Tensi Hidup Lebih Woles di Mandar

Bang Abu ini, kalau Mbah Nun datang, dia hanya bisa memeluk dan menangis. Seseorang  menceritakan tentang Pak Abu Bakar, anggota Teater Flamboyan yang di hari pertama teman-teman Rihlah Mandar menyambangi rumahnya.

Bagaimana Pak Abu bisa mengagumi Mbah Nun? Sebuah pertanyaan dilontarkan. Lalu Pak Abu menceritakan bagaimana pengalaman pribadinya nyata-nyata ditolong oleh Mbah Nun.

Pak Abu Menambahkan, “Bagaimana tidak kagum, Cak Nun yang orang besar, tokoh Indonesia, dipuji banyak orang di mana-mana, bahkan Beliau adalah tokoh dunia, sedangkan kami-kami ini siapa. Hanya orang kecil. Tetapi Cak Nun kok mau menganggap kami, menjadikan kami saudara.”

Respons dan jawaban Pak Abu dengan wajah lugunya membuat teman-teman hanyut dalam haru. Wakijo yang duduk di samping Sita, mereka berdua nampak menyimak antusias Yunan dan Hilmy yang sedang melakukan wawancara secara cair dengan tidak dapat menyembunyikan mata berkaca-kaca mereka.

Pak Abu adalah ayah dari enam orang anak yang sehari-hari berjualan tabung gas. Terlihat dari perawakannya, sudah kentara bahwa ia adalah seorang petani. Ya, ia memang mempunyai sepetak sawah di Pinrang. Hasil dari sawahnya sebagian untuk makan, selebihnya dijual. Untuk belanja lauk sehari-hari, ikan yang murah bisa didapatkan di sini dalam keadaan segar.

Begitulah tensi hidup masyarakat di sini yang saya jumpai terasa lebih woles ketimbang tetangga-tetangga di kota tempat di mana saya tinggal. Orang di sini jangankan butuh biaya untuk pergi ke mall, bahkan untuk menjumpai minimarket saja penduduk Tinambung baru bisa menemui dengan terlebih dahulu pergi ke Kabupaten sebelah, yakni di Majene sana.

Mbah Nun memang memiliki ikatan emosional yang sangat kuat dengan kerabat Maiyah di Mandar ini. Pertama kali datang waktu itu Mbah Nun diajak oleh Alisyahbana, tokoh terkemuka asli Mandar yang tinggal di Jogja. Pada sekitar 1987, Mbah Nun mulai merajut persaudaraan Al-Mutahabbina Fillah dengan saudara-saudara di Mandar.

Mereka adalah suadara tua yang tergabung di dalam Teater Flamboyan, yang sampai hari ini sudah melahirkan anak-anak yang aktif di Maiyah, mengurus simpul Papperandang Ate dengan tetap merawat silaturahmi yang baik lintas generasi.

Tanah Mandar adalah sebutan untuk persekutuan 14 kerajaan Nusantara yang ada di sisi barat Pulau Celebes ini. Tinambung, tempat tinggal sebagian besar Jamaah Maiyah yang tergabung dalam Teater Flamboyan ini sendiri masuk dalam wilayah kerajaan Balanipah. Kerajaan yang terkenal dengan epos kesetiaan kepada raja, dan kesetiaan persaudaraan.

Di Tanah Mandar ini ada seorang tokoh tersohor, yakni Imam Lapeo. Beberapa orang mengangumi Mbah Nun sebagai titisan Imam Lapeo karena dalam banyak peran, Mbah Nun mengerjakan apa yang dahulu Imam Lapeo kerjakan. Termasuk juga didapatinya cerita-cerita kemiripan dalam hal kharisma dan karomahnya. Seperti halnya Imam Lapeo, Mbah Nun pada persentuhan beberapa dekade lalu dengan all out menemani orang-orang jalanan, mengajak orang mengalami pengalaman empiris keilahian, di antara dampaknya mereka bertaubat dari urusan ngombe, mengasyiki dunia teater dan ketika tahun bergulir, mereka ‘menjadi orang’ pada karier dan perannya masing-masing.

Pak Abu dan pandangan sebagian masyarakat Mandar terutama daerah Kecamatan Tinambung terhadap Mbah Nun adalah bentuk kekaguman yang otentik. Mereka mengagumi Mbah Nun karena pendefinisian yang mereka jumpai dan rasakan sendiri. Hal yang tidak dialami oleh saya dan beberapa Jamaah Maiyah di Jawa yang mengagumi Mbah Nun karena ikut-ikutan orang lain saja, atau karena tergumun-gumun oleh popularitas Beliau.

Maka wajar kalau orang seperti saya sulit membedakan kekaguman saya kepada Mbah Nun dibandingkan kekaguman pada agamawan dan budayawan yang hari ini sama-sama menjadi orang populer di negeri ini.

Pada generasi berikutnya setelah Imam Lapeo, ada tokoh kesohor karena kesederhanaan dan kejujurannya asli dari Mandar, yakni Baharudin Lopa.

Pejabat nasional asal Mandar di era Presiden Gus Dur ini juga adalah orang yang mengagumi sekaligus dikagumi oleh Mbah Nun. Bagaimana tidak kagum, ketika Beliau menjabat Dirjen Lembaga Pemasyarakatan dan dirinya dibutuhkan untuk hadir mengisi acara di kampung halamannya di Mandar, Beliau tidak mau menggunakan dana perjalanan dinas dari negara. Begitu hati-hatinya Beliau atas jabatan.

Ada pengalaman seru ketika Bang Tamalele, Bang Abu Bakar, dan teman-teman Teater Flamboyan terancam masuk penjara bersama-sama. Itu lantaran mereka menjadi panitia acara di mana Baharudin Lopa, Husni Jamaludin, dan Mbah Nun menjadi pembicaranya sementara kala itu di tahun 1997 Mbah Nun sedang dicekal untuk berbicara di beberapa daerah.

Akhirnya jalan tengah pun diambil, acara tetap digelar, Mbah Nun tetap hadir tetapi tidak ikut menjadi pembicara. Hingga acara kemudian berlangsung selesai, panitia berhasil mengupayakan tiga tokoh itu untuk duduk bersama mengobrol di sebuah rumah yang sudah disiapkan.

Baharudin Lopa menyebut Mbah Nun tidak sebagai penyair, tetapi pujangga besar. Masih dikisahkan oleh Bang Tamalele bahwa kemana-mana Baharudin Lopa selalu membawa buku puisi Mbah Nun, “Cahaya Maha Cahaya”.

Pada momentum itu pula, Mbah Nun menyematkan nama Ayyatullah Baharudin Lopa, karena menurut Mbah Nun Beliau telah menjadi jalan tersampaikannya ayat-ayat Allah SWT. Masih pada momentum itu, Mbah Nun mendoakan Beliau kelak menjadi pejabat tinggi di negeri ini, dan benar saja ketika pemerintahan Presiden Gus Dur, Beliau menjabat sebagai Jaksa Agung. Meski wafat di masa tugasnya, tetapi nama dan kiprahnya membanggakan.

Pada saat orang cemas menghormati dan meninggikan orang lain was-was kalau hal itu berlebihan, yang saya dapati dari kisah-kisah di sini kekaguman begitu indah karena adanya di cuaca yang kondusif bernama cinta dan kasih sayang.

Pemandangan kagum-mengagumi yang saya dapati seharian ini, jauh lebih indah ketimbang seliweran saking sinis dan menjatuhkan yang ramai di timeline media sosial Indonesia hari ini.

Buku dan Merchandise