Tergesa-gesa

Salah satu dampak dari industrialisasi dan kemajuan teknologi adalah lahirnya budaya instan yang ditandai dengan keinginan untuk mencapai segala sesuatu dengan cepat. Ini pada gilirannya membentuk jiwa manusia yang diliputi ketergesa-gesaan. Tergesa-gesa dalam menyikapi wacana, dalam merespons pendapat orang lain, dalam mengambil keputusan, dalam menilai seseorang, dalam menerima berita, dan lain sebagainya.

Tergesa-gesa beda dengan cepat. Nabi Saw bersabda: “Al-‘Ajalatu min asy-syaithan” (ketergesa-gesaan itu termasuk perbuatan setan). Padahal Nabi Saw sendiri digambarkan dalam sirah dan hadits cenderung cepat dalam berjalan (Yamsyi masyyan qawiyyan sari’an). Maka berbeda antara cepat dengan tergesa-gesa.

Kecepatan itu terukur, sedangkan ketergesa-gesaan tidak ada ukurannya. Hidup di era digital ini rasanya selalu dikejar-kejar waktu. Setiap detik adalah uang, time is money. Sehingga tidak ada waktu bagi manusia untuk bertafakkur. Padahal tafakkur adalah suatu yang amat penting bagi manusia yang dikaruniai hati dan akal pikiran oleh Sang Maha Pencipta.

Buku Cak Nun