Teknologi Batin, Energi Alhamdulillah Hingga Lingkar Pandang Kebahagiaan

Catatan Sinau Bareng CNKK di PLN Yogyakarta, 13 Mei 2019

Lazim diketahui bahwa perjalanan listrik di negeri ini dimulakan sejak tahun 1897. Kala itu tentu masih di bawah rezim pemerintah Hindia-Belanda. Rezim berlalu berganti dengan rezim lain, baru malam ini rasanya kita mendengar sumber daya energi dari kalimat thayyibah. Tentu saja ini bukan pembahasan yang benar-benar teknis, tapi itu sempat terucap oleh seorang petinggi PLN yang menjadi shahibul bait atas terselenggaranya Sinau Bareng bersama Mbah Nun dan KiaiKanjeng tanggal 13 Mei 2019 Masehi.

Sejak awal, Mbah Nun mengajak para hadirin untuk terlebih dahulu menggali dan mempresisikan apa dan bagaimana itu yang disebut kalimat thayyibah. Maka pengetahuan Kiai Muzammil yang berasal dari kitab-kitab kuning cukup ada gunanya pada momen seperti ini. Mbah Nun misal membuka dialog pertama dengan bertanya mengenai asal kata “thayyib”. Kemudian yang juga sangat penting adalah Mbah Nun menanyakan, apakah perumusan kalimat thayyibah ini adalah langsung dari Allah dan Rasulullah Saw atau sekadar usaha intelektual-spiritual agamawan terdahulu? Ini sangat penting karena kita berada pada masa di mana terlalu banyak perumusan dari kelas agamawan yang kemudian disamasakralkan dengan rumusan dari Allah dan Rasulullah Saw sendiri.

Dari dialog Mbah Nun dengan Kiai Muzammil kita mendapat pancaran ilmu, oleh Mbah Nun ini dijangkepi dengan menyatakan, “Supaya kita tidak melakukan sesuatu yang kita tidak mengerti asal-usulnya mending kita belajar sejak awal”. Awalnya listrik mengalir menggantikan lampu gas di seantero Batavia dan sebagian pulau Jawa. Lampu gas sendiri (dengan beberapa varian perubahannya) mulai beroperasi sejak 1860an. Pulau Jawa adalah salah satu penikmat modernitas sangat awal di dunia, salah satu wilayah yang sangat awal merasakan penerangan dan transportasi modern karena itu banyak proyek modernitas yang tersangkut dalam hal yang sekarang ini dianggap tradisi. Sejak dulu hingga sekarang baru kali ini rasanya ada wacana untuk menggapai energi Alhamdulillah dan kalimat thayyibah sebagai sumber energi, di kantor PLN pada gelaran Sinau Bareng yang telah mencapai titik penerangan ke 4066 pada malam hari ini.

Tiga kelompok yang berisikan para pemuda dari berbagai latar belakang akhirnya terbentuk. Mereka diberikan amanat untuk memilih salah satu kalimat thayyibah dan merefleksikannya berdasarkan pengalaman dan relevansinya saat ini. Karena ini Sinau Bareng, bukan sekadar pengajian dengan isi ceramah yang sudah dipersiapkan bulat-bulat oleh penampil sejak awal tanpa punya konteks dan titik temu dengan kebutuhan hadirin. Dari uraian dan penjabaran mereka yang berada di panggung inilah kemudian Mbah Nun mengajak kita melakukan penggalian dan pendalaman. Sehingga kita semua punya pengalaman yang sama tapi beda juga di setiap Sinau Bareng dan Mbah Nun juga mengingatkan bahwa, “Satu pengalaman tidak dapat dipatahkan oleh pengalaman lainnya”. Karena setiap pengalaman relevan bagi si empunya dan mungkin tidak relevan bagi orang lain. Kalau anda wiridan dengan bacaan tertentu menjadi baik, mungkin itu pengalaman anda yang belum tentu pas untuk orang lain, kan? Masa sama.

Kelompok pertama menjabarkan sudut pandangnya mengenai kalimat Alhamdulillah, mengenai kebersyukuran atas segala keadaan dan kondisi. Walau juga Mas yang sedang presentasi ini kemudian menyempatkan untuk bertanya beberapa hal yang membuatnya sedikit bingung. Terutama mungkin pertanyaan mengenai bagaimana nasib kaum yang berada di pedalaman belum pernah mendengar Islam dan kemudian mereka mati? Uniknya, Mas ini memberi alasan kenapa bertanya pada Mbah Nun. Menurutnya Mbah Nun yang bisa memberikan jawaban yang logic dan rasional.

