Yang Saya Potret Dari Gambang Syafaat

Untuk 20 Tahun Gambang Syafaat

Saya selalu angkat topi kepada para penggiat Simpul Maiyah di manapun saja berada. Mereka adalah mesin penggerak Simpul Maiyah yang tidak hanya bersedekah waktu, tetapi energi, pikiran, tenaga juga materi untuk mengelola Simpul Maiyah. Bukan hanya sekadar menyelenggarakan Maiyahan rutin bulanan, tetapi bagaimana mereka merawat persaudaraan Maiyah di Simpul Maiyah masing-masing, yang tentu saja bukan perkara mudah.

Acapkali kita tidak merasa kagum, takjub, terkesima, dengan apa yang sudah kita lakukan. Mungkin karena sudah terbiasa kita lakukan, sehingga hal-hal yang sebenarnya menakjubkan dan mengagumkan kita anggap biasa-biasa saja. Ini yang juga sebenarnya menjadi otokritik bagi Penggiat Simpul Maiyah di manapun saja. Hal-hal yang spesial, istiimewa, luar biasa yang sudah kita lakukan selama ini di Simpul Maiyah masing-masing, terasa biasa-biasa saja. Terkadang kita lupa mensyukuri proses yang sudah kita jalani sendiri.

Mbah Nun sering mengingatkan, jika kita melihat sesuatu, cobalah melihat sedetail mungkin. Ketika makan mangga, ingatlah bahwa mangga itu berasal dari sebuah pohon. Ketika mengingat pohon mangga, kita harus ingat juga bahwa pohon itu ada akarnya. Akar pohon tumbuh dari sebuah biji mangga. Biji mangga itu tumbuh dalam sebuah gundukan tanah yang subur, yang tentu saja kompatibel bagi biji mangga itu untuk tumbuh.

Sebuah Simpul Maiyah, jika kita merefleksikan dengan asal-muasal mangga tadi, maka kita harus menyadari bahwa Simpul Maiyah juga memiliki akar yang menumbuhkan Simpul Maiyah itu sendiri. Ibu kita; Padhangmbulan, tanpa sebuah akar yang kuat, tidak mungkin mampu bertahan hingga 26 tahun. Begitu juga Gambang Syafaat, 20 tahun bertahan dengan berbagai dinamika yang dialami oleh penggiatnya.

Ketika Silatnas Penggiat Simpul Maiyah tahun 2018 di Surabaya, saya ingat betul ketika Yunan, salah satu penggiat Gambang Syafaat menggugat kami Koordinator Simpul Maiyah; “Pokoknya, kalau nanti Gambang Syafaat ulang tahun, Mbah Nun ndak datang, tak murtad waeee!!!!”, gugatan yang sontak memancing tawa seluruh peserta Silatnas saat itu. Yunan kemudian menambahkan; “Yaa, minimal Mas Sabrang lah….”

Tentu saja, Yunan tidak benar-benar murtad. Bahkan, Yunan justru semakin giat dan istiqomah terlibat di Gambang Syafaat. Dan ketika Gambang Syafaat merayakan 19 tahun perjalanannya tahun lalu, sebuah gelaran pameran foto perjalanan Gambang Syafaat dikemas dengan sangat apik. Alhamdulillah, Mbah Nun dan Syeikh Nursamad Kamba saat itu juga hadir. Alhamdulillah, Yunan tidak jadi murtad. Yunan berhasil menjadi leader pada perayaan 19 tahun Gambang Syafaat tahun lalu.

Kesungguhan itu tidak hanya saya lihat dari Yunan seorang. Roni, Ali Fatkhan, Muhajjir, Ipnu, Haq, Joni, Cak Noeg, Kang Wahyu, Kang Jion dan penggiat Gambang Syafaat lainnya juga memperlihatkan kesungguhan yang 100%. Maka, tidak ada diskusi panjang di tataran Koordinator Simpul Maiyah ketika Gambang Syafaat diusulkan untuk menjadi tuan rumah Silatnas Penggiat Simpul Maiyah 2019 awal bulan ini. Kesetiaan, kesungguhan, komitmen dari para penggiat Gambang Syafaat sudah tidak dipertanyakan lagi. Dan terbukti, mereka sukses menyelenggarakan Silatnas Penggiat Simpul Maiyah tahun ini.

Maiyahan adalah Sinau Bareng. Maiyahan adalah urip bebrayan. Maiyahan adalah berbagi peran. Maiyahan adalah arena bagi setiap individu, terutama para penggiat Simpul Maiyah untuk menantang diri sendiri, agar mampu berbuat lebih baik, selalu lebih baik dari sebelumnya. Di Kenduri Cinta, kami Formatur Kenduri Cinta selalu menekankan bahwa Kenduri Cinta adalah laboratorium pembelajaran hidup. Setiap penggiat harus total di Kenduri Cinta, ketika mereka total efeknya mereka memiliki mentalitas yang tangguh dan kuat di lingkungan kerja mereka. Dampaknya, mereka adalah orang-orang yang sangat dipercaya di tempat kerja mereka masing-masing.

Jamaah Maiyah pada umumnya hanya melihat penggiat Simpul Maiyah adalah orang-orang yang ketika Maiyahan datang lebih awal, menggelar karpet, sibuk mengatur lalu lintas acara, mendistribusikan konsumsi, membersihkan lokasi Maiyahan, menyiapkan keperluan teknis dan segala macam ubo rampe Maiyahan.

Padahal, Mereka bukan hanya orang-orang yang berjuang di belakang layar, tetapi mereka adalah orang-orang yang juga merasakan dampak langsung dari Maiyahan yang mereka kelola. Mereka juga adalah benih-benih yang sudah ditatar oleh Mbah Nun, yang tumbuh di tanahnya masing-masing, yang kompatibel dengan mereka. Dan itu yang saya juga melihatnya di Gambang Syafaat.

Kepada Penggiat Simpul Maiyah yang masih muda usianya, saya pribadi menyarankan belajarlah kepada penggiat Gambang Syafaat. Belajarlah tentang kesetiaan, tentang istiqomah, tentang kesabaran, tentang kesungguhan, tentang perjuangan, tentang nilai, tentang urip beberayan.

Maiyahan itu bukan sekadar mengumpulkan masssa sebanyak-banyaknya. Maiyahan adalah tentang seberapa kuat kesungguhan kita dalam menanam nilai. Maiyahan itu bukan sekadar tentang Mbah Nun, Syeikh Nursamad Kamba, Mbah Fuad atau siapapun saja yang menjadi pembicara. Maiyahan adalah berbagi peran, keberanian mengambil peran dan sungguh-sungguh dalam menjalani peran.

Salam ta’dhim kepada seluruh Penggiat Gambang Syafaat. Selamat merayakan perjalanan 20 tahun Gambang Syafaat. Tabik!

Buku dan Merchandise