Tiga Dalam Satu

Konsep workshop yang dianjurkan Mbah Nun untuk ditadabburi bersama mengambil terminologi manusia pasar, manusia nilai, dan manusia istana.

Yang pertama, manusia dengan kecenderungan dominan transaksional, dengan  pertimbangan utamanya adalah untung rugi, ingin serba praktis, dan dalam jangka pendek.

Yang kedua, manusia dengan kecenderungan dominan mempertimbangkan banyak hal sesuai value universal, sehingga terkesan kurang cepat mengambil putusan.

Yang ketiga, manusia dengan kecenderungan memiliki kekuatan untuk diikuti, ditakuti, dan mampu membuat keputusannya yang berdampak tidak kecil atau tidak main-main.

Manusia yang memiliki tiga unsur di atas dengan kondisi yang relatif seimbang  disebut ahsani taqwim. Atau bisa juga dikatakan sebagai manusia yang memahami bahwa dalam setiap tahun ada 12 bulan, dan mengetahui kapan saatnya untuk evaluasi.

Manusia dengan keseimbangan tiga hal di atas mampu mempertimbangkan untung rugi secara jangka pendek (manusia pasar) dengan ramuan value-value universal (manusia nilai), sehingga bisa menghitung kadar bahaya (manajemen risiko) dan memiliki kekuatan memerintah (yang dalam skala kecil adalah dirinya sendiri), yang kemudian mampu membagi skala apa yang harus dikerjakan selama minimal setahun (tahun taqwim).

Pada skala komunal, manusia pasar adalah pengisi terbanyak pada struktur menengah bawah yang seyogianya berada pada wilayah otoritas manusia-manusia istana. Sedangkan level manusia nilai adalah seseorang yang sudah mengalami fase pasar dan potensi menduduki kelas manusia istana, akan tetapi ia memilih pada level nilai. Bukan tidak mampu “bekerja menghasilkan uang”, tetapi ibarat seorang dewasa yang sudah tidak berminat pada permainan kelereng dan lempar kartu yang asyik bagi anak anak.

Saya belum mampu memahami dengan baik mengapa “hanya ada tiga jenis manusia”. Bisa jadi ada kemungkinan kemungkinan sintesis percampuran-percampuran tiga hal di atas. Misal, manusia dengan cara berpikir “pasar dan nilai” mampu dan berani mengambil risiko yang dianggap “tidak mengindahkan nilai-nilai”, padahal sejatinya yang bersangkutan berada pada level jangka panjang yang goal-nya justru pada tingkat “kekentalan” nilai yang tidak mudah dilakukan oleh orang lain. Demikian pula sintesis “istana dan nilai”, “istana dan pasar”, dan lain sebagainya.

Pada level individu, penting mengenali diri sendiri apakah dominan pada “pasar, nilai, atau istana”. Orang dengan dominasi pasar, maka kewaspadaannya pada setiap mengambil keputusan hendaknya mengambil lebih banyak kuota “nilai” untuk sedikit menekan dominasi pasarnya. Demikian pula jika dominasi dirinya adalah “istana”, ada baiknya menambah kuota “nilai” untuk sedikit menekan dominasi istananya. Sedangkan seseorang dengan dominasi “nilai” di dalam dirinya, dianjurkan mengambil kuota “pasar” dan “istana” secukupnya, agar secara teknis rutinitas harian relatif terjaga. Sekali lagi ini berlaku pada skala individual.

Banyak fenomena menarik atas ide workshop-nya Mbah Nun di atas. Semoga dengan tema berlanjut secara rutin akan mampu meningkatkan kadar dan kualitas kita masing masing.  Pada bagian halaman buku “Sejarah otentik Politik Nabi Muhammad” karya Prof. Husain Mu’nis yang diberi Kata Pengantar oleh Syekh Nursamad Kamba dan Mbah Nun, konon yang membuat keberatan penduduk Makkah bukan pada rutinitas ritualnya, akan tetapi “keharusan” mengubah kebiasaan hidup agar selaras dengan nilai-nilai universal. Bisa jadi, di antaranya adalah mengubah kecenderungan “pasar” dan “istana” yang berlebihan agar diimbangi dengan “nilai”. Itu yang kemudian ditentang oleh penduduk Makkah, terutama para elitnya….()

Buku Cak Nun