Urun Kemesraan untuk Masa Depan Pascanegara

Catatan Sinau Bareng "Urip Iku Urup", Ngluwar, Magelang, 24 Januari 2019

Khatmil Hujan

Umpomo Indonesia ora ono, Anda akan tetap mesra dengan Gusti Allah tidak? Anda akan tetap berbuat baik tidak?” Pertanyaan- pertanyaan Mbah Nun malam itu di Lapangan Danurojo Ngluwar Magelang serempak mendapat koor jawaban dari para jamaah dan hadirin Sinau Bareng dengan kata “Tetaaaap.” Ini bukan ajakan untuk makar pada negara tapi bagaimana kemudian Mbah Nun mengajak kita berpikir dan memetakan “opo atau sopo sing nomor siji ning uripmu?”

Begitu juga salah satu pertanyaan Mbah Nun yang datang membelah hujan pada tanggal 25 Januari 2019M itu. Bahasan yang akrab dikenal dengan tema pasca-negara dalam dunia akademis. Namun kalau itu biasanya hanya terjadi di forum-forum intelektual kelas dunia dengan nama yang melangit. Bahasan semacam itu terasa wajar saja dibawa di desa-desa pada berbagai majelis Sinau Bareng termasuk malam ini.

Pertanyaan Mbah Nun pada jamaah membuka kesadaran rasional bahwa apa yang kita sebut negara, perannya dalam hidup kita sehari-hari tidak betul-betul utama atau nyata juga. Sedikit bercanda Mbah Nun menambahkan, “Nek ora ono Indonesia kowe yo tetep adus to? Nek ngising tetep cewok?” Pasca-negara memang sudah bukan kemungkinan, mitos negara yang semakin runtuh. Hanya kita perlu siap mental karena telalu lama hidup dalam ilusi tersebut.

Sinau Bareng bisa dilaksanakan pada saat hujan turun maupun pada sangat cerah. Kali ini, intensitasnya cukup fluktuatif, kadang sangat deras kadang berhenti sangat senyap. Ini bukan kita mau mendramatisasi ketahanan para jamaah yang tetap teguh di bawah dua kondisi itu, tapi yang menarik adalah bagaimana kemudian kondisi itu dielaborasi menjadi sajian-sajian kemesraan dan keilmuan sendiri.

Dari nomor yang ditampilkan Khatmil Qur`an dilantunkan oleh KiaiKanjeng dengan pemaknaan yang diberikan oleh Mbah Nun bahwa ini adalah cara kita mensyukuri nikmat hujan. Bisa kita katakan, kali ini nomor itu jadi berjudul “Khatmil Hujan”. Dan Mbah Nun kemudian juga melepaskan pertanyaan-pertanyaan mengenai kenapa para hadirin tetap bertahan dalam kondisi semacam ini dan rupanya jawaban yang muncul cukup beragam. Ada yang menyahut karena mencari ilmu, seduluran, sampai karena alasan tresno. Namun Mbah Nun tidak luput menegaskan, “Jangan menyangka yang membuat anda bertahan di sini adalah karena saya. Aku ra nduwe kemampuan menahan kowe kabeh.” Dalam Sinau Bareng kita mendidik diri untuk berjuang mencari sesuatu yang lebih dan lebih, bukan hal meteriil juga bukan sekadar kekaguman pada sosok belaka. Selalu ada sesuatu di baliknya, itulah kita mencari.

Tema “Urip Iku Urup” terpampang di latar belakang panggung. Malam ini jamaah juga mendapat tambahan sajian kemesraan dengan hadirnya Bu Novia Kolopaking yang dengan penuh energi menyapa jamaah dan mengajak menyanyikan lagu “Mirai e”. Cukup mengejutkan juga ternyata banyak yang tidak tahu bahwa lagu “Sayang” yang sedang sangat populer versi dangdutnya itu sebenarnya berasal dari lagu Jepang tahun 1998 yang dinyanyikan oleh duo Kiroro yang berdiri sejak 1996, dengan anggotanya Chiharu Tamashiro (vokalis) dan Ayano Kinjo (keyboard).

Tapi kita juga bukan yang pertama kali, jauh-jauh hari hampir sepuluh tahun lalu lagu ini juga populer versi Chinese-nya yang berjudul “Hou Lai”. Bedanya memang, tampaknya versi Chinese adalah adaptasi yang selain mengambil nadanya juga mengambil maknanya. Sedangkan ketika jadi lagu “Sayang” maknanya sangat bergeser dan ada penambahan unsur rapnya. Mirai e sebenarnya lagu yang bercerita tentang harapan akan masa depan. Kita impresikan saja maknanya jadi begini, bahwa kita bisa punya harapan di masa depan nanti akan lebih banyak kasih sayang, dan tidak perlu ada pilpres atau pilleg yang berisik dan bikin risih.

Jamaah yang secara kultur geopolitik lebih akrab dengan lagu Sayang akhirnya ikut menyanyikan, dan tercipta sekali lagi koor

“Hora! Ashimoto wo mitegoran
Kore ga anata no ayumu michi
Hora! Mae wo mitegoran
Are ga anata no mirai”

Pengartian bebasnya kira-kira: Lihat! Lihat jejak langkahmu, itulah jalan yang engkau tempuh. Lihat! Ke arah mana kau menghadap, itulah masa depan yang akan kau jelang.

Buku Cak Nun