Unlimited “N” dan Gaussian Curve

Catatan Majelis Maiyah Suluk Surakartan, 22 Februari 2019

Mas Wasis kemudian melempar ke jamaah untuk melengkapi perspektif. Ada mas Alif yang bercerita panjang lebar soal mimpi dari kitab Taurat seperti perjalanan Hijrah Musa ke Tanah Perjanjian, tanah yang diimpikan untuk dimiliki juga kisah mimpi Nabi Yusuf yang kemudian menjadi tokoh penting setelah menafsirkan mimpi tentang masa depan Mesir. Lalu ada Mas Hanif yang mengutarakan bahwa kualifikasi pemimpin harus jadi pemimpi dulu (punya visi yang jauh kedepan), juga impiannya sendiri yang kemudian menjadi pertanyaan “Kenapa manusia yang sekecil ini hidup di bumi yang juga kecil, sementara semesta begitu luas?” ya begitu luas dengan hamparan langit maha sempurna, bertahta bintang-bintang di angkasa.

Lagu Padi ini kemudian dilantunkan mas Aziz sebagai jeda perbincangan. Kopi tersaji di belakang, juga beberapa camilan pengganjal perut menjadi teman mendengar Mahadewi. Setelah nembang mas Aziz ikut merespon dengan slenge’an ”jangan-jangan kita ini dikibuli oleh nenek moyang kita, yang kemudian terus menerus kita menglorifikasikan masa lalu”. Lalu komentar berikutnya soal etos kerja yang mencolot dari mulutnya adalah orang Jawa sekarang cenderung mengandalkan jurus “Power of ngko sek” jurus ampuh untuk menggenapi kemalasan kita. Secara substansi kita menghianati tugas kita untuk mengkhalifahi bumi dengan kemalasan, dan kurang gigih dalam berproses.

Budaya mau-cepat, dan kemalasan berpikir ini yang dilanjutkan pak Munir sebagai sebuah kemunduran. Kemunduran yang berakibat pada hilangnya sebuah ilmu Jawa. Ilmu titen. Bagaimana niteni adalah proses panjang mengamati segala sesuatu dengan sangat serius dalam jangka waktu yang lama, kemudian menangkap pola-pola, baru menyimpulkan sebagai shortcut untuk menapaki masa depan agar lebih baik.

Sebagai seorang yang ekspert di dunia bisnis dan ekonomi pak Munir juga menceritakan bahwa sebuah produk pasti akan mengalami penurunan permintaan. Yang dalam waktu bersamaan sebelum permintaan menurun produsen harus menciptakan produk baru yang segar supaya diminati konsumen dengan kata lain harus selalu ada visi-visi besar selagi satu produk laku keras dipasaran, disitulah timing untuk bermimpi tentang masa depan perusahaan, menentukan arah, menangkap peluang juga mendesain produk-produk baru. Seperti siang-malam produk juga ada masa turun permintaan, jika titen pada waktu itulah produk harus segera diturunkan dari pasar. Menunggu mentari datang lagi. Teori ini kita kenal sebagai Gaussian Curve.

Pak Munir juga niteni soal kutub magnet, jika kutub U dan S yang ada penyatuan, namun jika kutub S dan S atau U dan U yang ada adalah penolakan. Jika diaplikasikan di dunia kerja bagaimana sebuah kerja berdasarkan jalinan persahabatan yang akrab seperti kutub U dan S terjadi penyatuan, muncul belief system yang jika diteruskan tanpa melambarinya dengan konsensus-konsensus yang jelas maka kita kehilangan kejernihan, kewaspadaan terhadap profesionalisme. Maka banyak orang akhirnya lebih enak bikin deal dengan orang yang tidak kenal sekalian, berlawanan kutub sekalian, karena belief system-nya lemah. Di situ sangat mudah untuk tetap waspada. Yang akhirnya jika profesionalisme tercapai target bisnis juga mudah tercapai. Dua ilmu titen yang menarik!

Mas Bani yang hitam gagah seperti Werkudara, omongannya yang ceplas-ceplos melengkapi kejernihan berpikir. Yang tertangkap oleh saya adalah “aja senden wit gedhe” jangan terus menerus bersandar pada pohon besar, yang mengingatkan kita untuk agar tidak tergantung pada orang lain yang punya kekuatan besar mengayomi kita, sedikit demi sedikit kita harus mandiri, berdikari. Hidup petani!

Di penghujung Suluk beberapa jamaah dari UMS membedah istilah kepemimpinan dalam Islam, saya juga ikut nambahi soal cerita Kuasa Ramalan dari HB I ke Pangeran Diponegoro, dan ada juga ngudarasa jamaah yang disampaikan dan dijawab langsung oleh Mas Arsanto dan Pak Munir, sekilas terlihat ala-ala workshop ekonomi poin-poin dijawab cespleng, seperti lagu mas Sabrang yang belum direkam entah apa judulnya tapi liriknya bisa jadi rangkuman pertanyaaan. Temukan Aku di fatwa hatimu. Kembali keatas bahwa dalam kebimbangan selalu ingat Dia yang terus menerus bersemayam didalam kalbumu. Mari menjadi pelaku (pe-) yang terus menerus bermimpi, bervisi, mencoba menelisik mimpi, menangkap pendaran wahyu, terus menerus bersetia pada proses secara tidak terbatas (n) mengetuk pintu Pemilik Ketidakterbatasan.

Udara pagi kemudian masuk melalui jendela-jendela, memungkasi Suluk Surakartan kami berdiri merapatkan diri, langkah-langkah jamaah kudengar dari depan, kami semakin merapat. Hening sejenak. Merefleksikan diri dan mengucap syukur atas semua curahan ilmu. Lampu padam.

Shohibu baitiy……. Shohibu baitiy…….(Indra Agusta)

Lainnya