Ulang-Alik Isra’ Mi’raj dan Dunia Menjadi Eksotis

(Liputan Sinau Bareng di Langgar Pondok Kiri Albelabeto, Talango, Sumenep, Madura, 26 Agustus 2019)

Bagi saya yang tidak terlalu punya kultur santri, dunia yang saya saksikan di Talango pada Senin malam 26 Agustus 2019M ini terasa seperti punya eksotisme sendiri. Narasi spiritual yang kemudian berkawin dengan kelokalan masyarakat komunal. Melahirkan apa yang disebut imajinasi kolektif. Kesan-kesan impresif  mengenai objek pengamatan sosial maupun perspektif sejarah yang timbul dari hubungan komunikasi yang erat. Dari sini tradisi biasanya lahir. Fenomena relasi mistis-magis, semacam kepatuhan dan kekaguman kiai-santri, tampak agak menarik dan lucu untuk diamati. Sespiritual apapun pengalaman manusia, tentu masih berkaitan erat dengan kultur yang dia terlibat di dalamnya.

Maka itu pengalaman spiritual selalu masih berbau budaya, menstruktur dalam psikologis manusia, jarang ditemukan misalnya orang berbudaya Jawa pengalaman magisnya ketemu Odin atau Zeus. Tapi ke depan mungkin saja terjadi mengingat informasi semakin terbuka, orang bisa mengakses informasi dari mana saja. Pertukaran informasi selalu berefek pada struktur narasi spiritual manusia, hanya kalau dulu dia jadi mimikri budaya yang halus dan samar, ke depan mungkin akan tampak sangat jelas.

Hape saya bergetar oleh sebuah kiriman dari jauh yang menjadikan rindu.Dan saya makin menyadari, zaman sedang sangat baru. Keponakan saya mencari saya di rumah, biasanya selepas main wayangan dia pinjam komik Star Trek dan nonton Spider-Man. Semudah itu pergi-pulang simbol kultural kita saat ini.

Saya sedikit berkesimpulan sekilas bahwa desa berkultur santri di sekitar pondok Albelabeto yang menjadi lokasi Sinau Bareng ini sedang merangkak ekonominya. Bangunan rumah sedang banyak direnovasi, ibu-ibu mengenakan jilbab lebar dan panjang yang tren sekarang memang sebagai penanda kelas ekonomi. Walau Mbah-Mbah masih setia berkebaya dan jarik, itu juga tren pada masanya. Sementara yang laki-laki mayoritas bersarung (juga, tren pada masa tertentu), dengan sikap tubuh yang nampaknya meniru tokoh-tokoh terhormat dalam lingkaran komunal mereka, dalam hal ini kiai-kiai mungkin.

Gerak tubuh, mimik, ekspresi, tren dan style busana semua itu juga ada sanad dan nasabnya, kita mudah memperhatikan ini kalau jarak kita cukup pas tidak terlalu lekat tidak terlalu jauh. Mampu pulang-balik isra’ mi’raj seperti dalam tema “Menggali Hikmah Isra’ Mi’raj“ yang diangkat oleh penyelenggara Sinau Bareng malam hari ini.

Ini dunia yang asing bagi saya, terlanjurnya saya tidak lahir dan besar dengan kultur semacam ini. Hey wait, bukan cuma kultur santri yang menjadi eksotis, Maiyah membuat kita terbiasa mengukur jarak pada berbagai kultur dan struktur dunia. Seperti berisra’ untuk menyebar dan terlibat dalam struktur dan kultur-kultur dunia kemudian bermi’raj untuk ambil jarak lagi melihat itu semua dari jarak tertentu. Dari itu, kacamata pandang yang kita dapat di Maiyah membuat dunia menjadi wahana persinggahan yang eksotis, yang asing, yang menyenangkan untuk diamati segala sesuatunya. Dan kita belajar menampung pula.

Salah satu kesadaran jarak muncul dalam bahasan yang diungkapkan Mbah Nun, “Kita ini seringnya kalau Allah mengharamkan sesuatu, kita malah suka membencinya. Padahal tidak disuruh membenci.“ Kalimat Mbah Nun ini dilanjutkan dengan contoh analogi, bahwa kita juga diharamkan menikahi orang yang masih berstatus muhrim dengan kita, tapi itu tidak membuat kita membenci saudara kita yang “diharamkan“ itu. Ada jarak antara persepsi dan kata-kata, ada pelatihan presisi dan batas yang taqwa waspada yang diberikan oleh Mbah Nun malam hari ini.

Perspektif Bilhikmah

Mungkin karena ada kata “Hikmah” dalam tema yang diusung oleh panitia maka sudut pandang bilhikmah juga adalah salah satu kunci yang dibabarkan oleh Mbah Nun malam ini. Bukan dengan memberi formula baku keilmuan, tapi justru dengan pertanyaan-pertanyaan yang menggoda agar pikiran jamaah aktif.

