Unlimited “N” dan Gaussian Curve

Catatan Majelis Maiyah Suluk Surakartan, 22 Februari 2019

Malam ini 22 Februari 2019 jumat keempat, ketika hujan mulai reda, lalu lalang jalanan mulai nampak sibuk, beberapa pengendara sepeda motor mulai melepas mantel ponconya, lalu sebagian tancap gas mengejar angin menuju tujuan entah kemana. Demikian pula laju motorku sedikit gusar aku mengejar waktu, seperti kejar-kejaran antara David Norris dan Tim Adjustment Bureau, banyak pintu-pintu tak terduga demikian pula perjalananku menuju Tanjunganom kali ini. Sedikit basah kena cipratan sana-sini, agak kebut-kebutan dan mendaratlah dengan selamat disambut baliho kotak berwarna putih dipasang di tugu seberang jalan.

Usai memarkirkan motor, satu-satu kaki berpijak pada tangga menuju tingkap dua, di belakang panggung Kang Ranto selaku jayeng mulai menyiapkan sajian dan kopi, di sudut lainnya Logo apple memancar sedikit redup dari laptop anak pak Munir agak serius memandangi tombol-tombol virtual untuk menyiapkan sebuah harmoni suara yang akan meledakkan makna-makna. Di depan kawan-kawan musisi juga menyiapkan alat musik yang di tengah-tengah sinau bareng nanti akan mengendorkan urat syaraf mengimbangi beraneka ragamnya kawruh yang akan diwedar. Nyuluk dipun wiwiti.

Shalawat alfa salam dengan lembut memulai segala sesuatunya, kemudian bernyayi bersama-sama sebagai bentuk cinta juga penyerahan diri kepada Allah, juga kerinduan terus menerus pada kekasih-Nya.

Wajah-wajah baru memenuhi ruangan, sebagai perwakilan tuan rumah mas Wasis mengucapkan sugeng rawuh kepada mereka yang baru pertama kali datang di Suluk Surakartan. Seperti gayung bersambut wajah-wajah baru ini juga mengenalkan diri mereka di depan forum. Tak hanya wajah baru mungkin momentum keseimbangan juga langsung terjadi di suluk kali ini. Wajah-wajah lama juga datang di edisi 37 ini, seperti Kang Sholeh, Kang Bani dst. Keselerasan menjadi lengkap ketika ada pula sedulur Maiyah Maneges Qudroh juga ikut membersamai malam ini. Jauh-jauh dari Magelang, sempat kesasar-sasar akhirnya sampai juga ke tempat dimana kami berkumpul.

Entah apa magnet yang mendorong mereka, Maiyah seperti punya tempat di hati mereka. Maiyah menggerakkan, memperjalankan mereka untuk ikut nimbrung dalam rajutan persaudaraan. Tembang ‘Kangen’ melantun menyalurkan letupan mereka yang menahan rasa ingin jumpa.

Mbeber kloso

Yuli Ardika Pratama si peracik preambule duduk bersila di samping mas Wasis. Memegang mic bersama rambut digelung, kloso tema malam ini disampaikan perlahan. Mengamati berbagai fenomena negeri akhir-akhir ini yang hanya berkutat pada persoalan pemimpin. Dari guyonan, obrolan, debat di medsos, rasan-rasan ibu-ibu sampai di rumah-rumah diskusi semua seperti sibuk sesaat oleh sesuatu yang entah seberapa kadar urgensinya terhadap diri kita.

Racikan diperas menjadi sari-sari bunga yang siap dijejalkan ke alam berfikir. Mas Yuli mengintisarikannya sebenarnya jika kita bicara soal kepemimpinan sebenarnya tidak usah dulu muluk-muluk keranah kenegaraan yang akhirnya juga hanya menjadikan kita berkubu-kubu. Dengan lebih sederhana mas Yuli mewedar soal kepemimpinan dalam skup micro, yaitu keluarga. Bagaimana porsi Bapak, Ibu, anak dalam hirarki kepemimpinan keluarga, peran dan fungsinya dalam berkeluarga sebenarnya juga patut untuk direnungkan. Akhirnya progresi keseimbangan ini yang terus menerus diusahakan supaya tidak njomplang. Supaya anak-anak tidak bertengkar karena merasa tidak adil atas perlakuan orang tua mereka, juga tidak gampang keluarga hancur hanya karena omongan-omongan tetangga. Refleksinya tentu adalah dinamika kepemimpinan Indonesia sekarang, yang harus dicermati berbagai kemungkinan dan harapannya.

We were born and raised
In a summer haze bound by the surprise
Of our glory days

Demikian lirik lagu dari Adele, menambah kehangatan malam ini. Pak Munir dan Mas Arsanto duduk melengkapi irama pembicaraan. Seperti lagu diatas kita dilahirkan, dibesarkan oleh kejutan realitas masa kini juga kejayaan-kejayaan masa lalu.

Buku Cak Nun