Tetes-an Mutiara Syeikh Nursamad Kamba

Bagi orang awam, mendengar kata tasawuf membikin dahi berkerut. Sebuah ilmu tinggi lagi sakti dan hanya orang-orang yang memiliki kadar iman tinggi yang bisa mengaksesnya. Tasawuf adalah ajaran atau ilmu bagaimana cara untuk lebih dekat dengan Tuhan sehingga terjalin suatu hubungan langsung antara Tuhan dan hamba.

Dalam istilah Jawa tasawuf segaris makna dengan ilmu manunggaling kawula lan Gusti. Untuk bisa memanunggal dengan Gusti orang Jawa (kejawen) biasa melakukan tapa, semedi, atau mengasingkan diri. Dengan menyendiri, sunyi, pikiran tenang, hati bersih, akan dengan cepat menangkap suara, pesan tersirat, tanda-tanda dan itu dipercaya berasal dari Tuhan. Semakin intens bersemedi semakin dekat posisi Ia dengan Tuhan. Wallahu alam.

Saya orang Jawa asli, namun sama sekali belum pernah nglakoni yang namanya tapa brata alias semedi. Bukan maqam saya. Hati masih kotor, pikiran belum jernih, iman sering naik-turun. Labil. Jauh dari kata istiqamah. Apalagi tuma’ninah.

Beruntung, berkah di Maiyah ada seorang Marja seorang ahli tasawuf, yakni Syeikh Nursamad Kamba. Beliau lulusan S1, S2, dan S3 ilmu akidah dan filsafat Universitas Al Azhar Kairo Mesir. Melalui beliau, tasawuf dikemas secara sederhana dan mudah, sehingga awam seperti kita (terutama saya) gampang mencernanya serta berani untuk mengamalkan-nya.

Tetes-an kata mutiara Syeikh Kamba yang berjudul Cahaya Ilahi, Fana, Perilaku Ketuhanan, Menangkap Kehadiran Tuhan, Transformasi Intelektual, Ketajaman Intuisi, Komat-kamit, Tetap Terkoneksi Dengan Tuhan, Penghalang Tuhan, Dekat Dengan Tuhan, menjadi bekal berpikir kita, sekaligus metode langkah-langkah kita dalam mengenal Tuhan, berkoneksi dengan-Nya, berinteraksi di kehidupan sehari-hari, sampai tiba pada titik tasawuf tertinggi, yakni manunggaling kawula lan Gusti.

Melalui jalan pemikiran Syeikh Nursamad Kamba, kita mampu pahami bahwa Tuhan letaknya tidak di sana. Tapi di sini. Di dalam diri.

Hatur nuhun Syeikh, selamat menapaki usia 61. Gemilang. Rahayu.

Gemolong, 24 September 2019

Buku Cak Nun