Yang Percaya, Percayalah
Yang Ingkar, Ingkarlah

Panduan Workshop Simpul-simpul Jamaah Maiyah Agustus - Oktober 2019 (4, terakhir)

Untuk anak cucuku Jamaah Maiyah saya meminta workshop Sinau Bareng Agustus-Oktober 2019 karena cinta saya mendorong mencarikan jalan, wilayah, sabil dan maqamat yang menurut saya minimal mudlaratnya untuk masa depan kalian. Saya ulang lagi, agar kalian tidak tertekan oleh apapun yang semestinya kalian tidak tertekan. Agar kalian tidak bingung, sedih, menderita, frustrasi, putus asa, berang dan marah, oleh hal-hal yang tidak selayaknya membuat kalian mengalami itu semua.

Yang saya harapkan hanya kalian belajar bersama, tanpa keharusan untuk mengikuti atau taat kepada pemikiran dan jalan hidup saya. Sebab kalian bukanlah saya dan saya bukanlah kalian. Uswatun hasanah kita adalah Rasulullah Muhammad saw, bukan saya. Panutan kita bersama adalah Kanjeng Nabi, dan sama sekali bukan saya. Nurullahi Muhammad adalah sejengkal sesudah Al-Awwal dan setapak sebelum Al-Akhir.

Anak cucuku berhak (bahkan berkewajiban menurut hak Allah swt) untuk memastikan tidak akan kintir oleh arus sungai Dunia, karena yang kalian belajar dan berlatih adalah berenang-renang di aliran dan gelombang sungai-sungai Sorga. “Tajri min tahtihal anhar”, dan sudah lama kita berlatih memahami dan mengalami “kholidina fiha abada”. Itu bukan kepastian, melainkan keyakinan. Itu bukan kesimpulan, tetapi husnudh-dhon. Itu bukan GR, itu iman. Itu bukan takabbur, melainkan semangat bersyukur.

وَقُلِ الْحَقُّ مِن رَّبِّكُمْ ۖ فَمَن شَاءَ فَلْيُؤْمِن وَمَن شَاءَ فَلْيَكْفُرْ ۚ إِنَّا أَعْتَدْنَا لِلظَّالِمِينَ نَارًا أَحَاطَ بِهِمْ سُرَادِقُهَا ۚ وَإِن يَسْتَغِيثُوا يُغَاثُوا بِمَاءٍ كَالْمُهْلِ يَشْوِي الْوُجُوهَ ۚ بِئْسَ الشَّرَابُ وَسَاءَتْ مُرْتَفَقًا

Dan katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa ingin beriman berimanlah, dan barangsiapa yang ingin ingkar, ingkarlah”. Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang dhalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.

أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ

Kita berpikir mendasar, mengakar, berpikir kesejatian asal-usul, sangkan paran. ”Hanya hak Allah-lah penciptaan dan kekuasaan”. Saya tidak menciptakan diri saya sendiri. Maka saya tidak berkuasa atas diri saya sendiri. Saya tidak menjalani hidup berdasar kemauan, keinginan, nafsu, hak asasi, kreativitas, ide, gagasan, demokrasi, kemerdekaan dan kebebasan saya sendiri. Saya tidak memilih kemerdekaan pribadi, kemerdekaan masyarakat, kemerdekaan Negara dan warganya. Saya memilih kepatuhan kepada yang hanya di tangannya hak atas penciptaan dan kekuasaan.

Anak cucuku Jamaah Maiyah tidak berkewajiban secuil pun untuk mengambil keputusan seperti saya. Apalagi untuk mematuhi keputusan hidup saya. Itu adalah tawar-menawar individu kalian masing-masing dengan Allah swt . Kalau saya hanya mensyahadati Allah swt dan Rasulullah saw dan kepada yang lainnya hanya mencintai tapi tidak mensyahadati (mengakui), kalian boleh ambil keputusan sendiri. Kalau saya menyimpulkan bahwa saya sedang berada di lingkungan kehidupan yang menuhankan pasar dan kekuasaan diri sendiri, kalian berhak mengambil kesimpulan yang berbeda atau sebaliknya.

Kalau saya berketetapan bahwa yang disebut Negara, Pemerintah dan Demokrasi bukanlah Negara, Pemerintah dan Demokrasi, kalian semua sama sekali tidak terikat oleh ketetapan saya. Allah swt menganugerakan kepada kalian kemerdekaan memilih, “faman sya`a falyu`min waman sya`a falyakfur”. Yang mau percaya, percayalah. Yang mau ingkar, ingkarlah. Sedangkan saya tidak punya hak apapun atas kalian semua, kecuali kewajiban mencintai. Sehingga kalian semua dan siapapun juga tidak akan mendapatkan akibat apapun atas keputusan kalian.

Tema Workshop Agustus sd Oktober 2019 yang saya “memaksakan” kepada kalian, mohon dianggap sebagai semacam hadiah atau kado, yang kalian tidak memintanya, yang kalian bahkan bisa menganggap itu adalah paksaan dari saya.

