Tradisi Sinau Bareng Mengupayakan Nasionalisme Kelapa

Catatan Sinau Bareng CNKK di Mapolres Malang, 29 Juli 2019

Bagaimana Sinau Bareng ini? Kok enak saja banyak ragam bahasan dan berbagai bidang dibahas? Apakah yang jadi subjek utama di Sinau Bareng pasti tahu segala hal? Memangnya ada manusia yang tahu segalanya? Siapa subjek utama dalam Sinau Bareng? Mbah Nun? Tapi, dalam Sinau Bareng subjek utamanya adalah semua yang hadir. Semua yang hadir itu, punya pengalaman yang berbeda dalam hidup, punya tujuan dan kurikulum pencarian masing-masing. Mbah Nun adalah orang tua yang menemani dan membersamai proses anak-cucunya.

“Tradisi kita adalah tradisi Sinau Bareng,” ucap Mbah Nun di hadapan berbagai macam jenis manusia, sang subjek-subjek utama, yang memadati lokasi acara Sinau Bareng bersama Mbah Nun dan KiaiKanjeng di halaman Polres Kab Malang pada Senin malam 29 Juli 2019 ini. Tradisi Sinau Bareng, maka dalam hal ini kita juga bukan sekadar beromantisme budaya dan apalagi bukan sekedar over glorified tradisi masa silam belaka. Namun juga aktif membentuk kembali lahirnya tradisi yang lebih segar, lebih baru dan lebih pas dengan kebutuhan zaman.

Mbah Nun menegaskan bahwa dalam tradisi Sinau Bareng siapapun boleh berbicara, kapan pun bahkan boleh memotong pembicaraan bila dirasa ada yang kurang tepat. Dan ini serius. Tentu saja dengan memperhatikan empan-papan, panggonan serta adab agar tidak mengusik yang lain. Tradisi Sinau Bareng memang membebaskan kesetujuan maupun ketidaksetujuan, asal ksatria, artinya berani berhadapan, muwajjahah.

Bukan bicara tanpa juntrungan di media sosial. Kebiasaan tidak mau mengadu wacana secara langsung seperti yang biasa kita lihat di media sosial, bisa saja lahir karena tidak ada kebiasaan mengolah pikiran. Kenapa tidak biasa mengolah pikir? Mungkin karena terlalu sering dimanja pola tradisi ceramah tutur-tuturan belaka. Hanya jadi followers dari pembekuan capaian keilmuan dan pengkeramatan tokoh belaka.

Untuk bisa aktif membarukan tanpa terseret arus zaman, maka kita perlu presisi dalam melangkah. Presisi itu bisa didapat dengan cara kita mengurai kembali jalur perjalanan sejarah yang membentuk diri kita saat ini. Mbah Nun mengingatkan kita kembali akan evolusi tauhid, dari Zabur, Taurat, Injil hingga Al-Qur`an yang diibaratkan dengan bluluk, cengkir, degan hingga klopo. Maka Mbah Nun sempat bertanya, “Bluluk, cengkir, degan sampai kelapa itu, empat atau satu?” Nah inilah Sinau Bareng, kita diajak berpikir bersama, bukan sekedar menerima sendiko dawuh orang keramat belaka.

Sinau Bareng butuh mental, stamina serta kehendak kuat untuk mengolah pikiran. Dan semua ini, adalah bentuk tirakat untuk ikut memohonkan pertolongan pada Allah Swt atas segala persoalan bangsa ini. Mbah Nun mengingatkan bahwa walaupun usia kita masih muda, kita juga harus benar-benar serius dalam bertirakat dan melatih laku prihatin untuk kebaikan seluruh manusia pada masa ini, juga untuk negara bernama Indonesia.

Tak pernah lupa Mbah Nun ingatkan agar kita tetap percaya diri dengan nilai keluhuran bangsa kita. “Negara bukan tuhan, dan pemimpinnya bukan nabi. Posisi kita pada negara adalah membantu, bukan menyembah. Negara adalah alat untuk mencapai tujuan bersama. Maka kita semua harus presisi mana ghoyah dan mana tujuan,” kalimat Mbah Nun ini, bisa kita katakan cukup tepat sasaran di tengah masyarakat yang sedang senang saling tuduh, saling hujat antara kelompok yang dituding “mabuk agama” vs yang dituding “mabuk nasionalisme”. Maka kita presisikan nasionalisme, malam ini dan pada sesi-sesi Maiyah lainnya.

Indonesia Raya dan Syukur pun membahana, dilantunkan penuh cinta oleh para hadirin yang meluber hingga di luar-luar pagar. Ini bentuk nasionalisme sejati yang ditemukan oleh proses pencarian diri dengan fadlilah akal, logika dan rasa yang otentik mandiri antar individu. Bukan nasionalisme yang berasal dari doktrin agamawan, bukan sekadar karena sendiko dogma para guru spiritual atau komando wacana saja. Karena bila begitu, maka akan rentan lahir nasionalisme yang ultra-nasionalis, fasis. Yang menghabisi, mengusir dan membubarkan saudaranya sendiri. Dalam tradisi Sinau Bareng kita upayakan nasionalisme klopo.

Karena Al-Qur`an sudah sampai pada tahap kelapa, artinya pelengkap dari semuanya, maka tidak masuk akal apabila kelapa bertengkar dengan proses-proses evolusi sebelumnya. Potensi perpecahan dan perkubuan politik praktis itulah yang membuat Polres Malang, menginisiatifi digelarnya Sinau Bareng pada malam hari ini. Islam dengan mushaf Al-Qur`an sebagai yang paling jangkep dari semua proses evolusi tauhid sebelum dirinya, mestinya lah lebih takwa, lebih waspada dan punya metodologi-metodologi yang lebih canggih dalam melihat berbagai persoalan.

“Dan yang populer disebut Pulau Kelapa itu pulau Jawa,” ungkap Mbah Nun. Jadi ini adalah jajaran pulau dengan kelengkapan logika, holistik, dewasa peradabannya. Sinau Bareng malam hari ini juga diupayakan selengkap mungkin, dengan dihadiri oleh berbagai lapis perwakilan institusi pemerintah, parpol sampai juga perwakilan tim kampanye kedua kubu yang kemarin berkontestasi dalam pilplres. Di Sinau Bareng, di Negeri Maiyah, kita bertirakat  menyicil kembali lahirnya nasionalisme kelapa yang belakangan ini hampir tidak tampak lagi. (MZ Fadil)

Buku Cak Nun