Misalnya Mbah Nun melemparkan pertanyaan mengenai apakah Nabi Muhammad SAW berisra’ mi’raj atas kemauannya sendiri atau di isra’ mi’rajkan? Isra’ Mi’raj ada di masa lalu atau masih terus terjadi? Kita juga diajak untuk melatihkan pikiran yang holistik dan presisi. Apakah Nabi Muhammad Saw isra’ mi’raj cuma sekali atau hanya sekali yang kita diinformasikan dalam Al-Qur’an?

Saya coba perhatikan ekpresi para hadirin, tampaknya Sinau Bareng dengan pelibatan jamaah dan para hadirin yang boleh aktif bertanya masih agak baru. Pada awalnya ekspresi yang muncul adalah wajah-wajah heran, namun kemudian seiring waktu berjalan, para jamaah semakin menikmati, tertawa, senang dan gembira bersama.

Apalagi malam hari ini Pak Zawawi Imron hadir juga, menyumbangkan beberapa puisi beliau yang sangat beraroma nasionalisme dengan keliaran kultural Madura yang khas pesisir. Bahkan bagi saya yang kurang nasionalis pun, puisi Pak Zawawi tetap terasa indah. Hanya untuk tergoda jadi nasionalis mungkin saya masih jaga jarak. Saya masih malas menyembah negara, karena negara hanya batas. Negara tidak menciptakan tanah, air dan udara kebudayaan. Tapi juga tidak akan saya benci pada NKRI.

Dan benarlah ketika dibuka sesi pertanyaan, pertanyaan-pertanyaan berhamburan. Dan cemerlang. Beberapa yang mengajukan tanya juga masih sangat berusia muda, latar belakang sosial penanya pun cukup beragam. Dari siswa yang sangat tertib, pedagang ikan yang mengambil simbolisasi menjaring ikan sebagai peristiwa sufistik memakai puisi Sutardji, sampai pegiat pondok. Ini fenomena yang menyenangkan pada zaman ini, tidak banyak kita lihat keragaman seperti ini mencuat dalam forum-forum komunal.

Masjidil Aqsa dan Masjidil Haram, Pulang-Balik Di Hati

Saya rasakan limpahan hikmah ilmu, yang baru saya temukan pada Sinau Bareng di Talango malam hari ini. Sudah sering rasanya Mbah Nun memberi simbolisasi Masjidil Haram dan Ka’bah sebagai kondisi hati dan psikologis yang tidak bisa ditembus oleh Dajjal-isme zaman. Hal ini juga kembali dibahas, tapi ada satu tambahan mengenai Al Aqsa.

Menurut Mbah Nun, Al Aqsa adalah simbol hati yang fleksibel, tidak berada dalam pembakuan kepastian sedangkan Masjidil Haram adalah kondisi hati yang stabil, menep dan pasti melintasi peradaban demi peradaban. Sepanjang yang saya tahu, memang Rosulullah Saw sendiri tidak pernah memberikan kepastian lokasi Al Aqsa. Penentuan Al Aqsa yang kita kenal sekarang, barulah terjadi berabad-abad setelah Rosulullah Saw wafat.

Adapun penentuan tempat Al Aqsa oleh Umar r.a saat menjabat khalifah, juga bukan persis di tempat yang sekarang. Sementara wilayah lain yang juga ingin membangun Al Aqsa cukup marak pada masa tertentu, termasuk yang agak modern adalah pembangunan Al Aqsa di Kudus, Pulau Jawa yang kemudian nama pembangunnya dicocokkan dengan legenda lisani tentang Sunan Kudus. Apa yang Mbah Nun sampaikan sangat tepat pada perspektif ini, bahwa Al Aqsa bukan tempat istana kepastian. Dia adalah wilayah kemungkinan.

Pengamatan dan penyerapan saya selama Sinau Bareng ini juga tentu bukan hal yang pasti bisa mencakup keseluruhan peristiwa Sinau Bareng. Terlalu banyak kegembiraan, cinta dan kemesraan. Nada-nada dari KiaiKanjeng, kelincahan mengkhalifahi musik lokal dan terus berjalan, terus saja berjalan terus ber-isra’ mi’raj.

“Temukan dirimu, keluargamu, perjuanganmu dalam isra’ mi’raj,“ pungkas Mbah Nun pada menjelang penghujung acara. Ada rindu pula yang menanti di sana. Setelah ini Lamongan yang kangen dan setelahnya Surabaya mencinta. Maiyah terus berjalan dalam isra’ mi’raj tanpa henti. Kita semua, juga harus bisa mengkontinuasi.

Lainnya