Terima Kasih Mbah Nun, Kami Bergembira dan Bersyukur

Catatan Majelis Maiyah Kenduri Cinta ke-201, 10 Mei 2019

Ramadlan hari ke-5, Kenduri Cinta edisi bulan Mei 2019 dilaksanakan, tepat pada 10 Mei 2019. Suasana Ramadlan di Jakarta sebenarnya tidak begitu berbeda dengan suasana bulan-bulan lainnya. Tetap saja macet, hingar-bingar ibukota juga tidak berbeda, apalagi kita masih berada dalam suasana suhu panas politik pasca Pilpres 2019, nyatanya bulan Ramadlan tidak mampu meredakan suhu panas politik di Indonesia ini.

Tapi, masyarakat Maiyah tidak pusing dengan itu semua. Kita yang setiap bulan berkumpul di Taman Ismail Marzuki, di setiap jum’at kedua di Kenduri Cinta selalu memiliki kerinduan yang harus dituntaskan. Rindu adalah sebuah ekspresi dari rasa cinta. Rasa rindu hanya akan muncul karena kita memiliki cinta. Tidak mungkin orang yang benci memiliki rasa rindu terhadap yang ia benci. Jika ada orang yang benci kepada seseorang, namun hampir setiap hari ia membicarakan orang yang ia benci, mungkin itu karena rindunya yang tak terbalas. Karena cintanya yang tak terbalas.

Beberapa hari terakhir, Mbah Nun sedang menjadi trending pembicaraan di beberapa platform media sosial. Seperti biasanya, seolah sudah langganan, di tahun politik ada banyak video-video yang dipotong sana-sini, dimanfaatkan oleh banyak pihak yang tentu saja tidak bertanggung jawab atas konten tersebut, ada yang menggunakan video Mbah Nun sebagai pembenaran sikap yang ia pilih, ada juga yang menggunakan video Mbah Nun untuk menyerang pihak yang bermusuhan dengannya. Ada lagi, pihak yang mencoba mem-blow up video Mbah Nun yang tentu saja kontennya tidak utuh, karena isi kontennya tidak sependapat dengan apa yang ia yakini, berbekal dengan potongan video tersebut, ia menyerang Mbah Nun. Semacam sebuah rutinitas lima tahunan ketika tahun politik bergulir di Indonesia.

Apakah kemudian itu semua mempengaruhi Maiyahan kemudian mengurangi antusiasme jamaah untuk datang ke Maiyahan? Jawaban paling faktual tentu saja suasana Kenduri Cinta tadi malam. Bukan suasana yang baru terlihat. Orang datang, bahkan sejak jam 9 malam, ketika Maiyahan baru saja dimulai, area pelataran Taman Ismail Marzuki sudah dipenuhi jamaah yang memang ingin segera menuntaskan rindunya. Rindu terhadap apa? Tentu saja bermacam-macam. Ada yang memang rindu bertemu dengan Mbah Nun, ada yang rindu dengan suasana Kenduri Cinta, ada yang rindu untuk sinau bareng, ada yang rindu untuk tertawa bersama, ada yang rindu untuk khusyuk bersholawat bersama. Semua merdeka untuk memilih menuntaskan rindu yang mana saja. Tapi justru yang tidak berekspektasi, ia mendapatkan semua yang sejak awal tidak ia harapkan.

“Dosa Kejujuran”, tema yang sudah pasti aneh bagi banyak orang. Jangankan orang awam yang tidak mengenal konsep ruang dan waktu dalam suasana sinau bareng di Maiyahan, orang Maiyah sendiri pun tetap merasa aneh membaca tema itu. Bahkan, meskipun sudah ada naskah mukadimah sebagai pengantar, belum tentu bisa menjelaskan maksud awal mengapa tema itu muncul dan menjadi bahasan di Kenduri Cinta.

