Tuhan Pun “Berpuasa”

Jawa Pos, 7 Februari 1995

Secara terang-terangan Allah menunjukkan sikap posesif dan kita sebut saja—fanatik terhadap ibadah puasa. Allah menyatakan bahwa pekerjaan puasa hamba-hamba-Nya merupakan “milik khusus” di keharibaan-Nya. Kalau pada ibadah-ibadah lain Allah mempersilakan setiap pelakukanya memperoleh pahala, kehormatan, dan manfaat, khusus untuk soal puasa Allah bermaksud “memonopoli” untuk diri-Nya sendiri.

Saya melihat sikap-Nya itu pada beberapa sisi. Benar tidaknya penglihatan saya itu pasti hanya Allah yang mengetahui persis. Saya sekadar menggali, menghayati, dan merasakannya dengan cinta kasih —yang saya harapkan bisa menambah pemaknaan puasa, setidak-tidaknya, bagi diri saya sendiri.

Pertama, yang menjadi tekanan sikap Allah dalam hal puasa adalah rasa cinta dan romantisme. Artinya, bukan beraksentuasi kekuasaan atau hukum. Allah bukannya mengambil laba pahala manusia yang berpuasa untuk kepentingan diri-Nya sendiri. Allah juga bukan sedang “nakalan” dengan otoritas mutlaknya, di mana manusia yang disuruh bekerja tetapi Ia yang memetik manfaatnya. Maksud saya begini: terhadap ibadah puasa ini sedemikian serius dan intensif Ia membatin dan menggagasnya. Sehingga Ia melibatkan diri-Nya sendiri secara langsung dengan cara menunjukkan “rasa memiliki”.

Terhadap possessivenes Tuhan atas puasa ini menurut saya tidak berarti bahwa Allah adalah suatu dzat yang masih memiliki kebutuhan, ketergantungan, dan kepentingan, dan sebagainya, apalagi terhadap sesuatu yang dikerjakan oleh hamba-hamba-Nya. Allah terlalu akbar untuk memiliki kelemahan-kelemahan demikian. Apa yang Ia maksudkan adalah menekankan betapa seriusnya ibadah puasa bagi manusia sendiri di dalam menjalankan hidupnya, pergaulannya, rumah tangganya, perekonomian dan politiknya, kebudayaan dan masyarakatnya. Sampai-sampai Ia mengorbankan dirinya seakan-akan Ia butuh sesuatu dari ibadah puasa manusia. Pada penglihatan itu sebuah taktik yang ditujukan kepada kecerdasan, kepekaan, tetapi juga kerendahan hati hamba-hamba-Nya.

Maka, kedua, sebagaimana kita ketahui bersama: Islam adalah agama pembebasan (dari nafsu keduniawian yang memerosokkan manusia di dalam kebinasaan) atau penyelamatan (berdasarkan konsep takdir-Nya). Dan puasa ditunjukkan oleh sikap Allah itu sebagai metode yang paling praktis—tetapi mendasar bagi proses pembebasan dan penyelamatan manusia atas dirinya sendiri.

Syahadat adalah fundamen keselamatan. Shalat adalah tiang yang berdiri statis. Puasa adalah pedoman manajemen kehidupan di setiap rumah, masyarakat, negara, kebudayaan, dan peradaban. Zakat adalah “minyak pelumas” bekerjanya “mesin hidup” dan penyeimbang mekanisme. Sementara haji adalah “makuto” puncak-puncak pencapaian ibadah kehidupan manusia:

Dengan demikian, ketiga, Allah menunjukkan kepada manusia bahwa puasa adalah prinsip dasar untuk menjalankan hidup. Puasa adalah menahan diri, mengendalikan, dan menyaring. Prinsip dasar kehidupan bukanlah melampiaskan, meloskan, atau menghabiskan. Metode pembebasan bagi kehidupan justru melalui cara mengendalikan, menyadari batas-batas, kesanggupan menyaring, menyeleksi dan mensublimasikan. Ini berlaku dalam hal apa saja. Dari soal berdagang, mengurusi kekuasaan politik, mengelola konsumsi rumah tangga, dan sebagainya.

Kita tidak mungkin mengurusi kesehatan badan melalui makan tanpa batas, baik yang menyangkut banyaknya makanan, jenis kemewahan makanan maupun dosis higiene, kecuali kita bermaksud membuktikan bahwa kesehatan sama dengan keadaan berlebihan. Kita tak mungkin menjalankan politik kenegaraan dengan cara melampiaskan kekuasaan sewenang-wenang, kecuali memang kita menargetkan kehancuran di depan, lambat atau cepat.

Kita tidak mungkin berdagang dengan menuntaskan habis kapitalitas, penguasaan modal, kemenangan tender, pembengkakan saham yang kita sentralisasikan pada diri kita sendiri, dan seterusnya; kecuali kita memang merancang kesenjangan dan akhirnya keruntuhan kolektivitas.

Allah sendiri, memberi contoh-contoh dahsyat dan luar biasa soal mengendalikan diri. Dengan amat setia Allah menerbitkan matahari tanpa peduli apakah kita pernah mensyukuri terbitnya matahari atau tidak. Allah memancar-kan cahaya matahari tanpa menghitungnya dengan pengkhianatan yang kita lakukan atas-Nya setiap hari. Allah memelihara kesehatan tubuh kita dari detik ke detik, meskipun ketika bangun pagi hanya ada satu dua belaka hamba-Nya yang mengucapkan syukur bahwa matanya masih bisa melek.

Allah sendiri “berpuasa”. Kalau tidak, kita sudah dilenyapkan oleh-Nya hari ini, karena sangat banyak alasan rasional untuk itu.[]

7 Februari 1996

**Diambil dari buku Tuhan Pun “Berpuasa”, diterbitkan oleh Zaituna, 1997.

Buku Cak Nun