudian dipasang di dalam kelas. Tanpa kita sadari bahwa sejarah yang selama ini kita pelajari di ruang kelas atau di ruang diskursus lain hanya ingin memberi tahu kita bahwa sejarah yang diajarkan itu memang “benar” dan “ada” tidak lebih. Pemahaman sejarah dengan cara demikian pada akhirnya membelenggu leher kita pada seutas tali yang terikat pada patok yang bernama kebenaran.

Dalam salah satu esai di seri Bhedol Negoro Mbah Nun menuliskan, bahwa cara kita mempelajari sejarah harus ditingkatkan satu strip dari ilmu menuju bijaksana. Jika kita hanya sibuk gonthok-gonthokan tentang siapa dalang dibalik tragedi 65, atau mengapa sistem pemerintahan Islam tetiba berubah setelah wafatnya Sayyidina Ali dari kekhalifahan menjadi dinasti, dan lain-lain. Maka kita tak ubahnya anak yatim yang kekurangan kasih sayang lantas membabibuta mencari pembenaran dari tindakannya yang egois.

Sejarah dan kebijaksanaan adalah sebuah kesatuan yang sulit dipisahkan, dan saat kita mempelajari sejarah hanya berdasarkan benar-salah, ada-tidak, kita tak ubahnya telah menjadi anak yatim dari sejarah yang ditinggal mati oleh kasih-sayang kebijaksanaan.

Dalam esai yang lai –masih dalam seri Bedhol NegoroMaulana Muhammad Ainun Nadjib juga menuliskan bahwa bangsa Indonesia sebenarnya tidak membutuhkan fakta objektif tentang Gajah Mada, Sunan Kalijaga, atau siapapun: yang bangsa Indonesia butuhkan adalah contoh kerja keras, kesetiaan nasional, kasih-sayang kerakyatan dan kebijaksanaan hidup entah dari tokoh nyata ataupun mitos. Namun yang terjadi tidak demikian, kita lebih sibuk mencari kebenaran objektif dari sebuah sejarah masa lalu daripada memilah kebijaksanaan yang hendak disampaikan.

Seberapa ruginya kita saat menjadi yatim sejarah? Kita sering mendengar bahwa “sejarah selalu terulang dengan nama yang berbeda” dan tanpa sadar kitalah pelaku dari pengulangan sejarah tersebut. Sejarah seperti apa yang selalu terulang? Tentu sejarah sebagaimana yang sering kita pelajari dan dengar. Sejarah tentang proses transisi kepemimpinan dari sistem lama ke sistem baru, dari dinasti A ke dinasti B, dan dari pemimpin satu ke pemimpin lainnya yang selalu dihiasi dengan kisah epik peperangan antara kebaikan yang berusaha menumpas kejahatan dengan mengorbankan banyak jiwa sebagai alas sejarah. Sejarah macam inilah yang selalu kita ulang hanya saja dengan spektrum yang berbeda.

Kita bisa saksikan perilaku bangsa ini saat di jalan raya, mereka semua seolah berlomba mengejar waktu untuk lebih cepat sampai ke tempat tujuan, menyalip sesuka hati tak peduli terhadap markah jalan bersambung atau peringatan batas kecepatan di sisi jalan yang mereka pikirkan hanyalah bagaimana caranya sampai tepat waktu, tanpa menyadari bahwa orang lain juga sedang mengejar waktu. Ini menjadi cerminan dari bangsa kita yang yatim akan sejarah, memahami sejarah hanya sebagai ilmu benar-salah, baik-jahat, penjajah-ekspansi, terjajah-terdidik, dan seterusnya. Tanpa memandang sejarah sebagai suatu bentuk tubuh yang harus dipelajari secara kontinu sebab ia selalu berkembang dan menawarkan kemungkinan-kemungkinan baru untuk dipahami.

Seperti ditulis Mbah Nun, “pemenang dalam pertarungan sejarah adalah Ksatria yang berpijak di masa kini, yang di tangan kirinya tergenggam masa lampau, dan di tangan kanannya ia usap-usap masa depan”. Maka hendaknya kita mulai meraba-raba ulang masa lampau, sembari perlahan melepas sejarah yang di-”genggami” pada kita sedari dulu.

Dan agar tidak latah salah meraba apalagi menggengam, mari kita ngariung, melingkar bersama, ngopi, dan sinau bareng di Majelis Masyarakat Maiyah Jamparing Asih.

Buku Cak Nun