The Real Social Media

Bersamaan orang-orang berkerumun hendak menimba ilmu, ada di antara mereka yang turut nimbrung sembari mencari nafkah. Di saat Sinau Bareng berlangsung tadi malam di Pejalaran, Mbah Nun sempat mendoakan keberkahan kepada seorang Bapak yang menjajakan bendera merah putih di tengah-tengah jamaah. Masing-masing antara jamaah dan penjaja tidak mengganggu satu sama lain didasari oleh sikap bebrayan.

Mendekati lokasi Sinau Bareng, sekitar jam 20.00, saya disambut oleh pemandangan riuhnya pasar kaget yang digelar oleh warga. Puluhan pedagang diatur dengan dijajar rapi sepanjang sekitar 400-an meter hingga saya dapat melihat panggung berada. Riuh tetapi tertata tertib, pembeli pun tampak nyaman sehingga hampir semua lapak dikerumuni pembeli dengan merata, serta arus lalu lalang jamaah yang berjumlah sangat banyak tidak terhambat menuju lokasi. Pastilah yang demikian itu tidak mungkin tercipta apabila tidak didasari sikap bebrayan.

Tak kalah sikap bebrayan tercermin dari aparat yang terlibat malam hari itu. Pak Polisi yang menjaga deret terdepan panggung justru demikian antusias ketika diajak ber-workshop bersama warga dengan dipandu oleh KiaiKanjeng. Semua terlihat akrab, tidak ada sekat antara aparat dan rakyat. Semua berbaur sebagai saudara. Ibu Kapolsek dan Bapak Danramil juga terlibat aktif di dalam workshop. Bagi bawahannya mereka adalah atasan, tetapi bagi rakyat mereka adalah saudara, demikian Mbah Nun mendekonstruksi pemahaman hubungan rakyat dan aparat, sehingga tersambung rasa bersaudara dan jauh dari kesan hubungan yang kaku.

Antitesis dari Medsos yang penuh umpatan dan prasangka, Sinau Bareng justru menjadi the real social media. Di situlah jamaah dari beragam asal daerah dan beragam profesi bersosialisasi dengan penuh rasa akrab dan gembira.

Lainnya