Mbah Nun memberi pengantar singkat bahwa selama lebih dari separuh hidup Rasulullah Saw beliau tidak melaksanakan shalat karena memang belum ada perintah shalat. Kiai Muzammil melengkapi dengan rujukan dari kitab-kitab klasik dan ternyata walau Mbah Nun tidak merujuk pada kitab-kitab tertentu jawaban Mbah Nun juga senada dengan apa yang Kiai Muzmmil ambil sebagai dasar pijak teori. Mungkin karena logic itu tadi. Mbah Nun juga mengajak kita mengingat beberapa tokoh sesepuh yang sudah lewat masanya. Ada seorang Kiai di Jawa Tengah bagian utara yang dipanggil Kiai Alhamdulillah karena selalu mengucapkan Alhamdulillah itu juga dikisahkan oleh Mbah Nun untuk melengkapi pemuda yang tadi presentasi, karena tampaknya sedikit kesulitan menyusun kata sehingga kadang keluar ekspresi semacam, “Saya bersyukur jadi manusia, bukan jadi lele.”

“Kita diajari oleh budaya barat yang namanya sekulerisme itu membuat seolah ada ilmu agama dan ada ilmu yang bukan agama. Padahal semua hal pasti berhubungan dengan agama” ujar Mbah Nun. Dari sini kita diajak untuk melihat segala sesuatu lebih utuh. Mbah Nun mekemparkan pertanyaan pada hadirin, “Ilmu agama yang lumrahnya diketahui misalnya apa?” dan jawaban yang muncul misalnya ilmu aqidah, akhlaq, ilmu fiqh dllsb dan, “Jadi (dengan pemahaman seperti itu) yang bukan bidang agama tidak perlu akhlaq?” Pembongkaran konsep lama ini mengundang tawa, bahagia dan mesra. Di sini kita belajar utuh, pagar bukan membatasi cukup dihormati. Pertanyaan yang menggelayut di kepala si penulis catatan ini sebenarnya, kalau tidak ada batasan ilmu agama dan bukan agama maka kenapa pula kita perlu kenal istilah ahli agama?

Selainnya masih ada beberapa pemuda berani yang tampil dan menyajikan kemesraan dengan versi mereka sendiri. Beberapa punya perbedaan yang cukup tajam tapi tidak mengganggu keharmonisan, seorang pemuda mengaku berasal dari NTB merupakan konstituen seorang politisi yang paling sering bikin ramai jagat Twitter. Seorang lain menggelorakan gema takbir ketika mempresentasikan takbir sebagai kalimat thayyibah yang dipilihnya untuk dielaborasi. Seorang pemuda lain lagi, melantunkan tahlil dengan sendu berurai air mata hingga kemudian berakhir dengan minta dipeluk oleh Mbah Nun. Beberapa hadirin tersentuh, beberapa mulai menemukan lagi titik humor dengan menyorak, “Oooyy moduss…”

Sinau Bareng malam ini kita pulang balik dari air mata dan tawa. Mbah Nun kemudian membulatkan bahwa sesungguhnya setiap kalimat thayyibah mengandung unsur kalimat thayyibah lain di dalam dirinya. Pemilihan kalimat yang berbeda hanya urusan takaran emosi dan konteks ketepatan pengucapannya. Selebihnya, semuanya saling terkait dan mengisi satu sama lain. Ada kebersyukuran Alhamdulillah dalam Allahu Akbar, misalnya begitu dan begitu terus hingga Laa ilaaha illallah.

Apa yang sedang dilatihkan di Sinau Bareng ini bukan sekadar spiritual-intelektual belaka. Ini adalah teknologi batin yang menjadi lambaran utama kita memandang dunia dan seisinya. Pada penghujung acara Mbah Nun memberi satu poin yang penting bahwa, “Bukan sekadar sudut pandang tapi juga lingkar pandang.” Satu kalimat singkat itu tampaknya sangat membuka pemahaman mengenai banyak hal.

Mbah Nun mengambil perumpamaan dari Ka’bah dia berbentuk persegi tapi dilingkari dengan bulatan. Karena dalam hidup ini banyak sekali hal yang tidak bisa kita pahami hanya dengan satu dua sudut pandang yang kita miliki. Ka’bah sebagai metafor Rumah Allah, tentu kita tidak begitu konyol juga menyimpulkan “Rumah Allah” benar-benar Allah berumah di situ. Ka’bah secara teknis geografis ada di Mekkah, di daratan Arab sana dengan berbagai budaya, bahasa, kultur dan peradabannya sendiri. Tapi Ka’bah juga selalu kita bawa di dalam hati kita.

Bukankah Sinau Bareng dan Maiyah ini adalah juga sebuah rangkaian thawaf untuk menyambungkan lingkar pandang kita? Dan menjalinnya menjadi sumber energi kekal dan terbarukan bernama energi syukur. Kami bersyukur dan bahagia atas anugerah bernama Maiyah ini ya Allah. Alhamdulillah. (MZ Fadil)

Buku Cak Nun