Lhaiya, bagaimana kita mencapai pemahaman bahwa jika kita jujur kok malah dosa? Tapi, bukan orang Maiyah jika tidak mampu menelisik lebih detail dari sebuah tema Maiyahan. Toh pada akhirnya, mereka menemukan sendiri maksud dari tema “Dosa Kejujuran” itu. Coba saja simak livetweet yang muncul semalam di linimasa Twitter dengan tagar #KCMei. Diam-diam ada beberapa akun yang justru curhat, karena merasa tidak berani jujur mengungkapkan cinta kepada orang yang ia cintai, kini menyesal karena orang yang ia cintai sudah berpasangan dengan orang lain. Ia jujur mengakui penyesalan kenapa ia tidak mengungkapkan perasaannya. Tapi ia juga merasa berdosa karena ia justru mengungkapkan kejujuran penyesalannya. Ada lagi bahkan yang dengan jujur mengungkapkan, jika hubungan orang yang ia cintai itu tidak langgeng, ia siap menempati posisinya sebagai pengganti pasangan. Jujur sekali bukan? Tapi dosa tidak?

Mungkin juga, mereka yang mengungkapkan perasaan kepada Mbah Nun akhir-akhir ini di media sosial karena memang dia sedang jujur terhadap perasaannya kepada Mbah Nun. Mungkin mereka tidak menemukan media yang tepat untuk mengungkapkan kejujuran perasaannya kepada Mbah Nun, dan mereka hanya memiliki akun media sosial untuk meluapkan perasaannya itu. Mungkin mereka memang tidak memiliki kesempatan seperti kita untuk datang ke Maiyahan, ikut bergembira bersama, menikmati suasana kehangatan, keakraban, kegembiraan untuk sinau bareng, sholawatan bareng, ketawa bareng, ngopi bareng, hujan-hujanan bareng, basah kuyup juga bareng seperti semalam di Kenduri Cinta. Karena memang mereka belum berkesempatan untuk merasakan itu semua, maka mereka mengungkapkan kejujuran hatinya melalui media sosial.

Semalam, di Kenduri Cinta hadir Ust. Noorshofa Thohir, yang sudah beberapa bulan tidak hadir salah satunya karena sempat terbaring sakit. Beliau semalam hadir bersamaan dengan Mbah Nun, bahkan sebelumnya sempat cangkruk bersama Mbah Nun. Ust. Noorshofa pun mengungkapkan kejujurannya bahwa ia merasa sangat rindu dengan Kenduri Cinta, rindu dengan pertemuan bersama jamaah Maiyah di Kenduri Cinta.

Jamaah yang sudah lama datang ke Kenduri Cinta pasti mengenal siapa Ust. Noorshofa. Materi-materi yang dibawakan di Kenduri Cinta selalu dibumbui dengan candaan-candaan yang tentu saja renyah, segar, dan selalu membuat kita semua tertawa. Pesan-pesan mendalam yang disampaikan oleh beliau mengalir, dimulai dengan pesan agar kita bersyukur karena masih diberi kesempatan oleh Allah untuk merasakan bulan Ramadlan, berlanjut dengan pesan agar jangan sekali-sekali menyakiti perasaan Ibu kita, dipuncaki dengan sebuah pesan yang dinukil dari sebuah hadits Rasulullah Saw, bahwa yang menyebabkan kita masuk surga itu bukan karena ibadah kita, melainkan karena rahmat Allah kepada kita.

Setelahnya, Mbah Nun memulai mengudar tema Kenduri Cinta kali ini. “Dalam satu detik, kita hanya mampu merekam 40 frame kejadian, sementara di alam bawah sadar kita ada 1,2 juta frame yang terekam dalam satu detik itu”, Mbah Nun mengawali. Dari pantikan awal ini saja kita sudah diberi informasi, bahwa ada lebih banyak hal yang tidak kita ketahui dibanding yang kita ketahui.

