Waspada Kata

Mukadimah Gambang Syafaat Februari 2019

Kata-kata bukanlah alat untuk mengantarkan pengertian. Ia bukanlah pipa yang menyalurkan air. Kata-kata adalah kata-kata. Ibarat pipa, ia adalah pipa itu sendiri bukan alat menyalurkan air. Ibarat pisau, ia adalah pisau itu sendiri bukan alat untuk memotong. Kata mesti bebas dari beban pengertian. Ia harus mandiri. Tidak terjajah pengertian-pengertian yang ditentukan kaum birokrat dan kaum moralis. Kata-kata adalah kata. Dan pada mulanya, kata adalah mantera.

Diskursus di atas, pengembalian kata pada mantera dan membebaskan kata dari ”keterjajahan” makna mengemuka pada awal 1970-an. Penyair Sutarji Colzoum Bachri yang menyerukan gagasan itu. Ia menghendaki kata bergerak bebas tanpa ada kekangan pengertian. Kata-kata harus mandiri, bergerak bebas, dan ia tidak bisa didikte definisi. Tentu saat Sutarji menyampaikan gagasan frontalnya itu kepada publik, banyak orang yang menolak dan tidak sedikit juga yang menerima. Dan di sini, kita juga tidak hendak kembali pada zaman lalu untuk mengambil posisi: kira-kira saat Sutarji mengatakan itu, kita akan sepakat atau menolak.

Kata memang tidak sesedarhana urusan deretan huruf atau sekadar ucapan. Kata sudah memiliki tanggungjawab besar menyampaikan makna yang terkandung di dalamnya. Bagaimanapun gagasan Sutarji untuk membebaskan kata dari pengertian sulit diterapkan orang-orang. Kata, sebagaimana fungsinya, memang memiliki makna atau pengertian. Dan pada zaman sekarang bukan perkara kata marak terjadi karena kata-kata yang sudah berkhianat dari makna atau pengertian aslinya. Kabar buruknya manusialah yang membuat kata itu mengkhianati maknanya.

Mengapa itu bisa terjadi? Ada banyak sebab tentunya. Satu diantaranya disebabkan oleh telanjur banyaknya orang yang telanjur tidak mau belajar dengan serius dan media massa yang juga ikut terbawa arus besar penyalaghunaan kata ini.

Tiba-tiba saja Ormas Islam terbesar di Indonesia, sekali lagi terbesar di Indonesia, meminta buku pelajaran sejarah ditarik dari sekolah karena keberatan disebut sebagai organisasi radikal. Mengapa tiba-tiba kata ”radikal” terlihat najis dan njijiki. Bukankah dulu semasa zaman penjajah tokoh-tokoh atau organisasi radikal adalah tokoh atau organisasi yang giat melakukan perlawanan terhadap pemerintah kolonial. Artinya secara pengertian, radikal sama sekalinya tidak ada hubungannya dengan garis pemahaman Islam yang gemar membom masjid, gereja, dan gedung pemerintahan.

Bukankah dulu kelompok Islam yang melakukan pembajakan pesawat atau melakukan bom bunuh diri, atau menyerukan pembunuhan orang-orang yang tak seagama disebut golongan fundamentalis. Kok sekarang diganti menjadi golongan radikalis? Siapa yang awal memberi sebutan itu dan mengubah itu dan mengapa kita manut saja? Ah, perkara kata memang rumit. Kita sering melihat orang berkata-kata tapi sedikit sekali yang bertanggungjawab pada setiap kata yang diucapkannya. Kata Mbah Nun, sekarang banyak kata-kata yang najis. Kata-kata yang sudah ingkar pada makna aslinya. Terkhusus kata-kata yang berasal dari Al-Qur’an. Artinya menjadi tidak seperti yang dikatakan Allah dalam Al-Qur’an. Khilafah tiba-tiba berubah menjadi kata yang mudah untuk menstigma kelompok yang gemar menentang sistem pemerintah. Disusul hijrah, dan Anda bisa sebutkan sendiri kata-kata yang lain.

Tidak memungkiri kita juga pernah menjadi bagian dari orang yang menyalahartikan kata-kata itu tadi. Maka sebelum kesalahan itu membesar dan menjadi bencana pengetahuan. Kita bisa turut andil, mengerem gejala ini, tidak gampang ikut arus, dan melakukan resistensi.

Buku Cak Nun