Untuk Apa Ber-Maiyah? Ya untuk Ber-Maiyah

Liputan Majelis Maiyah Padhangmbulan, 21 Maret 2019

Cak Yus dan Lek Hamad membuka pengajian. Berhubung sekarang malam Jumat Legi, Cak Yus meminta lagu Mas Zainul (Almarhum) “Saben Malam Jumat” dinyanyikan bersama. Mbak Yuli dan Cak Majid memandu shalawat dan lirik “Saben Malam Jumat”. Surat Al-Fatihah dibacakan jamaah untuk Mas Zainul.

Disambung dengan “Shalawat Madura” yang dibawakan Mbak Yuli dan Mbak Nia menggetarkan cinta kita kepada Kanjeng Nabi Muhammad.

Cak Yus memulai pembahasan mereview pentas Sengkuni2019 di Surabaya beberapa waktu lalu. Telah hadir Pak Dudung dan Mas Feri. Manajer teknis yang diamanahkan kepada Mas Feri merupakan tugas berat yang pada akhirnya disadari berlimpah ilmu. Kekompakan teman-teman Bangbang Wetan dan semua pihak yang bekerja secara kekeluargaan menandaskan pengalaman berharga.

Kecerdasan berjamaah, meminjam istilah dari Mbah Nun, ternyata tidak menafikan dimensi profesionalitas, kesungguhan melayani, dan kesanggupan saling berbagi peran dan fungsi dalam mekanisme kerja bareng.

Lek Ham menegaskan pentas Sengkuni2019 merupakan cermin bagi kita bahwa tidak menutup kemungkinan Sengkuni adalah diri kita, lengkap dengan berbagai dimensi dan lipatan potensi kerusakannya. Oleh karena itu, kita tidak hendak me-Sengkuni-kan siapa pun dan pihak mana pun. Sambil kita tetap waspada terhadap segala potensi pe-Sengkuni-an di sekitar kita.

Pengalaman yang disampaikan Mas Feri mengerucut pada pembahasan tentang profesionalitas yang oleh cara berpikir modern didikotomikan dengan sikap kerja amatir. Padahal antara profesional dan amatir adalah dua sisi dari koin yang sama.

Pak Yus menyatakan, rezeki min haitsu laa yahtasib tidak semata-mata akibat dari kerja profesional yang hanya dipahami dari sisi kalkulasi kapital. “Sikap transaksional justru mempersempit peluang datangnya rezeki yang tidak disangka-sangka,” ungkap Cak Yus. Bekerjalah yang tidak disangka oleh kebanyakan orang karena pertimbangan transaksi semata, demikian saran Cak Yus.

Mengerjakan satu aktivitas bisa dilandasi oleh tujuan kebaikan itu sendiri. Mbah Nun sering menyatakan bahwa tujuan hadir di Maiyah ya hadir di Majelis Ilmu itu sendiri. Tujuan ber-Maiyah adalah ya ber-Maiyah. Tidak ada udang di balik batu. Dengan dilandasi keyakinan bahwa yang kita kerjakan adalah kebaikan cukup sebagai motivasi utama–tanpa “udang kepentingan atau pamrih” yang lain.

Pengalaman yang diceritakan Mas Feri dan peneguhan dari Pak Dudung menjadi pintu masuk untuk mendalami kesadaran kita tentang pentingnya hidup bebrayan dan cerdas secara sosial.

Buku Cak Nun