Teater Kehidupan

Gelanggang Mahasiswa Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, sebuah ruangan aula yang cukup luas multi fungsi. Biasanya untuk arena olah raga: basket, badminton atau latihan bela diri. Tahun-tahun 1980-an di sekitar kampus belum ada masjid, oleh aktivis mahasiswa muslim difungsikan sebagai tempat kegiatan keagamaan. Tiap hari Jumat dimanfaatkan sebagai tempat ibadah shalat jumat. Sepanjang bulan Ramadlan berubah menjadi masjid untuk shalat tarawih berjamaah, dan aktivitas keagamaan, yang diorganisir oleh lembaga kemahasiswaan bernama Jamaah Shalahuddin. 

Ramadlan pertengahan 1980-an Jamaah Shalahuddin mengadakan kegiatan Pesantren Seni yang melibatkan Emha Ainun Nadjib dan Agung Waskito (alm) untuk memberikan workshop teater. Dari Pesantren Seni ini lahir Sanggar Shalahuddin yang di dalamnya ada Agung Waskito, Wahyudi Nasution, Goetheng Iku Ahkin, Seteng Agus Yuniawan, Slamet Jebeng Jamaluddin, Bagus Jeha, Aprinus Salam dan lain-lain. Sanggar Shalahuddin inilah yang pertama kali mementaskan Syair karya Emha Ainun Nadjib “Lautan Jilbab” di Yogyakarta yang mendapat sambutan luar biasa dari audiens. Sebuah pentas yang bukan hanya dinikmati oleh kalangan teater saja, tapi juga merambah ke penikmat orang-orang awam terhadap seni pertunjukan teater yakni kalangan mahasiswa muslim.

Rumah Patangpuluhan adalah rumah kreativitas. Agung Waskito, dengan Teater Jiwa, akan mementaskan karya sendiri, Dajjal, di Makassar, dengan pemain-pemain Seteng Agus Yuniawan, Whani Darmawan, Jebeng, Nina, Labibah Zain, Otto Sukatno, Aly D. Musyrifa dan lain-lain, dengan ilustarsi musik oleh Sapto Rahardjo.

Sapto Rahardjo (alm) banyak terlibat dalam pentas-pentas berbagai macam teater yang menginduk di lingkaran Patangpuluhan. Sebagai musisi, Kang Sapto sering diundang ke berbagai negara. Kreativitas musikalitasnya sangat liar, sejak SMA sudah mengeksplorasi musik dari kaleng bekas. Di eranya, ia termasuk yang pertama memasukkan nada-nada gamelan dalam zynthesizer, jauh sebelum ada aplikasi musik di internet.

Sementara Teater Dinasti (Ampas) sedang mempersiapkan pentas “Keajaiban Lik Par” karya Emha Ainun Nadjib, yang khusus untuk mengeksplorasi seni pantomim Jemek Supardi. Sebelumnya, lakon “Drs. Mul” dipentaskan di THR (Taman Hiburan Rakyat, eks Terminal Bus, yang kelak jadi komplek Taman Hiburan Purawisata) dan drama ini juga ditayangkan di TVRI Yogyakarta.

Agung Waskito memang “gila,” berani sekali di tengah-tengah persiapan “Dajjal” ke Makassar, dalam waktu bersamaan latihan keras untuk pentas hajat besar Muhammadiyah: Muktamar Muhammadiyah di Yogyakarta, menyutradarai karya Emha yang lain “Keluarga Sakinah.” Lakon ini dimainkan oleh Seteng, Jebeng, Bahtiar Ivan Nuri dan lain-lain ditambah siswi-siswi Muallimat Muhammadiyah dengan Teater Aisiyah. Fadjar Suharno (Teater Dinasti) sendiri membina teater yang lain Kelompok Keseratus yang dimotori Syaiful, adik angkatnya Emha.

Kegiatan Teater Dinasti agak mereda, tapi teater yang lain tetap berkarya. Sanggar Shalahuddin mementaskan “Sunan Sableng dan Baginda Faruq” karya Emha di Purna Budaya UGM Yogya, Teater Jiwa mengangkat lagi “Lautan Jilbab” di Lapangan Willis Madiun yang ditonton sekitar 35.000 orang (berdasarkan tiket yang terjual).

Goetheng, Seteng, Jebeng, Yudi Ahmad Tadjudin, Kiki, Piyel, Whani Darmawan, Kenyut, Bahtiar Ivan Nuri membentuk teater baru, Kelompok Titian. Lautan Jilbab dipentaskan lagi di Go Skate Surabaya atas hajat Universitas Muhammadiyah Surabaya. Kelompok Titian juga mementaskan “Santri-santri Khidir” atas permintaan panitia dari ITS Surabaya, di Islamic Center. Santri-santri Khidir didukung juga aktor kawakan Joko Kamto dan ilustrasi musik tetap dipegang oleh Sapto Rahardjo, dan dibantu oleh Novi Budianto.

Aura Patangpuluhan memang luar biasa, muncul lagi Teater Burdah yang dikomando oleh mantan mahasiswa dari Mesir, Hamim Ahmad (sempat merantau ke Jerman, sehingga saling bertemu dengan Emha, yang juga sama-sama sedang menggelandang di Eropa) yang mengangkat perjalanan spritual Imam Abu Abdillah Al-Bushiri, penulis Kasidah Maulid Al-Burdah. Lakon drama Burdah sempat dipentaskan di Yogyakarta dan Jakarta, dengan pemain antara lain: Seteng Agus Yuniawan, Labibah Zain, Sudarmanto dan lain-lain.

Buku Cak Nun