Teruslah Bersahaja, Pak Toto

Genap 60 tahun usiamu hari ini, Pak Toto. Betapa kami bersyukur telah dipertemukan dengan Pak Toto Rahardjo di Maiyah. Sosok yang sangat paham tentang pergerakan, sosok yang memiliki pemikiran progresif, telah banyak ilmu tentang pergerakan dan organisasi yang diajarkan oleh Pak Toto kepada kami, terutama anak-anak muda Maiyah hari ini.

Salah satu aktualisasi ilmu Pak Toto yang sangat nyata adalah Sanggar Anak Alam yang dirintis bersama Bu Wahya. Melalui Sanggar Anak Alam itu Pak Toto membuktikan bahwa proses pendidikan anak-anak tidak terbatas pada ruang kelas saja. Namun lebih dari itu, Pak Toto dan Bu Wahya memberikan contoh nyata kepada kita bahwa pendidikan anak itu juga melibatkan peran orang tua dan alam sekitar. Bagaimana membangun karakter anak melalui proses dan tahapan yang berlangsung secara alami namun tetap terkontrol dengan baik.

Bagi Pak Toto, anugerah yang sudah diberikan Allah kepada setiap manusia, bahkan sejak dalam rahim Ibu, adalah anugerah berupa sifat, bakat, kecenderungan dan keunikan yang berbeda-beda pada setiap manusia, bahkan pada manusia yang terlahir kembar sekalipun memiliki anugerah yang berbeda, tidak ada yang sama.

Salah satu alasan mengapa Pak Toto dan Bu Wahya mendirikan Sanggar Anak Alam adalah karena Pak Toto melihat fenomena yang terjadi hari ini, ketika anak-anak memasuki institusi pendidikan, justru yang terjadi adalah upaya penyeragaman. Padahal, setiap manusia terlahir identik dengan potensinya masing-masing, tidak mungkin mereka diseragamkan. Karena pada setiap upaya penyeragaman itu akan berakibat pada potensi yang tidak teraktualisasikan sehingga yang terjadi ada banyak anak yang tidak terlihat potensinya, karena ia diseragamkan untuk menjadi bentuk yang sama.

Urip bebrayan dan gotong royong adalah beberapa contoh kearifan lokal yang selalu menjadi tema utama Pak Toto ketika berbicara di podium-podium Maiyahan selama ini. Bukan tema yang wah apalagi fantastis mengingat zaman ini memasuki era Revolusi Industri 4.0 menurut banyak orang, namun Pak Toto melihat kearifan lokal berupa Urip bebrayan dan Gotong royong adalah nilai-nilai yang mulai terkikis. Padahal, nilai dari dua contoh budaya tersebut lahir dari masyarakat kita. Namun, kecenderungan masyarakat kita hari ini berkiblat pada peradaban budaya barat yang sama sekali tidak memiliki nilai luhur dari konsep urip bebrayan dan gotong royong.

Salah satu tanda yang begitu jelas mengapa budaya urip bebrayan dan gotong royong itu mulai terkikis di masyarakat kita hari ini adalah bagaimana setiap orang lebih mengutamakan ego dalam diri. Setiap orang hari ini lebih mementingkan bagaimana kebenaran yang ia yakini juga diyakini oleh orang lain. Setiap orang merasa paling benar, tidak ada celah untuk menerima kebenaran yang diyakini oleh orang lain. Ada level yang sedikit berbeda mungkin, ketika sekelompok orang meyakini kebenaran yang sama, kemudian menganggap kebenaran kelompok yang lain adalah sebuah kesalahan. Sementara semakin hilang keinginan untuk mencari kebenaran yang sejati.

Pak Toto sering mengingatkan bahwa salah satu upaya yang dilakukan oleh Maiyah adalah menjaga budaya urip bebrayan dan gotong royong itu. Menjadi tantangan tersendiri bagi generasi Maiyah hari ini, di tengah peradaban yang begitu pesat perkembangan teknologi dan informasi, bagaimana generasi Maiyah mampu hadir sebagai penyeimbang informasi di tengah masyrakat.

Alhamdulillah, kita masih memiliki Pak Toto Rahardjo. Semoga di usia yang ke-60, Pak Toto semakin sehat, semoga semakin banyak kesempatan Pak Toto untuk berbagi ilmu dengan kita semua. Selamat ulang tahun Pak Toto, tetaplah menjadi Yai Tohar yang kami kenal, teruslah bersahaja.

Buku Cak Nun