Hidup memang penuh keghaiban. Mbah Nun semalam juga sedikit mentadabburi ayat-ayat awal di surat Al Baqoroh; dzalika-l-kitaabu laa raiba fiihi hudan li-l-muttaqiin. Bahwa Al-Qur`an menjadi petunjuk bagi mereka yang bertaqwa, dan puasa yang sedang kita jalani selama bulan ramadlan ini adalah salah satu cara yang disediakan oleh Allah Swt untuk mengantarkan kita menjadi orang yang bertaqwa. Sementara, sudah sejak lama juga Mbah Nun memberikan penjelasan kepada kita bahwa taqwa itu adalah sikap waspada yang harus dimiliki oleh setiap manusia. Waspada terhadap apa saja, maka relevansi Al-Qur`an sebagai petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa dijelaskan di ayat berikutnya; alladziina yu`minuuna bil-ghoibi wa yuqiimuuna-sh-sholaata wa mimma rozaqnaahum yunfiquun. Setidaknya, di awal ketika kita membaca Al-Qur`an sudah ada pakem yang dijelaskan oleh Allah Swt mengenai siapa-siapa saja mereka yang termasuk dalam golongan orang-orang yang bertaqwa.

Semua yang hadir terbukti menikmati kegembiraan Maiyahan di Kenduri Cinta. Meskipun lewat tengah malam hujan turun dengan intensitas yang deras, sempat reda, kemudian sempat turun lagi, dan cukup deras, jamaah tidak bergeming. Secara alami kemudian mereka mengatur posisi duduk, sebagian berteduh di bawah tenda, yang tidak kebagian berteduh, mengubah fungsi terpal alas duduk menjadi payung yang dibentangkan bersama-sama untuk berteduh. Dengan mudahnya mereka semua semalam merecehkan tulisan yang dibaca oleh Fahmi. Kegembiraan ber-Maiyah tidak akan berkurang sedikitpun bagi mereka.

Mbah Nun semalam mengajak jamaah Kenduri Cinta untuk bersholawat, setelah beberapa jamaah diminta oleh Mbah Nun untuk memimpin sholawatan, Mbah Nun kemudian juga mengambil peran untuk mengajak jamaah bersholawat bersama-sama, dipandu oleh Mbah Nun. Kira-kira, apa yang bisa membayar kebahagiaan di Kenduri Cinta semalam?

Mbah Nun membangun kembali kesadaran bahwa manusia itu makhluk yang sangat terbatas pengetahuannya. Tidak mungkin manusia mampu mengetahui semua hal yang ada di dunia ini. Jangankan untuk hal yang bersifat makro, dari makanan yang kita makan sehari-hari saja, kita tidak mungkin mengetahui bagaimana proses awal mula produksinya, hingga sampai ke piring yang ada di hadpaan kita. Bahkan ketika sudah kita makan, kita juga tidak mengetahui bagaimana organ pencernaan kita mengolahnya. Kita beriman saja, kita percaya saja bahwa itu sehat. Mbah Nun kembali berpesan; “Terhadap yang kamu ketahui, gunakan ilmu. Terhadap apa yang tidak kamu ketahui, gunakan iman”. 

Dan sudah pasti, lebih banyak hal dalam kehidupan kita ini yang kita hanya berbekal dengan iman. Andaikan kita diberi kesempatan untuk mengetahui semua hal, belum tentu kita mampu menyangga pengetahuan yang kita miliki itu. Bisa jadi, kita justru akan terbebani dengan pengetahuan yang kita miliki. Mengetahui banyak hal tidak sama dengan kebahagiaan, justru dengan tidak mengetahui beberapa hal, kita bisa merasakan kebahagiaan.

Terima kasih Mbah Nun, kami bergembira dan bersyukur karena Allah mempertemukan kita di Maiyah. Kegembiraan kami ini tidak akan pernah bias digantikan dengan apapun saja di dunia ini. Kerinduan yang selalu kami bawa pada setiap Maiyahan, selalu tertuntaskan. Namun juga kemudian kami membawa kembali kerinduan itu pulang ke rumah, untuk kemudian harus kami tuntaskan pada Maiyahan berikutnya. Terima kasih, Mbah Nun. Salam takdzim kami.

Buku Cak Nun