Tiga Subjek Inti

Hari ini, 9 September, hampir sebulan sesudah Workshop Tiga Jenis Manusia di Majelis Mocopat Syafaat.

Waktu itu, saya memberanikan diri untuk menebak apa maksud dari workshop tersebut. Sambil duduk di jok motor yang terparkir di barat Musholla TKIT Alhamdulillah, bersama sahabat, kami berdiskusi.

Manusia Nilai, Manusia Pasar, Manusia Istana, tiga jenis manusia yang (menurut saya) sekarang nyata keberadaannya. Diskusi dengan sahabat saya di atas jok motor malam itu berhenti sejenak saat kawan juang saya menghampiri. Berebut duluan memberi salam (biasa) kami lakukan, nyenengke sekaligus nggemeske.

Entah kenapa pasca workshop malam itu, di benak saya selalu muncul tiga subjek inti masyarakat. Ulama yang teguh, saudagar yang jujur, dan pemimpin yang adil. Ulama yang teguh berarti sepanjang hidupnya ia manusia teguh berilmu (menguasai nilai-nilai hidup) dan teguh senantiasa tunduk kepada-Nya. Saudagar yang jujur berarti manusia pasar yang jujur, tidak melakukan aniaya kebohongan dengan dunia penghidupannya. Pemimpin yang adil berarti manusia dengan adil dalam menjalankan kekuasaan oleh karena kesadaran kuasanya adalah amanat. Tiga subjek masyarakat yang notabene langka dewasa ini.

Kemudian, sebagai manusia yang belajar dari dan kepada Mbah Nun, saya memberanikan diri untuk menghayati maksud pitutur Beliau terkait tiga jenis manusia tersebut. Kesimpulan saya, secara eksplisit Beliau sedang mengajak para murid untuk membaca, menemukan, dan mengelola diri kita hingga menjadi salah-satu dari tiga subjek inti masyarakat tersebut. Bagaimana caranya? Itu pekerjaan rumah jangka panjang kita bersama.

Menurut saya, yang paling dekat untuk dilakukan ialah banyak-banyak mensilaturahmikan diri ke tiga subjek inti masyarakat yang ada di sekitar kita, di kampung-kampung, di desa-desa, atau bahkan lintas keduanya. Satu sisi kita membersamai, bersamaan dengan itu pada sisi yang lainnya kita dibersamai. Belajar dari dan kepada ulama yang teguh, saudagar yang jujur, pemimpin yang adil. Tiga subjek inti masyarakat tata titi tentrem kertorahardjo.

Yogyakarta, 9 September 2019

Buku Cak Nun