Ada manusia nilai, manusia pasar, manusia istana. Ada berlaku nilai, berlaku pasar, berlaku istana. Ada manusia qimah, manusia suq, manusia daulah. Ada manusia ‘tuhan’, manusia keserakahan, dan manusia kekuasaan. Bahkan kalian berhak mensimulasikannya, memuaikan konteksnya, mengembangkan perspektifnya: ada Masjid Gedhe, ada Pasar Beringharjo dan Malioboro, ada Kraton. Atau idiomatik dan terminologi apapun berdasarkan kadar dan tingkat pengalaman dan pengetahuan kalian masing-masing atau bersama.

Setiap manusia memiliki ketiga-tiganya. Prosentasenya berbeda-beda. Setiap manusia perlu mencari cara untuk mengetahui komposisi potensialitas itu dalam dirinya. Setiap manusia diberi hak untuk memilih menjalani hidupnya berdasarkan skala prioritas alamiah di dalam dirinya, ataukah mengejar kemauannya. Seluruh perangkat peradaban, kebudayaan dan kependidikan dalam masyarakat manusia hanya menyediakan alat-alat pengembangan manusia berdasarkan kemauan keduniaan mereka. Pendidikan keluarga, Sekolah dan Universitas tidak menyusun kurikulum berdasarkan amrullah atau konsep Allah swt dalam menciptakan manusia, melainkan berdasarkan nafsu keduniaan mereka.

Masing-masing manusia diberi komposisi fadlilah yang berbeda-beda. Lihatlah dirimu sendiri dan manusia-manusia kiri kananmu. Ada manusia nilai yang berlaku nilai. Ada manusia nilai yang berlaku pasar dan istana, sehingga memasarkan nilainya untuk keuntungan pasar dan kekuasaan. Ada manusia pasar yang masih berpedoman kepada nilai, tapi ada juga manusia pasar yang hanya menerapkan nilai pasar. Ada manusia istana yang dipenuhi oleh kekuasaan, tapi ada juga manusia kekuasaan yang menjaga nilai. Ada seribu komposisi, jenis, formula, manajemen dan tujuan hidup yang berbeda-beda yang ditempuh oleh manusia.

Kalau kalian mempersepsikan pembidangan-pembidangan, divisi-divisi, departemen-departemen, kementerian-kementerian, profesi-profesi, kecenderungan dan kebiasaan, cara berpikir dan tujuan hidup — kalian bisa menemukan apa, siapa dan kegiatan apa yang tergolong kategori nilai, apa yang pasar dan apa yang istana. Bisa juga variabel, percampuran, pertukaran, kerancuan dan bias di antara ketiganya. Ada yang memprimerkan nilai dan tidak dua lainnya. Ada yang agamanya adalah pasar atau istana. Ada yang tidak mengerti beda asas dan prinsip antara nilai, pasar dan istana. Ada yang seumur hidup tidak mengambil keputusan di antara tiga itu mana yang primer mana yang sekunder.

Kalian juga bisa mempersepsikan dan menganalisis praksis Negara dan masyarakat kita di bidang politik, ekonomi, kebudayaan, pendidikan, kesehatan, dlsb kemudian menemukan bagan atau gambarannya dalam tiga kecenderungan itu. Saya tidak sedang mengajarkan sesuatu kepada kalian. Saya tidak sedang menuturkan ajaran. Saya hanya menunjuk suatu wilayah, mungkin sedikit membukakan pintu. Kalian merdeka untuk tidak perduli kepada nilai, pasar atau istana. Kalian tidak berkewajiban untuk mencari dan mendalami apa faktor nilai dalam praktek pasar dan istana, seberapa kandungan pasar dalam kegiatan istana dan nilai, atau terdapatkan dimensi istana pada kehidupan para pejalan nilai dan pasar.

Dalam perspektif nilai-pasar-istana itu apa yang sejatinya dilakukan oleh warganegara, anggota sosial, masyarakat, Ormas, Parpol, Pemerintah, Negara dan mainstream Dunia. Adapun kalian sendiri anak cucuku Maiyah akan mengambil keputusan apa dan ke arah mana hari ini hingga hari depan kalian? Atau kalian bahkan merdeka untuk tidak melakukan apapun, tidak mendengar atau belajar apapun dari workshop kehidupan Sinau Bareng ini. Namun demikian saya tetap menitipkan reserve ingatan dan kesadaran, bahwa kalau tidak ada apa-apa, jangan simpulkan bahwa tidak ada apa-apa. Kalau keadaan tenang tenteram, jangan total beranggapan bahwa keadaan benar-benar tenang tenteram. Kalau ini itu diam, hendaklah ingat bahwa diam itu berlakunya hari ini, sedangkan besok pagi, minggu depan, bulan atau tahun depan, tidak pasti diam.

عَسَيْ أَنْ تُكْرِهُوْاشَيْئاًوَهُوَخَيْرٌلَكُمْ وَعَسَيْ أَنْ تُحِبُّوْاشَيْئاًوَهُوَشَرٌّلَكُمْ

17 Agustus 2019
Emha Ainun Nadjib

Buku Cak Nun Majalah Sabana