Teguh dan Tekad Bermaiyah

Melihat kerumunan orang, kebanyakan anak muda, dari parkiran utara TKIT Alhamdulillah, sekitar pukul 20.00 WIB, serupa menyaksikan antusiasme pencarian ilmu sekaligus kenikmatan yang begitu luar biasa. Kekuatan visual semacam itu jamak menuai tanda tanya bagi sebagian besar orang. Pertama-tama kenapa manakala pengajian Maiyah, khususnya Mocopat Syafaat, selalu dihadiri anak muda secara kolosal, dan peristiwa “kebudayaan” ini telah berlangsung lama — setidaknya menurut pengamatan saya sejak tahun 2013 saat pertama kali ke Mocopat Syafaat. Acara demikian berlangsung di pelbagai tempat, baik dusun maupun kota, dengan aneka tema pembahasan, yang kesemuanya dipersambungkan oleh kehadiran Cak Nun dan KiaiKanjeng.

Barangkali dua poin kenapa peristiwa Maiyah selalu digandrungi banyak orang antara lain “antusiasme mencari ilmu” dan “keteguhan terhadap kesadaran berkembang”. Yang pertama menitikberatkan pada dorongan mendapatkan pengetahuan, dialektika, dan pengalaman di Maiyah, sedangkan yang kedua menekankan sikap reflektif untuk terus tumbuh sebagai manusia. Kedua sifat tersebut tentu saja merupakan generalisasi, namun setidaknya dapat menengok sejauh mana dan bagaimana jamak orang masih teguh bermaiyah.

Sebagaimana Mocopat Syafaat digelar dan dibuka, Mas Ramli mengawali dengan mendaras ayat suci di panggung. Ia mendampingi para jamaah untuk tadarus bersama. Ayat suci yang dinikmati meliputi Surat AL-Hasyr, Ar-Rahman, dan Al-Fath. Sekitar kurang-lebih 30 menit jemaah Maiyah Mocopat Syafaat dipandu untuk menyelamkan diri ke dalam situasi khidmat melalui ayat-ayat tertulis di Al-Qur’an. Beberapa jamaah membawa Qur’an cetak berukuran saku, sementara kebanyakan membuka aplikasi Qur’an digital di telepon pintarnya.

Usai mendaras ayat suci, pegiat Nahdlatul Muhammadiyin (NM) dan Rembuk Mocopat Syafaat (RMS) memandu prolog acara. Tema yang dibahas seputar tadabbur Tajuk Cak Nun bertajuk Siaga Kapak dan Tongkat. Tajuk tersebut dipublikasikan di caknun.com pada 4 November 2019. Tulisan Cak Nun ini diawali dengan dua penggalan alinea sebagai berikut.

Pertama, “Kalau ada kalimat tulus ‘Saya bahagia losssss di Maiyah…’: ia jujur, benar, dan tepat kalau yang mengekspresikan adalah para pelaku Maiyah. Kedua, “Kalau saya atau para Marja’ yang menyatakannya: itu ‘GR’, kesombongan, yang merupakan benih kekuasaan keduniaan. Maka Akhlaq yang mengikat leher saya adalah kewajiban bertanya: ‘Kalau engkau menderita di Maiyah, segera tinggalkan dan kembalilah ke dunia’.

Keseluruhan inti tajuk demikian menyasar pada agar tiap jamaah Maiyah senantiasa siaga dalam menghancurkan “berhala dunia” seperti hedonisme, eksistensialisme, materialisme, dan lain sebagainya. Berhala-berhala semacam itu kerap kali menyita perhatian, bahkan dijadikan orientasi utama bagi “manusia modern” — sedangkan perhatian yang seharusnya diutamakan kepada Allah justru diabaikan, baik disadari maupun tidak.

Tajuk itu sebetulnya diawali dengan tulisan Cak Nun berjudul Menderita Karena Maiyah. Keduanya masih setarikan napas. Pada sesi kedua, setelah tajuk Cak Nun didiskusikan, Mas Sabrang merespons. Ia mewedar matriks penderitaan yang dapat dilihat dari empat sisi: pikiran, hati, dan lingkungan sosial. “Dan dua titik koordinat kiri maupun kanan itulah yang menentukan posisi penderitaan yang kamu alami,” tuturnya.

Lebih lanjut, Mas Sabrang memperdalam analisisnya terhadap matriks penderitaan. “Jika terdapat salah satu layer (lapisan) berposisi di kiri yang berarti minus, maka ada penderitaan yang mungkin belum terselesaikan untuk kau alami,” lanjutnya. Mas Sabrang menjelaskan pula tiga lapisan teratas dalam matriks penderitaan. Menurutnya, lapisan teratas itu antara lain pikiran, hati, dan fisik. “Yang ketiga itu bisa kamu atasi sendiri,” tambahnya. Sedangkan lapisan terakhir, tegas Mas Sabarang, “Yang berupa lingkungan sosial tak dapat diatasi atau diubah oleh diri sendiri.”

Mas Sabrang memfokuskan pada diri yang berdaulat agar mampu menjaga ketangguhan personal. Apa pun keadaan di luar diri, kalau direspons dengan pikiran dan hati yang paripurna sekaligus seimbang, maka tak akan berdampak bagi individu. Poin selanjutnya yang Mas Sabrang tekankan adalah proses mengalami segala kemungkinan. Di situ posisi menyediakan diri untuk terus belajar dari sumber mana pun menjadi keniscayaan dalam hidup. Proses mengalami merupakan sesuatu yang tak ternilai bagi manusia.

Terhadap penderitaan yang menjadi kata kunci perbincangan tema di Mocopat Syafaat, Kiai Muzammil mengaitkannya dengan harapan akan tercapainya target. “Kita menderita karena mempunyai target yang tidak tercapai. Maka dari itu, jangan menargetkan sesuatu yang tidak abadi jika tidak ingin menderita,” ujarnya. Itu kenapa Kiai Muzammil mengatakan kalau sesuatu belum terwujud, maka hendaknya dipertebal kembali posisi sabarnya.

Menurutnya, terdapat tiga tingkatan sabar. Yang terendah dan tertinggi. “Sabar yang terendah itu sabar dalam menghadapi kesulitan, musibah, atau bersifat material. Kedua, sabar yang lebih tinggi itu teguh, pantang menyerah dalam melakukan sesuatu. Ketiga, sabar terakhir saat menderita,” tegasnya. Melampaui kesabaran, sebagaimana tuturan Kiai Muzammil, tiap orang selalu mempunyai takdirnya masing-masing, sehingga seyogianya tak terlalu sedih bila harapan belum tertunaikan.

Kebanyakan orang menderita karena kurang memahami titik batas. Kiai Muzammil mengatakan — tuturan ini dinyatakan kalau mengutip dari Mas Sabrang — bahwa orang menderita disebabkan tak memahami batas minimal dan maksimal. “Sehingga orang begitu menempatkan sesuatu tidak sesuai tempatnya alias dzalim,” pungkasnya.

Lainnya

Menyuburkan Kebun Maiyah

Mocopat Syafaat Juni 2017

Buku dan Merchandise